Lokal

Aceh Besar Integrasikan Kitab Kuning ke Kurikulum SD-SMP

Bagikan:
Suasana pengajaran kitab kuning sebagai bagian kurikulum di sekolah Aceh Besar

Bupati Aceh Besar, Syech Muharam, berkomitmen memasukkan kitab kuning dari sistem pendidikan dayah ke kurikulum muatan lokal tingkat SD dan SMP. Langkah ini mendapat apresiasi dari akademisi Dr. Dicky Wirianto pada Senin (8/6). Program dinilai sebagai realisasi janji politik dan upaya memperkuat identitas keislaman melalui pendidikan dasar.

Alasan dan tujuan integrasi

Menurut Dr. Dicky, integrasi materi kitab kuning bertujuan menciptakan keseimbangan antara ilmu umum dan ilmu agama sejak usia dini. Ia menilai kebijakan ini bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret untuk memperkuat nilai-nilai Islam dalam sistem pendidikan formal.

"Sebagai akademisi, saya merespons positif atas komitmen Bupati Syech Muharam. Ini bukan sekadar wacana, melainkan realisasi konkret dari janji politik yang berpihak pada penguatan nilai-nilai Islam melalui pendidikan,"

— Dr. Dicky Wirianto

Seleksi pengajar: syarat utama

Dr. Dicky menekankan bahwa kualitas pengajar menjadi penentu keberhasilan program. Pemerintah Kabupaten Aceh Besar disebut telah melakukan seleksi ketat untuk merekrut guru.

Hanya alumni dayah di Aceh yang memenuhi kriteria keilmuan akan diangkat sebagai pengajar di SD dan SMP. Menurutnya, langkah ini memastikan materi diajarkan tidak sekadar tekstual, tetapi juga dipahami secara kontekstual oleh pengajar yang memang produk pendidikan dayah.

"Seleksi ketat ini menjamin bahwa materi yang diajarkan tidak hanya secara tekstual, tetapi juga dipahami secara kontekstual oleh para pengajar yang merupakan produk langsung dari sistem pendidikan dayah. Ini menjamin kualitas transfer ilmu,"

— Dr. Dicky Wirianto

Waktu pembelajaran dan implementasi

Rencana kurikulum menempatkan kajian kitab kuning sebagai prioritas dengan alokasi waktu dua jam pelajaran setiap hari pada awal jadwal sekolah. Penentuan jam pagi bertujuan memanfaatkan kondisi kognitif siswa yang masih segar untuk meningkatkan pemahaman nilai-nilai keagamaan.

"Dengan durasi dua jam per hari di pagi hari, ketika kondisi otak siswa masih segar, diharapkan pemahaman terhadap nilai-nilai luhur dalam kitab kuning dapat menyerap lebih optimal. Ini bentuk komitmen nyata, bukan sekadar simbolis,"

— Dr. Dicky Wirianto

Dampak dan prospek replikasi

Dr. Dicky menyoroti potensi jangka panjang jika program berjalan baik. Ia berharap Aceh Besar menjadi pilot project yang dapat direplikasi oleh kabupaten/kota lain di Aceh.

Keberhasilan di Aceh Besar dinilai bisa menjadi rujukan dalam mengintegrasikan pendidikan tradisional keagamaan ke dalam sistem formal modern. Dukungan orang tua, tokoh masyarakat, dan instansi terkait disebut krusial demi kelancaran implementasi pada tahun ajaran mendatang.

Program ini menunjukkan upaya pemerintah daerah untuk menyelaraskan warisan pendidikan lokal dengan tuntutan kurikulum formal, sambil mempertahankan kualitas pengajaran melalui seleksi pengajar yang ketat.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait