Ekonomi

Indonesia Siap Jadi Pusat Inovasi dan Teknologi Sawit Dunia

Bagikan:
Pameran hasil riset dan inovasi sawit pada PERISAI 2026 di Jakarta

Jakarta — Pemerintah mendorong Indonesia menjadi pusat inovasi dan teknologi sawit dunia melalui penguatan riset dan hilirisasi. Pernyataan ini disampaikan saat pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia atau PERISAI 2026 di Jakarta pada Senin, 20 Juli 2026, oleh Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kementerian Keuangan, Eddy Abdurachman.

Tujuan PERISAI 2026 dan urgensi riset

PERISAI 2026 digelar untuk mempercepat adopsi hasil riset kelapa sawit ke sektor industri dan petani. Eddy menekankan pentingnya ekosistem riset yang kuat agar transformasi industri sawit dapat berlangsung berkelanjutan.

Industri sawit Indonesia harus terus bertransformasi, dan transformasi bisa diwujudkan apabila kita memiliki ekosistem riset yang kuat. Sehingga Indonesia bisa menjadi pusat riset, inovasi dan teknologi bagi pengembangan minyak sawit yang berkelanjutan.

Lebih lanjut ia menyebutkan bahwa peluang pengembangan sawit luas, mencakup pangan berbasis minyak sawit, bioavtur, kosmetik, hingga farmasi.

Peserta dan pameran inovasi

PERISAI 2026 diikuti sekitar 1.300 peserta dari kementerian/lembaga, pemerintah daerah, perguruan tinggi, pekebun, hingga pelaku industri. BPDP memamerkan 24 hasil Grand Riset Sawit dan 10 inovasi mahasiswa yang didanai.

Rekam jejak dukungan riset BPDP

Sejak Program Grant Riset Sawit dimulai pada 2015, BPDP telah mendanai banyak penelitian dan program pengembangan sumber daya manusia. Data yang dipaparkan panitia menunjukkan capaian berikut:

Indikator Jumlah
Kontrak penelitian sejak 2015 466
Lembaga litbang terlibat 109
Peneliti 1.873
Mahasiswa peserta riset 383
Publikasi ilmiah 395
Paten 84
Kontrak riset baru tahun ini 56

Pendidikan, pelatihan, dan komersialisasi

BPDP bekerja sama dengan 44 perguruan tinggi untuk program pengembangan SDM dan memberikan beasiswa kepada 13.265 mahasiswa. Selain itu, pelatihan adopsi inovasi telah diberikan kepada lebih dari 30 petani dan pekebun.

Ini adalah bentuk kolaborasi antara pemerintah, akademisi, peneliti, industri, dan pekebun. Riset yang dilakukan harus dapat diterapkan oleh petani, diadopsi oleh industri, dikembangkan dengan teknologi, dan dikomersialisasikan agar bermanfaat bagi masyarakat.

Hingga kini, lebih dari 100 hasil riset BPDP telah memasuki tahap komersialisasi. Tahun ini juga ada kajian pengembangan kelapa nasional dan kesiapan implementasi B50.

Implikasi dan langkah ke depan

Memperkuat ekosistem riset dan mempercepat komersialisasi menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi produsen terbesar, tetapi juga pusat inovasi global. Kolaborasi lintas sektor dan alih teknologi ke pekebun akan menentukan keberlanjutan dan daya saing produk sawit Indonesia ke depan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait