Ekonomi

IHSG Diprakirakan Terkonsolidasi Usai Data Ekonomi Mengejutkan

Bagikan:
Grafik pergerakan IHSG dengan indikator ekonomi dan inflasi Juni 2026

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan terkonsolidasi pada perdagangan Kamis, 2 Juli 2026, setelah serangkaian data ekonomi yang berada di luar ekspektasi. IHSG sehari sebelumnya ditutup menguat 0,92% ke level 5.695.

Proyeksi pergerakan IHSG

Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG akan bergerak di rentang 5.600–5.800 dan lebih cenderung terkonsolidasi. Pergerakan ini dipengaruhi oleh faktor eksternal dan data domestik yang baru dirilis.

"Secara teknikal, IHSG berpeluang terkonsolidasi dan akan bergerak pada kisaran 5.600-5.800," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

Data ekonomi yang menekan pasar

Beberapa indikator utama menunjukkan pelemahan aktivitas ekonomi. Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia per Juni 2026 turun ke 46,9, turun dari level 50 pada bulan sebelumnya dan menandai kontraksi kedua tahun ini.

"Penurunan PMI antara lain disebabkan koreksi pada pesanan baru dan turunnya penjualan ekspor," ujar Tim Phintraco.

Indikator Juni 2026 Catatan
PMI manufaktur 46,9 Kontraksi, terendah sejak Juni 2025
Neraca perdagangan Defisit USD 1,61 miliar Akibat ekspor turun dan impor meningkat
Ekspor (yoy) -5,73% Di bawah ekspektasi +6,4%
Impor (yoy) +22,16% Lebih tinggi dari estimasi +19,5%
Inflasi (yoy) 3,34% Lebih tinggi dari 3,08% dan ekspektasi 3,2%
BI rate Naik 100 bps (ytd) Upaya menahan tekanan devisa

Dorongan inflasi dan faktor harga energi

Inflasi tahunan melonjak ke 3,34% pada Juni 2026. Kenaikan harga bahan bakar, khususnya Pertamax sejak 10 Juni, menjadi salah satu pemicu utama akselerasi inflasi.

"Ini merupakan level inflasi tertinggi sejak Maret 2026, tetapi masih dalam kisaran target Bank Indonesia," kata Tim Phintraco.

Sentimen pasar dan prospek ke depan

Fitch Ratings menilai cadangan devisa Indonesia masih tertekan meski Bank Indonesia sudah menaikkan suku bunga. Tim Phintraco menyebut sentimen investor melemah akibat kekhawatiran soal kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal, termasuk rencana ekspor melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI).

"Sentimen investor masih lemah akibat kekhawatiran akan kredibilitas kebijakan dan disiplin fiskal," ujar Tim Phintraco.

Keseluruhan, kombinasi PMI yang kontraktif, defisit perdagangan, dan inflasi di atas perkiraan mendorong prospek IHSG yang lebih berhati-hati. Pelaku pasar diperkirakan akan memperhatikan data lanjutan dan kebijakan moneter sebelum mengambil posisi agresif.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait