Lokal

Pemko Medan dan Sultan Deli Gelar Jamu Sungai di Avros

Bagikan:
Upacara Jamu Sungai di bantaran Sungai Deli menampilkan lancang dan tari tradisional

Medan — Pemerintah Kota Medan bersama Sultan Deli, Tuanku Mahmud Lamantjiji Perkasa Alam Shah, menggelar upacara adat Jamu Sungai pada Kamis (5/11) di kawasan Avros, bantaran Sungai Deli. Kegiatan ini bertujuan memberi penghormatan kepada sungai sekaligus mendorong pelestarian warisan budaya dan lingkungan.

Prosesi adat dan rangkaian acara

Upacara dimulai dengan doa dan rangkaian seni tradisi. Tujuh anak dara membawakan Tari Gebuk menggunakan periuk tanah berhias anyaman lipan. Tiga pawang membuka prosesi dengan tabik kepada semesta, kemudian menampilkan Tari Mayang yang bergerak menyerupai silat sambil membawa mayang pinang.

Salah satu titik puncak acara adalah pelarungan lancang, perahu adat berwarna kuning yang berisi 44 jenis juadah tradisional disusun dengan jumlah sajian ganjil sesuai ketentuan adat. Setelah lancang hanyut, panitia menebarkan ratusan benih ikan ke aliran Sungai Deli sebagai simbol kepedulian terhadap ekosistem. Masyarakat kemudian mengambil juadah yang dibawa dalam perahu adat tersebut.

Makna tradisi menurut Sultan Deli

Sultan Deli menegaskan bahwa Jamu Sungai bukan sekadar seremoni, melainkan ekspresi penghormatan dan rasa syukur terhadap alam dan sumber penghidupan masyarakat.

"Dalam pandangan masyarakat Melayu Deli, sungai bukan sekadar aliran air. Sungai adalah sumber kehidupan. Sungai adalah jalan yang menghubungkan satu kampung dengan kampung yang lain. Sungai adalah ruang tempat masyarakat mencari nafkah. Sungai adalah tempat tumbuhnya permukiman,"

"Jamu adalah ungkapan penghormatan. Jamu adalah ungkapan rasa syukur. Jamu adalah doa. Jamu adalah harapan agar kehidupan senantiasa mendapat keberkahan dan keselamatan,"

Peserta dan pesan pelestarian

Acara dihadiri perwakilan Wali Kota Medan Dr Citra Effendi Capah, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Medan Ahmad Barli Mulia Nasution, pemangku adat, budayawan, unsur Forkopimda, serta masyarakat lintas etnis. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menekankan pentingnya menjaga kebersihan dan kualitas lingkungan bantaran.

"Sungai memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Melayu sehingga kebersihan, kualitas air, dan lingkungan bantaran harus terus dijaga,"

Tantangan pelestarian dan langkah ke depan

Budayawan M Muhar Omtatok mengingatkan bahwa masyarakat Melayu Sumatera Utara memiliki tiga ritus penghormatan ruang kehidupan: Jamu Sungai, Jamu Bendang, dan Jamu Laut, masing-masing berhubungan dengan sungai, bendang, dan laut sebagai sumber hidup. Budayawan Yose Piliang memperingatkan ancaman kelestarian ritus, termasuk terputusnya pewarisan ilmu kepada generasi muda, berkurangnya pemangku adat, dan kerusakan lingkungan.

Kepala Bidang Kebudayaan Kota Medan OK Zulfani Anhar menyarankan pendokumentasian, inventarisasi tradisi, serta kolaborasi sekolah, sanggar seni, komunitas pemuda, dan akademisi untuk menjadikan tradisi sebagai program pelestarian berkelanjutan. Integrasi dengan program pemajuan kebudayaan dinilai penting agar pengetahuan adat dan keterampilan pemangku adat dapat diwariskan.

Melalui Jamu Sungai, Pemko Medan dan Sultan Deli berharap masyarakat memahami bahwa Sungai Deli adalah bagian dari sejarah peradaban Melayu sekaligus sumber kehidupan yang harus dijaga bersama. Penghormatan terhadap sungai harus diwujudkan tidak hanya lewat upacara, tetapi juga tindakan nyata: tidak membuang sampah sembarangan, menjaga habitat ikan, dan merawat lingkungan bantaran.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait