Kemendag Turunkan Harga Referensi CPO Juli 2026 jadi USD1.000,90
Kementerian Perdagangan menetapkan harga referensi minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil/CPO) periode Juli 2026 sebesar USD1.000,90 per metrik ton, turun USD28,61 atau 2,78% dibandingkan bulan sebelumnya. Pengumuman ini disampaikan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri, Tommy Andana, pada Rabu, 1 Juni 2026, yang menyebut melemahnya permintaan global dan tekanan harga minyak nabati sebagai faktor utama.
Penetapan Bea Keluar dan Pungutan Ekspor
Harga referensi CPO menjadi dasar penetapan kebijakan perdagangan ekspor. Pemerintah menetapkan Bea Keluar (BK) CPO sebesar USD148 per MT dan Pungutan Ekspor (PE) sebesar 12,5% dari harga referensi.
Harga referensi CPO akan menjadi acuan penetapan untuk Bea Keluar (BK) dan Pungutan Ekspor (PE).
Perhitungan harga referensi
Harga referensi Juli 2026 dihitung dari rata-rata harga periode 20 Mei–19 Juni 2026 di tiga bursa. Rata-rata masing-masing bursa tercatat sebagai berikut:
| Bursa | Harga (USD/MT) |
|---|---|
| Bursa CPO Indonesia | 890,40 |
| Bursa CPO Malaysia | 1.110,97 |
| Bursa CPO Rotterdam (Belanda) | 1.468,28 |
| Harga referensi CPO Indonesia (ditetapkan) | 1.000,90 |
Karena selisih antar-bursa melebihi ambang USD40, pemerintah menggunakan dua harga yang paling dekat dengan nilai median untuk menentukan acuan akhir.
Kenaikan harga biji kakao
Selain CPO, Kemendag juga menetapkan harga referensi biji kakao per Juli 2026 sebesar USD3.969,56 per MT, naik 3,59% dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini mendorong Harga Patokan Ekspor (HPE) biji kakao menjadi USD3.646 per MT. Untuk komoditas ini, pemerintah menetapkan BK dan PE masing-masing sebesar 7,5%.
Ini ditambah dengan penurunan produksi di negara-negara produsen utama di Afrika Barat.
Implikasi kebijakan
Penetapan harga referensi dan tarif ekspor ini berpengaruh pada pendapatan negara serta margin eksportir. Penurunan harga referensi CPO memperkecil dasar perhitungan pungutan, sementara kenaikan harga biji kakao dapat meningkatkan HPE dan potensi penerimaan ekspor.
Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga internasional dan kondisi pasokan untuk penetapan kebijakan selanjutnya, terutama memasuki musim panen dan perubahan permintaan global.
Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.
Berita Terkait
KAI-KCIC EduTrain: 81 Anak Panti Ikuti Perjalanan Edukatif
KAI dan KCIC menggelar EduTrain Jakarta–Bandung pada 18 Agustus 2026 untuk mendidik 81 anak panti lewat perj...
KAI Layani 216.158 Penumpang pada Puncak Libur Kemerdekaan
KAI melayani 216.158 penumpang pada puncak libur 17 Agustus; total 800.651 penumpang selama 14–17 Agustus 20...
LPDB Koperasi Salurkan Rp22,13 Triliun dalam 20 Tahun
LPDB Koperasi menyatakan telah menyalurkan Rp22,13 triliun ke 3.909 koperasi di 36 provinsi selama 20 tahun,...
Rupiah Melemah 0,36% Terdorong Kenaikan Harga Minyak
Rupiah ditutup melemah 0,36% ke Rp17.862, tertekan kenaikan harga minyak dan risiko geopolitik yang memengar...
IHSG Menguat 0,75% pada Penutupan 18 Agustus 2026
IHSG ditutup menguat 0,75% pada 18 Agustus 2026 di level 6.449,83, didorong sentimen domestik meski tekanan...
OJK: Sektor Jasa Keuangan Harus Kuat untuk Dukung Pembangunan
Ketua OJK Friderica Widyasari Dewi menegaskan sektor jasa keuangan harus kuat, inklusif, dan terlindungi unt...