Film 'Juminten Edan' Tampilkan Konflik Keluarga Indonesia
Mercusuar Films berkolaborasi dengan Digital Frame Production menghadirkan film Juminten Edan, tentang perempuan penyandang disabilitas yang trauma masa lalu dan dampaknya pada orang-orang di sekitarnya. Pengumuman ini disampaikan pada press conference di Epicentrum XXI, Kamis, 17 Juli 2026.
Kolaborasi produksi dan alasan penggarapan
Produser Anggia Novita menyambut antusias kerja sama dua rumah produksi tersebut. Ia menilai naskah memiliki benang merah yang kuat sehingga layak diwujudkan ke layar lebar.
"Ceritanya bagus, benang merahnya jelas banget, Makanya saya berminat banget bekerja sama,"
Kerja sama ini menggabungkan visi produser dan tim kreatif untuk menempatkan kisah perempuan penyandang disabilitas sebagai pusat narasi, sekaligus merefleksikan masalah keluarga yang dekat dengan penonton Indonesia.
Tema keluarga sebagai fokus narasi
Sutradara Jonathan Ozoh mengatakan tema keluarga dipilih karena relevansinya. Ia dan sutradara pendamping, Dedy Mercy, mencoba menyusun cerita yang menggambarkan relasi mertua-menantu hingga konflik antar-generasi.
"Kami mengambil tema keluarga dengan menjadikan Juminten Edan sebagai miniatur dari kisah keluarga Indonesia. Bagaimana hubungan antara mertua dan menantu, anak dan ibu mertua, itu yang kisahnya coba kita ambil,"
Penulis Alim Sudio menambahkan bahwa diskusi kreatif antara tim menghasilkan beberapa terobosan cerita. Ia menyebut ada perdebatan soal batas antara kewarasan dan kegilaan yang menjadi pusat konflik.
"Pak Dedy punya konsep ceritanya, dia ngomong soal masalah orang siapa yang waras dan tidak. Kemudian saya yang mengembangkan cerita, dan ada beberapa hal yang mau diterobos juga dari film ini,"
Deretan pemain dan peran utama
Film ini dibintangi Meisya Amira sebagai tokoh utama. Selain itu, hadir sejumlah aktor dan aktris yang melengkapi konflik keluarga dalam cerita.
- Meisya Amira (Juminten)
- Dimas Aditya (Manto)
- Anne J Coto (Salma)
- Kukuh Prasetyo (Marlan)
- Deden Bagaskara (Kadir)
- Bambang Oeban (Kakek Juminten)
- Wina Marrino (Farida)
- Maria Lituhayu (Juminten Kecil)
Implikasi dan prospek
Juminten Edan menaruh fokus pada pengalaman penyandang disabilitas dalam konteks keluarga, sebuah pendekatan yang berpotensi membuka diskusi publik. Film ini juga berupaya menampilkan konflik domestik sebagai refleksi sosial yang dekat dengan penonton Indonesia.
Meskipun belum diumumkan jadwal rilis resmi dalam konferensi, tim produksi menegaskan komitmen menyelesaikan proyek sesuai standar. Penonton diharapkan mendapat pengalaman emosional sekaligus ruang refleksi terhadap dinamika keluarga.
Jurnalis hiburan yang fokus pada dunia selebritas, film, musik, dan budaya populer.
Berita Terkait
D'MASIV Lepas Label, Siap Rekam Album di California
D'MASIV lepas label dan siap rekam album di California; album ditargetkan rilis awal 2027 setelah kunjungan...
D'MASIV Rebranding: Keluar Label dan Perkuat Identitas Independen
D'MASIV resmi beralih ke jalur independen dan rebranding, termasuk penamaan halte 'Petukangan D’MASIV' untuk...
D'MASIV Ungkap Makna Single Baru 'On Our Own'
D'MASIV menjelaskan single berbahasa Inggris 'On Our Own' yang menyuarakan kritik sosial dan tampil dengan v...
D'MASIV Cerita Tur Mandiri di AS dan Eropa untuk Perluas Pasar
D'MASIV membagikan pengalaman tur mandiri di AS dan Eropa untuk memperluas pasar setelah memilih menjadi ban...
D'MASIV Nekat Tur Mandiri untuk Perluas Pasar Internasional
D'MASIV menceritakan tur mandiri di AS dan Eropa untuk memperluas pasar musik internasional setelah memilih...
Keonho CORTIS Pastikan Tampil Terbaik Meski Cedera
Keonho CORTIS alami patah tulang di kedua jari kelingking; tetap akan tampil tanpa koreografi dengan gips da...