KAI Tutup 172 Perlintasan Sebidang dan Edukasi Pelajar di Bandung
PT Kereta Api Indonesia (KAI) menutup 172 perlintasan sebidang dan menggelar sosialisasi keselamatan bagi pelajar SMAN 6 Bandung pada Senin, 20 Juli 2026. Langkah ini diambil untuk meningkatkan keselamatan perjalanan kereta dan mengurangi risiko kecelakaan di wilayah perkotaan.
Penutupan perlintasan dan alasan keselamatan
KAI menyatakan penutupan ratusan perlintasan bertujuan mengurangi interaksi langsung antara pengguna jalan dan jalur kereta. Perusahaan menekankan bahwa rangkaian kereta penumpang biasa memiliki bobot sekitar 600 ton dan terdiri dari delapan hingga 12 gerbong, sehingga tidak dapat berhenti secara mendadak.
Jarak pengereman yang panjang menjadi alasan utama tindakan ini. Menurut penjelasan KAI, kereta yang melaju pada kecepatan 60 kilometer per jam memerlukan jarak sekitar 221 meter untuk berhenti. Kondisi teknis lapangan dan kecepatan menjadi faktor penentu jarak tersebut.
Edukasi keselamatan di SMAN 6 Bandung
Kegiatan sosialisasi di SMAN 6 Bandung digelar bertepatan dengan pertemuan tingkat tinggi Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai keselamatan jalan. Fokus penyuluhan adalah pengenalan risiko di sekitar jalur kereta dan kewajiban pengguna perlintasan sebidang.
Keselamatan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti menjauhi jalur kereta api, tidak menerobos perlintasan, berhenti ketika tanda peringatan aktif, serta saling mengingatkan ketika melihat perilaku berisiko,
— Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.
Perangkat peringatan dan tanggung jawab pengguna
KAI mengingatkan bahwa palang pintu, sirene, lampu peringatan, rambu, dan petugas hadir untuk memberikan peringatan. Namun keputusan untuk berhenti dan menunggu tetap menjadi tanggung jawab setiap pengguna jalan yang melintasi perlintasan.
Palang pintu, sirene, lampu peringatan, rambu, dan petugas merupakan perangkat untuk memperingatkan pengguna jalan. Keputusan berhenti dan menunggu tetap menjadi tanggung jawab setiap orang yang berada di perlintasan,
Aturan dan sanksi
KAI mengingatkan pula aspek hukum yang mengatur perilaku di perlintasan. Pelanggaran terhadap ketentuan di perlintasan sebidang dapat dikenai sanksi kurungan paling lama tiga bulan sesuai dengan Pasal 296 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Selain itu, kewajiban mendahulukan perjalanan kereta tertuang dalam Pasal 124 Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2007.
Keselamatan perjalanan kereta api dimulai sebelum rangkaian melintas. Berhenti, melihat, mendengar, dan memastikan kondisi aman merupakan keputusan sederhana yang dapat melindungi banyak orang,
— Wisnu Pramudya, Executive Vice President Corporate Secretary KAI.
KAI berharap kombinasi penegakan teknis, penutupan perlintasan berisiko, dan edukasi berkelanjutan dapat menurunkan angka kecelakaan. Masyarakat dan pelajar diharapkan menerapkan kebiasaan aman setiap kali berada di dekat jalur kereta.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Ekspor Industri Pengolahan Jan–Agu 2026 Tembus USD159,55 Miliar
Ekspor industri pengolahan Januari–Agustus 2026 mencapai USD159,55 miliar (Rp2.855,48 triliun), tumbuh 7,87%...
OJK Minta Perbankan Perkuat IT, Kebijakan Dividen Disesuaikan
OJK minta bank perkuat keamanan IT; dividend payout akan disesuaikan agar bank punya ruang investasi teknolo...
OJK Luncurkan Roadmap Perbankan 2026-2030, Lima Prioritas Utama
OJK meluncurkan RP3I 2026–2030 di Bali untuk memperkuat perbankan dengan lima prioritas, empat enabler, dan...
APBN 2027: Target Pertumbuhan 6% Jadi Tantangan Utama
Target 6% pada APBN 2027 jadi tantangan; investasi harus tumbuh 10-12% untuk mendorong ekonomi, kata Kepala...
Ekspor Manufaktur Agustus 2026 Tumbuh 12,48%, Topang Surplus
Manufaktur naik 12,48% pada Agustus 2026, dorong ekspor USD26,61 miliar dan neraca perdagangan surplus USD3,...
Briket Kayu Indonesia Dilirik Buyer Spanyol untuk Restoran Profesional
Calon buyer Spanyol menunjukkan minat pada briket serbuk kayu heksagonal Indonesia untuk restoran profesiona...