Lokal

Kabut Asap Selimuti Taput, Dinkes Siapkan 5.000 Masker

Bagikan:
Langit berkabut di Tarutung akibat kabut asap karhutla, warga memakai masker

TARUTUNG – Kabut asap yang menyelimuti Tarutung dan beberapa wilayah Kabupaten Tapanuli Utara (Taput) dalam sepekan terakhir menimbulkan kekhawatiran soal kesehatan. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Taput menyatakan hingga Rabu 14/10 belum terdeteksi lonjakan signifikan kasus ISPA di RSUD Tarutung, namun pihaknya menyiapkan 5.000 masker dan terus memantau perkembangan penyakit pernapasan.

Kondisi udara dan kekhawatiran warga

Asap yang diduga terbawa angin dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah Sumatera membuat langit di kawasan Rura Silindung tampak berkabut. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga terhadap kemungkinan meningkatnya kasus gangguan pernapasan.

Informasi peningkatan pasien sempat beredar di media sosial, sehingga memicu langkah antisipatif dari dinas kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan setempat.

Pemantauan kasus ISPA di fasilitas kesehatan

Kepala Dinas Kesehatan Taput, dr. H. Ganda Nainggolan, menyebutkan data sementara menunjukkan belum ada lonjakan kasus ISPA yang signifikan di RSUD Tarutung sampai 14 Oktober. Namun, peningkatan kasus ISPA tercatat di salah satu rumah sakit swasta.

Untuk data sementara, lonjakan pasien di RSUD Tarutung bukan akibat terserang ISPA. Justru di RSU swasta Sint Lucia ada peningkatan pasien ISPA.

Ganda mengatakan dinas masih meminta data lebih rinci dari fasilitas kesehatan untuk memastikan tren kejadian penyakit pernapasan.

Siapkan 5.000 masker dan langkah pencegahan

Sejak 9 September lalu, Dinas Kesehatan Taput mengeluarkan surat edaran ke puskesmas agar petugas aktif memantau kondisi masyarakat di wilayah kerja masing-masing. Pemantauan difokuskan pada keluhan batuk, sesak napas, dan iritasi mata yang berpotensi terkait paparan asap.

Pihak dinas menyiapkan 5.000 masker yang akan diprioritaskan untuk daerah dan kelompok yang paling membutuhkan. Selain itu, permohonan bantuan masker juga diajukan ke Kementerian Kesehatan untuk menambah stok perlindungan.

Kita lihat dulu nanti daerah mana atau siapa yang prioritas untuk nantinya diberikan masker,

kata Ganda mengenai mekanisme distribusi.

Kendala pemantauan kualitas udara

Pemantauan dampak kabut asap di Taput masih terbatas karena belum tersedianya alat pengukur kualitas udara. Dinas Kesehatan telah berkoordinasi dengan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup untuk menanyakan ketersediaan peralatan, namun informasi yang diterima menunjukkan belum ada alat tersebut.

Kita sudah tanyakan, ternyata tidak ada alat mengukur level pencemaran udara. Kita follow up ke Kemenkes,

ujar Ganda terkait upaya mendapatkan dukungan alat ukur.

Impak jangka pendek dan rekomendasi

Meski belum ada lonjakan signifikan kasus ISPA di RSUD Tarutung, kewaspadaan tetap diperlukan. Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, dan warga dengan gangguan pernapasan harus mendapat perhatian lebih selama kabut asap berlangsung. Tanpa alat pengukur kualitas udara, level pencemaran belum bisa dipastikan secara objektif, sehingga pemantauan kesehatan dan langkah pencegahan menjadi kunci mengurangi risiko imbas kabut asap.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait