Kementrans Percepat Rehabilitasi Sekolah di Kawasan Transmigrasi
Kementerian Transmigrasi
Perubahan pola transmigrasi
Viva menjelaskan bahwa pola transmigrasi kini beralih dari model top down ke bottom up. Perubahan ini memberi ruang inisiatif bagi pemerintah daerah untuk membuka kawasan baru, sehingga muncul permintaan lokal.
Dulu transmigrasi dilakukan secara top down atau langsung dari program pemerintah pusat. Sekarang dilakukan secara bottom up, desentralisasi, atas inisiatif atau keinginan pemerintah daerah sendiri,
Hasilnya, menurut Viva, ada sekitar 60 proposal dari bupati untuk membuka kawasan transmigrasi baru, yang menunjukkan minat daerah dalam program ini.
Rehabilitasi sekolah: target dan cakupan
Untuk memperbaiki fasilitas pendidikan, Kementrans bersinergi dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen). Program ini menyasar pemenuhan kebutuhan guru dan perbaikan infrastruktur sekolah di kawasan transmigrasi.
Kemendikdasmen telah membidik pembangunan dan rehabilitasi sekolah di 70.000 titik. Dari target ini, ribuan sekolah di kawasan transmigrasi akan dimasukkan ke dalam program kerja sama kedua kementerian.
Terbukti transmigrasi mampu menciptakan kawasan pertumbuhan. Sehingga ada 60 proposal dari bupati untuk membuka kawasan baru transmigrasi,
Program di lapangan
Secara operasional, Kementrans sudah membantu pembangunan dan rehabilitasi beberapa sekolah. Di Kawasan Transmigrasi Kikim, misalnya, perbaikan mencakup ruang kelas dan fasilitas toilet.
Viva menambahkan bahwa setiap tahun anggaran program ini dilaksanakan di lebih dari seratus sekolah yang tersebar di 154 kawasan transmigrasi di seluruh Indonesia.
- Perbaikan ruang kelas
- Pembangunan dan renovasi fasilitas toilet
- Pemenuhan kebutuhan guru dan tenaga pendukung
Pengalaman daerah dan harapan ke depan
Bupati Lahat, Bursah Sarnubi, memberi gambaran perkembangan kawasan transmigrasi. Awalnya pemukiman ditempatkan dalam dua satuan, masing-masing berisi sekitar 400 dan 500 kepala keluarga. Setelah 44 tahun, kawasan yang dulu hutan kini telah menjadi desa dengan berbagai fasilitas.
Selanjutnya, program transmigrasi terus berlangsung sampai 2016 dengan penempatan warga transmigrasi,
Viva menegaskan rehabilitasi dan pembangunan sekolah akan dituntaskan untuk mencetak sumber daya unggul di kawasan transmigrasi. Ia berharap kondisi sekolah yang sudah menunjukkan anak-anak "unggul, cerdas, ceria, dan sehat-sehat" itu bisa terjadi di seluruh kawasan transmigrasi.
Langkah sinergi antar-kementerian dan pendekatan berbasis kebutuhan daerah diharapkan mempercepat perbaikan fasilitas pendidikan serta mendukung pertumbuhan ekonomi lokal di kawasan transmigrasi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
BPBD: Semua Titik Api Karhutla di Jatim Sudah Padam
BPBD Jawa Timur memastikan semua titik api karhutla telah padam, namun pemantauan titik panas melalui SiPong...
Pelestarian Batik: Wamenperin Dorong Perajin Ikuti Pasar
Wamenperin Faisol Riza mendorong pelestarian batik seiring penguatan perajin agar mampu mengikuti pasar, did...
Kemenkum Fasilitasi Mediasi Sengketa Merek ASICS
Kemenkum memfasilitasi mediasi ASICS vs Toko Istana Sepatu pada 3 Okt 2026 di Jakarta untuk menyelesaikan du...
Komdigi: Perlindungan Sisa Kuota Tak Boleh Dikenai Biaya
Kemkomdigi menegaskan sisa kuota pelanggan tidak boleh dikenai biaya, merujuk putusan MK; pemerintah akan ev...
PBNU Terbitkan Pedoman Hari Santri 2026, Solidaritas untuk Palestina
PBNU keluarkan pedoman Hari Santri 2026 berfokus pada tradisi, layanan masyarakat, dan solidaritas kemanusia...
Terapi Seni Bantu Pulihkan Trauma Anak, Ini Cara dan Perannya
Seni atau art terapi dinilai efektif bantu pulihkan trauma anak melalui ekspresi kreatif, lingkungan aman, d...