Akhir Pekan: IHSG Diprakirakan Terkoreksi Setelah Net Sell Asing
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia diperkirakan kembali terkoreksi akhir pekan ini setelah penutupan pada Selasa, 26 Mei 2026 turun 1,23% disertai aksi jual investor asing. Net sell asing tercatat mencapai Rp1,89 triliun, memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap sentimen global dan teknikal.
Penutupan Bursa dan aksi asing
Pada penutupan Selasa, sebagian besar tekanan datang dari penjualan oleh investor asing. Saham-saham yang paling banyak dilepas asing antara lain:
- TPIA
- BBCA
- BBRI
- BMRI
- BREN
Tekanan jual ini mendorong koreksi indeks yang sebelumnya menunjukkan penguatan volatilitas sejak awal pekan.
Proyeksi teknikal IHSG
Head of Retail Research BNI Sekuritas, Fanny Suherman, memperkirakan koreksi akan berlanjut dengan level teknikal yang perlu diwaspadai oleh investor. Menurut Fanny, area support dan resistansi menjadi acuan dalam mengambil keputusan trading.
"IHSG berpotensi melanjutkan koreksi hari ini. Level support di rentang 6.000-6.070 dan level resistansi di rentang 6.200-6.300."
Jika support di sekitar 6.000–6.070 gagal bertahan, volatilitas dapat meningkat dan memicu tekanan jual lanjutan. Sebaliknya, rebound di atas 6.200 dapat membuka peluang konsolidasi jangka pendek.
Dinamika global dan pengaruh ke pasar Asia
Dinamika geopolitik antara AS dan Iran masih memengaruhi sentimen. Laporan pihak internasional menyebut adanya nota kesepahaman untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari sekaligus melanjutkan pembicaraan program nuklir Iran. Namun, kelanjutan kesepakatan tersebut belum final dan masih menunggu persetujuan pejabat tinggi AS.
"Namun, kesepakatan itu masih menunggu persetujuan Presiden AS, Donald Trump."
Di pasar AS, indeks utama justru mencatat penguatan karena harapan perpanjangan gencatan senjata dan reli saham teknologi yang mendorong optimisme terhadap tren artificial intelligence (AI). Kondisi ini kontras dengan pergerakan bursa kawasan Asia yang cenderung melemah; misalnya, Nikkei 225 turun 0,47%, Hang Seng turun 1,27% dan Kospi melemah 0,53%, sementara bursa Tiongkok daratan mengalami penguatan tipis.
Risiko dan prospek ke depan
Sentimen eksternal dan aliran modal asing menjadi faktor kunci yang harus dipantau pekan ini. Investor disarankan memperhatikan realisasi support 6.000–6.070 dan reaksi pasar terhadap perkembangan geopolitik. Pergerakan IHSG dalam beberapa hari mendatang kemungkinan dipengaruhi kombinasi faktor teknikal dan kebaruan berita global.
Dengan kondisi saat ini, strategi pengelolaan risiko dan pemantauan berita internasional menjadi penting bagi pelaku pasar untuk menghadapi potensi koreksi lebih lanjut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
IHSG Berisiko Terkoreksi, Uji Level 6.200–6.250
IHSG berisiko terkoreksi ke level 6.200–6.250 setelah penutupan 6.315; sentimen minyak, likuiditas M2, dan e...
Airlangga Yakinkan Pengusaha Tiongkok Investasi di Indonesia Menguntungkan
Airlangga ajak 30 pelaku usaha Tiongkok berinvestasi di sektor bernilai tambah, dengan insentif fiskal seper...
Kendal Dampingi UMKM Percepat Sertifikat Halal
Pemkab Kendal mempercepat pendampingan UMKM untuk memperoleh sertifikat halal lewat pembentukan Ekosistem Ha...
Pensiunan Jual Kopi dari Kebun Kulon Progo di Belakang Pasar Ngasem
Pensiunan L. Ernawan jalankan kedai kopi "Belum Ada Nama" di belakang Pasar Ngasem, sumber biji dari kebun K...
Satu Dekade Produksi Arang di Moyudan, Joko Andalkan Kualitas
Produsen arang di Moyudan sejak 2015, Joko Mulyanto andalkan kayu keras dan teknik pendinginan abu untuk men...
MotoGP 2026 Jadi Etalase Produk UMKM Mataram
Pemerintah Kota Mataram mempersiapkan UMKM tampil di MotoGP Mandalika 2026 lewat kurasi, pembinaan, dan peni...