IHSG Turun ke 5.744 pada Pembukaan, Asing Catat Net Sell
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada pembukaan perdagangan Rabu, 10 Juni 2026. Pada awal sesi I, IHSG tercatat di level 5.744,06, turun 2,59 poin dari penutupan sebelumnya.
Ringkasan pergerakan awal dan sentimen pasar
Penurunan pembukaan terjadi meski pada penutupan Selasa (9 Juni 2026) IHSG sempat melonjak tajam sebesar 7,57% ke level 5.746,65. Aksi jual bersih ( net sell ) oleh investor asing mencapai sekitar Rp2,59 triliun, yang menekan likuiditas di pasar awal hari ini.
Saham yang banyak dijual asing
Investor asing melakukan penjualan terbesar pada beberapa saham bank dan industri. Saham-saham dengan arus jual paling besar antara lain:
- BBRI
- BBCA
- BMRI
- TPIA
- AMMN
Analisis teknikal dan prospek IHSG
Analis memperkirakan IHSG masih berpeluang melanjutkan penguatan jika dapat mempertahankan level support. Kepala Riset Retail BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memberikan panduan teknikal terkait level kunci.
“IHSG berpotensi tes support di 5.600. Jika kuat bertahan di level tersebut, IHSG dapat melanjutkan kenaikan dengan target di 5.800-6.000.”
Faktor eksternal dan domestik yang mempengaruhi
Penguatan awal pekan lalu dipengaruhi oleh perbaikan pasar saham Asia dan indikasi meredanya ketegangan di Timur Tengah. Harga minyak turun setelah adanya peningkatan trafik kapal di Selat Hormuz dan pernyataan yang menyiratkan kemungkinan terjadinya kesepakatan antara pihak-pihak terkait.
Sementara itu, bursa AS melemah karena aksi jual di sektor teknologi dan produsen chip. Di sisi berlawanan, bursa Asia dan sektor semikonduktor menunjukkan penguatan signifikan, dipimpin oleh lonjakan Kospi Korea Selatan.
Kebijakan BI dan langkah pemerintah
Di domestik, kenaikan suku bunga acuan oleh Bank Indonesia sebesar 25 bps menjadi 5,5% menjadi salah satu katalis pasar. Tim analis Phintraco Sekuritas menilai penyesuaian kebijakan moneter yang tak terjadwal itu memberi sentimen positif.
"Kenaikan suku bunga di luar jadwal memberi sentimen positif ke pasar,"
Bank Indonesia juga melakukan langkah stabilisasi nilai tukar yang membantu rupiah menguat ke sekitar Rp18.065 per USD. Selain itu, DPR melakukan koordinasi dengan sejumlah institusi keuangan terkait opsi stabilisasi pasar modal, termasuk rencana buyback saham bank-bank BUMN yang tercatat di BEI.
Outlook
Perdagangan hari ini berpeluang bergerak fluktuatif. IHSG masih menghadapi tekanan jual asing, namun dukungan faktor domestik seperti penguatan rupiah dan langkah BI dapat menjadi penyangga. Investor akan memantau level support 5.600 dan perkembangan sentimen eksternal untuk menilai kelanjutan tren.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Al Azhar Memorial Garden: Pendampingan Keluarga untuk Pemakaman Islami
AMG menegaskan layanan pemakaman berpedoman syariat Islam dan pendampingan 24 jam bagi keluarga berduka saat...
Tips Memulai Bisnis Oriflame untuk Pemula: Cara Praktis dan Fleksibel
Younita Christian Berek berbagi tips memulai bisnis Oriflame: pahami produk, promosikan fleksibel, dan jaga...
Kepercayaan Pelanggan Jadi Modal Utama dalam Bisnis Oriflame
Pelayanan baik, komunikasi terbuka, dan pengalaman pribadi jadi modal utama membangun kepercayaan pelanggan...
Anak SD Kunjungi PLTP Lumut Balai: Belajar Energi Bersih
Puluhan siswa SD mengunjungi PLTP Lumut Balai 24 Juli 2026 untuk belajar energi panas bumi, integritas, dan...
Pengguna KAI Logistik Meningkat, Volume Barang Capai 32,5 Juta Ton
Pengguna KAI Logistik meningkat; volume barang mencapai 32,5 juta ton pada Semester I 2026, disertai upaya e...
Penerimaan Pajak NTT Tembus Rp1,135 Triliun hingga Juni 2026
Realisasi pajak NTT capai Rp1,135 triliun per 30 Juni 2026; PPN dalam negeri jadi penyumbang terbesar dan ke...