IPF Dorong Sinergi Atasi Tekanan di Industri Kemasan Plastik
Indonesian Packaging Federation (IPF) meminta seluruh pemangku kepentingan industri kemasan plastik bersinergi menangani tekanan berat yang melanda sektor ini. Direktur Promosi dan Kemitraan IPF, Hari Noegroho, menyampaikan hal tersebut pada pembukaan International Industrial Week di JIEXPO Kemayoran, Rabu, 3 Juni 2026.
Tekanan berlapis pada rantai pasok
Hari menilai industri kemasan plastik kini menghadapi krisis yang lebih berat dibandingkan masalah sebelumnya. Faktor yang terjadi bersamaan — mulai dari gangguan logistik hingga tekanan biaya — membuat ekosistem industri belum siap menanggulanginya.
“Menurut saya yang sudah beberapa dekade di industri plastik ini, kita berkali-kali mengalami krisis yang terkait dengan logistik. Dengan rantai pasok dan kita belum siap, ekosistem kita ini belum siap untuk menghadapi itu,”
Gangguan tersebut tidak hanya berdampak pada produsen bahan baku, tetapi juga konverter dan pemilik merek. Menurut Hari, kombinasi masalah membuat kemampuan menyerap kenaikan biaya menjadi terbatas, terutama dengan melemahnya daya beli konsumen.
Kolaborasi dan kemasan sirkular sebagai solusi
Sebagai jalan keluar, Hari menekankan pentingnya kolaborasi lintas industri. Salah satu fokus yang diusulkan adalah percepatan pengembangan kemasan berkelanjutan yang memanfaatkan material sirkular.
“Tentunya tidak ada jalan lain kolaborasi menjadi salah satu potensial solution. Misalnya kita bagaimana membuat packaging itu yang sustainable, menggunakan material yang circular,” kata Hari.
Ia menyarankan pemilik merek menetapkan spesifikasi berbasis material sirkular dan bekerja sama dengan konverter berpengalaman. Di sisi hulu, produsen bahan diminta mulai mengalihkan kapasitas untuk menghasilkan material yang lebih ramah lingkungan.
Peran pemerintah dan tantangan pasar domestik
Hari juga mengajak pemerintah memberi dukungan kebijakan, khususnya melalui insentif fiskal untuk mendorong adopsi produk berkelanjutan. Menurutnya, insentif semacam itu dapat mempercepat transformasi industri.
“Pemerintah juga diharapkan itu bisa memberikan support dari sisi fiskal misalnya ya, dengan memberikan insentif fiskal. Industri-industri yang memproduksi produk-produk yang sustainable itu diberikan insentif, itu juga salah satu yang bisa memberikan kontribusi positif,” ucapnya.
Selain itu, Hari menyoroti perlunya sinergi antara kebutuhan industri, kapasitas hulu, dan pemenuhan pasar domestik sebelum fokus ekspor. Hal ini penting agar rantai nilai berjalan seimbang dan perusahaan tidak terbebani oleh fluktuasi pasar internasional.
Kesimpulan dan prospek
Transformasi menuju kemasan sirkular dan dukungan kebijakan dianggap kunci untuk menstabilkan industri kemasan plastik. Jika kolaborasi antarpelaku dan insentif fiskal terlaksana, tekanan saat ini berpotensi diatasi dan memberi peluang bagi pertumbuhan yang lebih berkelanjutan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
PT Vale Luncurkan Kelas Konservasi untuk Duta Lingkungan
PT Vale meluncurkan Kelas Konservasi di Luwu Timur untuk melatih 50 pelajar menjadi duta lingkungan selama J...
Sandiaga Investasi di Mutuagung Lestari, Bidik Bisnis Sertifikasi
Sandiaga Uno investasikan pada PT Mutuagung Lestari untuk memperkuat layanan sertifikasi yang mendukung daya...
Regulasi dan Insentif Fiskal Kunci Pengembangan Industri Menengah
Regulasi jelas dan jaminan insentif fiskal dinilai penting untuk mempercepat pengembangan industri menengah...
Bisnis Kopi Solo Melaju Seiring Perubahan Gaya Hidup
Bisnis kopi di Solo berkembang karena gaya hidup, wisata, dan inovasi UMKM; peluang besar bagi kedai lokal y...
Harga Emas Antam Turun Tajam ke Rp2.605.000/gram
Harga emas Antam 24 Juli 2026 turun ke Rp2.605.000/gram, minus Rp35.000; buyback Rp2.345.000/gram. Ketentuan...
INALUM Buka Program Magang, Ajak Talenta Muda Belajar di Industri
INALUM membuka program magang untuk talenta muda belajar langsung di industri nasional, memperkuat keterampi...