KAI Terapkan Skema PSO untuk Jaga Tarif Kereta Ekonomi
PT Kereta Api Indonesia (KAI) menerapkan skema Public Service Obligation (PSO) untuk menjaga keterjangkauan tarif kelas ekonomi. Kebijakan ini mengacu pada Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 165 Tahun 2024 dan dipaparkan saat pelaporan kinerja keterjangkauan layanan pada Kamis, 13 Agustus 2026.
Skema PSO dan capaian penumpang
Penerapan PSO tercatat mendukung total volume angkutan penumpang KAI Group mencapai 307.860.743 pelanggan, naik 8,32 persen dibandingkan periode tahun 2025. Dari total tersebut, layanan jarak jauh dan lokal mencatatkan 35.257.646 pelanggan.
Struktur tarif Commuter dan LRT
KAI menerapkan struktur tarif berbasis jarak pada Commuter Line Jabodetabek untuk menjaga tarif awal tetap terjangkau. Untuk Commuter Line, tarif dasar dan skema kenaikan adalah sebagai berikut:
| Jenis | Ketentuan | Tarif |
|---|---|---|
| Commuter Line (25 km pertama) | Tarif dasar perjalanan | Rp3.000 |
| Commuter Line (per 10 km berikutnya) | Tambahan tarif setiap 10 km | Rp1.000 |
| LRT Jabodebek (tarif berdasarkan jarak) | Tarif minimum | Mulai Rp5.000 |
| LRT Jabodebek (jam sibuk) | Tarif maksimal pada jam kerja | Rp20.000 |
| LRT Jabodebek (jam longgar/akhir pekan/libur) | Tarif maksimal | Rp10.000 |
Pengaturan tarif ini dimaksudkan agar transportasi massal tetap dapat diakses berbagai segmen masyarakat.
Program reduksi, khusus, dan diskon
KAI juga menyediakan pilihan tarif reduksi dan program khusus untuk menjaring kelompok dengan kemampuan ekonomi berbeda. Hingga Juli 2026 tercatat:
- 1.267.255 pelanggan memanfaatkan tarif reduksi (Januari–Juli 2026).
- 3.080.830 pengguna menikmati tarif khusus, setara 9% dari total volume angkutan.
- 138.897 pelanggan memanfaatkan program promo dan diskon lain.
Nilai keseluruhan program diskon mencapai sekitar Rp242,96 miliar, dengan alokasi terbesar pada bulan Maret sebesar Rp96,7 miliar.
Kutipan pejabat KAI
"Ketika masyarakat memiliki akses terhadap transportasi massal dengan tarif yang terjangkau, biaya perjalanan menjadi lebih mudah direncanakan. Transportasi publik memberi masyarakat pilihan untuk mengatur pengeluaran mobilitas sekaligus tetap terhubung dengan pusat pekerjaan, pendidikan, perdagangan dan berbagai aktivitas lainnya,"
— Anne Purba, Vice President Corporate Communication KAI.
"Transportasi publik yang terjangkau memberi masyarakat ruang lebih besar untuk mengelola pengeluaran perjalanan. KAI akan terus memperkuat layanan agar semakin banyak masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang efisien, terukur dan sesuai dengan kebutuhannya,"
— Wisnu Pramudya, Executive Vice President Corporate Secretary KAI.
Kebijakan PSO dan berbagai skema tarif ini menunjukkan usaha KAI menjaga aksesibilitas transportasi rel bagi berbagai lapisan masyarakat. Ke depan, perusahaan menyatakan akan terus menyesuaikan program agar responsif terhadap kebutuhan mobilitas dan kemampuan bayar penumpang.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
Grab Luncurkan Group Ride: Berbagi Ongkos hingga 50%
Grab meluncurkan fitur Group Ride sejak April 2026 untuk atur perjalanan bersama lewat satu pemesanan, denga...
Mobilitas Kereta Api Sumatra Capai 11,34 Juta Penumpang
KAI mencatat 11.342.350 pergerakan penumpang di Sumatra (Jan–Sep 2026), naik 12,02% dibandingkan 2025.
Kemenko Hilirisasi dan Energi Diharap Percepat Transisi Energi
Imaduddin Abdullah menilai pembentukan Kemenko Hilirisasi dan Energi percepat transisi energi, hilirisasi, d...
Hilirisasi Nikel Dorong PNBP Capai Rp21 Triliun
Hilirisasi nikel mendorong ekspor USD6,54 miliar dan PNBP mencapai Rp21 triliun hingga 31 Agustus 2026, namu...
Harga Emas Pekan Depan Diprediksi Fluktuatif, Waspada Saat Beli
Harga emas dunia diperkirakan berfluktuasi tajam pekan depan karena pengaruh indeks dolar AS dan harga minya...
Indonesia Kuasai 0,9% Pasar Ekspor Bambu, Kemenperin Dorong Penguatan Hulu
Kemenperin sebut Indonesia kuasai 0,9% pasar ekspor bambu global; AKB 2026 digelar untuk perkuat pasokan dan...