Politik

Karhutla Jatim: Koordinasi dan BTT Darurat Diperkuat

Bagikan:

SURABAYA — Ketua Komisi E DPRD Jawa Timur, Sri Untari Bisowarno, mendesak penguatan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah gunung Jawa Timur melalui koordinasi lintas instansi dan dukungan anggaran memadai. Desakan itu disampaikan menyusul kebakaran di Gunung Arjuno (Ringgit), Gunung Raung, dan Gunung Argopuro, setelah kejadian serupa di Gunung Bromo, yang dilaporkan terjadi pada pertengahan Oktober 2026. Sri Untari menilai kekeringan panjang akibat fenomena El Nino memperbesar risiko kebakaran sehingga respons cepat dan pencegahan terpadu menjadi prioritas.

Dorongan koordinasi dan pengerahan sumber daya

Sri Untari meminta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi berkoordinasi erat dengan BPBD kabupaten/kota, TNI Angkatan Udara, dan relawan pemadam kebakaran hutan. Menurutnya, sinergi itu penting agar pengerahan personel dan sarana pemadaman sesuai dengan karakteristik tiap kawasan terdampak.

Langkah cepat, tambahnya, diperlukan untuk membatasi penyebaran api dan mengurangi risiko terhadap lingkungan serta masyarakat sekitar kawasan hutan.

Alokasi anggaran darurat ditingkatkan

Dalam pembahasan Perubahan APBD (P-APBD), alokasi Belanja Tidak Terduga (BTT) Jawa Timur dinaikkan untuk mendukung penanganan keadaan darurat karhutla. Dana ini dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan operasional di lapangan, mulai dari logistik hingga mobilisasi peralatan pemadaman.

Kami sudah siapkan dana BTT yang mencukupi. Saat pembahasan P-APBD bersama BPBD, kami memahami betul potensi situasi darurat seperti ini sehingga alokasi dana BTT telah kita naikkan agar upaya penanganan tidak terkendala,

Penyebab dan kebutuhan pencegahan

Sri Untari menekankan bahwa pemadaman saja tidak cukup. Ia mengingatkan bahwa kekeringan ekstrem membuat vegetasi mudah terbakar sehingga tindakan pencegahan dan pemetaan risiko harus berjalan bersamaan dengan respons darurat.

Kondisi cuaca dan iklim di Jawa Timur betul-betul berada pada situasi perubahan iklim yang sangat ekstrem akibat dampak El Nino. Kekeringan panjang ini berakibat pada kebakaran hutan di mana-mana. Saya sangat prihatin melihat beberapa gunung terbakar secara bersamaan,

Selain itu, ia meminta masyarakat menghindari perilaku berisiko di kawasan hutan dan lereng gunung.

Jangan sembarangan membuang puntung rokok di area hutan. Kondisi gesekan dedaunan kering di tengah suhu terik ekstrem saat ini sangat mudah memicu titik api. Kesadaran bersama menjadi kunci pencegahan dini,

Keterlibatan masyarakat dan elemen agama

Sri Untari mengajak berbagai elemen masyarakat dan pemimpin agama untuk berperan serta dalam upaya pencegahan dan refleksi kolektif. Ia menyebut beberapa organisasi yang diajak terlibat dalam gerakan doa dan kampanye kesadaran publik:

  • Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur
  • Nahdlatul Ulama (NU)
  • Muhammadiyah
  • Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB)
  • Pemangku adat setempat

Dampak dan langkah ke depan

Sri Untari juga menyoroti dampak karhutla terhadap ekonomi dan kesehatan masyarakat. Ia meminta perlindungan hutan dan sumber mata air menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang, termasuk evaluasi perizinan yang berpotensi mengabaikan aspek lingkungan.

Penanganan, menurutnya, harus berjalan dua jalur: respons darurat yang terkoordinasi dan upaya menjaga ekosistem agar risiko kebakaran ditekan. Kebijakan berkelanjutan dan partisipasi publik dipandang krusial untuk mengurangi dampak bencana di masa depan.

Bima Prakoso
Penulis
Bima Prakoso

Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.

Berita Terkait