IHSG Turun ke 5.919, Mirae Asset: Tekanan Jenuh Jual
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah pada perdagangan Kamis, 4 Juni 2026, dan turun 1,65% ke level 5.919,56. Hingga pukul 10.18 WIB, indeks terus menurun dan sempat menyentuh kisaran 5.600 atau turun sekitar 4,47% dari penutupan sebelumnya.
Pergerakan IHSG hari ini
Koreksi tajam pada sesi sebelumnya masih meninggalkan sentimen negatif. Pada 3 Juni, IHSG tertekan oleh aksi jual asing dan melemah ke level 5.941. Tekanan itu berlanjut di awal perdagangan hari ini.
Faktor pemicu tekanan
Analisis pasar menunjukkan pelemahan terkonsentrasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Saham perbankan dan telekomunikasi seperti BBCA, BBRI, dan TLKM mencatat penurunan signifikan yang ikut menyeret indeks.
Tekanan juga datang dari pelemahan nilai tukar. Rupiah sudah tembus 18.000 per dolar AS, yang meningkatkan kekhawatiran investor terhadap potensi pelebaran defisit neraca perdagangan Indonesia di masa depan.
Dari sisi teknikal
Tim analis Mirae Asset menilai kondisi IHSG saat ini menunjukkan indikasi jenuh jual. Menurut mereka, konsentrasi pelemahan berada pada saham-saham yang dimiliki banyak investor asing.
"Pelemahan sangat terkonsentrasi pada saham big caps fundamental dengan kepemilikan asing besar," kata tim Mirae Asset.
Tim yang sama menambahkan bahwa indikator teknikal memperlihatkan posisi pasar yang berlebihan ke sisi jual.
"IHSG sejatinya sudah dalam kondisi extremely oversold berdasarkan indikator RSI," kata tim Mirae Asset.
Jenuh jual terjadi ketika volume penjualan jauh melampaui pembelian dalam periode singkat. Kondisi ini kerap memicu rebound teknikal, tetapi juga menyiratkan risiko volatilitas tinggi.
Level support dan rekomendasi
Jika IHSG ditutup di bawah level 5.900, pasar berpotensi menguji support berikutnya di rentang 5.750-5.840. Meski tren turun masih membayangi, beberapa indikator memperlihatkan potensi penguatan volume transaksi.
Para analis merekomendasikan fokus pada saham pilihan dengan fundamental kuat dan valuasi menarik. Investor diminta tetap disiplin dalam menerapkan manajemen risiko selama kondisi pasar bergejolak.
Pengawasan terhadap pergerakan rupiah dan aliran modal asing menjadi kunci dalam beberapa hari mendatang, karena faktor-faktor ini akan menentukan arah lanjutan IHSG.
Berita Terkait
KOHLER & IndoBuildTech Dorong Kolaborasi Lewat Business Impact
KOHLER dan IndoBuildTech menggelar Business Impact pada 3 Juni 2026 di Jakarta untuk dorong kolaborasi, inov...
Harga Emas Perhiasan Hari Ini: Daftar 24–12 Karat (4 Juni 2026)
Daftar harga emas perhiasan (24–12 karat) per 4 Juni 2026 dari Raja Emas, HRTA, dan Laku Emas; harga bervari...
Rupiah Tembus Rekor Rp18.023 per Dolar AS
Rupiah melemah ke Rp18.023 per dolar AS pada 4 Juni 2026, terdorong tensi geopolitik dan data ekonomi AS yan...
IIW Indonesia 2026 Dibuka di JIExpo: Perkuat Kolaborasi dan Daya Saing
IIW Indonesia 2026 dibuka di JIExpo Kemayoran pada 3 Juni, mempertemukan 1.800 exhibitor dari lebih 15 negar...
PPh UMKM Tetap 0,5%: Pemerintah Tutup Celah Penyalahgunaan
PPh Final UMKM tetap 0,5% berdasarkan PP Nomor 20 Tahun 2026; pemerintah menutup celah penyalahgunaan dan be...
Inflasi Mei 2026 Melonjak, Apindo Wanti-wanti Dampak pada Daya Beli
Apindo khawatir inflasi Mei 2026 (0,28% mtm; 3,08% yoy) menurunkan daya beli dan menekan konsumsi, didorong...