Ekonomi

IHSG Berisiko Melemah, Berpotensi Uji Level Psikologis 6.000

Bagikan:
Grafik IHSG melemah mengarah ke level psikologis 6000

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan masih berisiko melemah pada perdagangan Kamis, 30 Juli 2026, dan berpeluang menguji level psikologis 6.000. Sentimen negatif datang dari pelemahan saham properti, aliran keluar modal asing, serta dinamika teknikal dan eksternal yang mempengaruhi pasar.

Pelemahan pada penutupan sebelumnya

Pada penutupan perdagangan Rabu, IHSG tercatat turun 0,64 persen ke level 6.091. Kontraksi ini terutama dipicu oleh anjloknya saham-saham properti yang mencatat penurunan terbesar hingga -2,75 persen. Di sisi lain, saham-saham sektor teknologi masih mencatat kenaikan terbatas, tertinggi sekitar 0,18 persen.

Proyeksi teknikal dan sentimen pasar

Tim Analis Phintraco Sekuritas memprakirakan IHSG akan menguji level psikologis 6.000 karena kombinasi sentimen eksternal dan internal serta faktor teknikal. Mereka menyoroti bahwa tekanan berasal dari beberapa front, termasuk evaluasi indeks dan arus modal asing.

"Ini berlangsung di tengah berbagai sentimen eksternal dan internal serta faktor teknikal," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

Hasil evaluasi Indeks IDX BUMN20

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengumumkan hasil evaluasi mayor Indeks IDXBUMN20 yang berlaku mulai 5 Agustus 2026 hingga 2 Februari 2027. Pada evaluasi kali ini, tidak ada perubahan konstituen sehingga seluruh 20 saham tetap tercantum dalam indeks. Namun, BEI melakukan penyesuaian jumlah saham untuk perhitungan indeks dan bobot masing-masing emiten.

"Pada evaluasi kali ini tidak ada perubahan konstituen, sehingga seluruh 20 saham tetap menjadi penghuni indeks," ujar Tim Phintraco.

Beberapa saham mengalami penyesuaian bobot. Berikut ringkasan pergerakan bobot:

  • Saham yang turun bobot: BBRI, BMRI, BBNI, TLKM (setelah penerapan batas maksimal 15%).
  • Saham yang naik bobot: ANTM, PGAS, MTEL, BRIS, PTBA.

Reformasi pasar modal dan pengaruh global

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama Self Regulatory Organization (SRO) terus memperkuat reformasi pasar modal Indonesia. MSCI direncanakan melakukan peninjauan terhadap langkah reformasi BEI pada November 2026. Sementara itu, OJK menargetkan peraturan terkait demutualisasi BEI terbit pada minggu kedua September 2026.

Aliran modal asing

Perdagangan saham di BEI masih dibayangi aliran keluar modal asing. Pada Rabu, 29 Juli 2026, investor asing melakukan net sell sebesar Rp183,81 miliar, yang menambah tekanan pada pasar domestik.

Ke depan, pelaku pasar diperkirakan akan mengawasi pergerakan saham-saham properti dan respons pasar terhadap penyesuaian bobot indeks. Level psikologis 6.000 menjadi titik kunci yang menentukan arah jangka pendek IHSG, sementara pengumuman BEI dan arus modal asing akan menjadi faktor penggerak utama.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait