Investasi di Luar Jawa Capai Rp251,3 Triliun Triwulan I 2026
Menteri Investasi dan Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani melaporkan realisasi investasi di luar Pulau Jawa mencapai Rp251,3 triliun pada Triwulan I 2026. Angka ini tercatat pada rapat kerja dengan Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada 15 Juni 2026 dan setara dengan 50,4 persen dari total realisasi investasi nasional.
Rincian realisasi dan pertumbuhan
Secara keseluruhan, realisasi investasi pada triwulan pertama 2026 mencapai Rp498,8 triliun. Pencapaian ini tumbuh sekitar 7,2 persen dibanding periode sebelumnya dan telah mencapai 24,4 persen dari target investasi tahun 2026.
Distribusi: Jawa vs luar Jawa
Distribusi investasi hampir merata antara Jawa dan luar Jawa. Kontribusi luar Jawa mencapai 50,4 persen atau Rp251,3 triliun, sementara Pulau Jawa menyumbang 49,6 persen.
"Terbagi dalam investasi di Jawa dan luar Jawa yang hampir sama. Yaitu di luar Jawa berkontribusi 50,4 persen (Rp251,3 triliun) sedikit melebihi investasi di Pulau Jawa (49,6 persen)," kata Rosan.
Meski demikian, empat lokasi utama investasi tetap berada di Pulau Jawa: Jakarta, Jawa Barat, Banten, dan Jawa Timur.
Daerah tujuan di luar Jawa
Selain pusat di Jawa, lima provinsi luar Jawa masuk 10 besar tujuan investasi nasional. Kelima provinsi tersebut adalah:
- Sulawesi Tengah
- Maluku Utara
- Kepulauan Riau
- Nusa Tenggara Barat
- Kalimantan Timur
Kontribusi PMDN dan PMA
Komposisi sumber modal relatif seimbang. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) tercatat sebesar Rp248,8 triliun atau 49,9 persen dari total, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) mencapai Rp250 triliun atau 50,1 persen.
"PMDN menyumbang 49,9 persen atau Rp248,8 triliun (tumbuh 6 persen). PMA berkontribusi 50,1% atau sebesar Rp250 triliun," ucap Rosan.
Sektor hilirisasi dan penyerapan tenaga kerja
Sektor hilirisasi sumber daya alam menjadi kontributor besar dengan nilai realisasi Rp147,5 triliun, setara dengan 30 persen dari total investasi triwulan pertama 2026. Dominasi kontribusi datang dari pengolahan sektor mineral.
Rosan juga mencatat bahwa realisasi investasi pada periode ini menyerap sekitar 700 ribu tenaga kerja langsung, menandakan dampak lapangan kerja yang signifikan meski kondisi geopolitik dan geoekonomi global dinamis.
Data triwulan I 2026 menunjukkan tren desentralisasi investasi ke luar Pulau Jawa, sekaligus menegaskan peran strategis hilirisasi sumber daya alam dalam struktur investasi nasional.
Berita Terkait
Kementerian Kembangkan OSS Berbasis AI untuk Agenda 2027
Kementerian Investasi akan kembangkan OSS berbasis AI, Big Data, dan Blockchain serta integrasikan RDTR tamb...
Kopi Indonesia Raup Rp593 Miliar di World of Coffee 2026
Kopi Indonesia mencatat potensi transaksi USD34,7 juta (Rp593,3 miliar) pada World of Coffee 2026 di San Die...
Hilirisasi Sumbang 30% Realisasi Investasi Triwulan I 2026
Hilirisasi sumber daya alam menyumbang 30% dari realisasi investasi Q1 2026, bernilai Rp147,5 triliun; miner...
IHSG & Rupiah Menguat, Adidaya Sebut Perbaikan Ekonomi
Adidaya nilai penguatan IHSG dan rupiah 15 Juni 2026 cerminkan pemulihan kepercayaan pasar dan perbaikan eko...
Harga Emas Diprediksi Naik Jika AS-Iran Sepakati Perdamaian
Harga emas diperkirakan naik bulan Juni jika AS-Iran menandatangani nota damai; analis target USD4.875 per t...
Kemenkeu Terima Rp1,02 Triliun dari Pemulihan Aset Kejagung
Kemenkeu menerima PNBP Rp1,02 triliun dari pemulihan aset Kejagung yang diserahkan pada 15 Juni 2026, termas...