Ekonomi

80% Ekspor Sawit Indonesia Sudah Berbentuk Produk Hilir

Bagikan:
Perkebunan sawit dan proses pengolahan produk hilir

Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan Umum BPDP Kemenkeu, Zaid Burhan Ibrahim, menyatakan lebih dari 80 persen ekspor sawit Indonesia kini berbentuk produk hilir. Pernyataan disampaikan di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Rabu, 29 Juli 2026, menanggapi kontribusi sawit terhadap devisa dan pembangunan ekonomi nasional.

Transformasi struktur ekspor dan nilai devisa

Zaid menyebutkan nilai ekspor sawit Indonesia mencapai lebih dari USD20 miliar per tahun. Perubahan struktur ekspor itu menunjukkan hilirisasi berjalan dan menambah nilai pada rantai pasok nasional.

Nilai ekspor sawit Indonesia setiap tahunnya mencapai lebih dari USD20 miliar. Ini membuat komoditas tersebut menjadi salah satu penyumbang devisa terbesar bagi negara.

Sekarang, menurutnya, lebih dari 80 persen ekspor sawit bukan lagi minyak mentah, melainkan produk olahan. Contoh produk hilir meliputi:

  • Crude Palm Oil (CPO) untuk pangan
  • Oleokimia untuk consumer goods
  • Biofuel sebagai sumber energi

Peran pekebun rakyat dan dampak ekonomi

BPDP mencatat peran pekebun rakyat sangat signifikan. Pekebun rakyat menyumbang 41 persen dari luas industri sawit nasional dan menghasilkan lebih dari 16 juta ton produk per tahun.

Sektor sawit juga menjadi bagian penting dari sektor pertanian, yang menjadi penopang utama perekonomian nasional. Namun, yang terpenting adalah peran besar pekebun rakyat yang mencakup 41 persen dari industri sawit nasional.

Secara ketenagakerjaan, sektor sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja. Angka tersebut meliputi pekerja langsung di perkebunan serta pekerja di transportasi, logistik, dan pelaku UMKM terkait.

Kontribusi sektor perkebunan terhadap PDB tercatat sekitar 4,5 persen pada 2025, yang menunjukkan peran ekonomi sawit melampaui sekadar komoditas ekspor.

Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR)

Untuk menjaga produktivitas, BPDP menjalankan Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dalam bentuk hibah. Program ini memberikan dukungan per hektar guna meremajakan kebun sawit yang sudah tua.

Bantuan PSR diberikan dalam bentuk dana sebesar Rp60 juta per hektar per orang, dengan maksimal alokasi untuk 4 hektar per pekebun. Skema ini dimaksudkan untuk meningkatkan produktivitas tanpa memperluas lahan.

Tantangan produktivitas dan prospek ke depan

Zaid menegaskan tantangan terbesar adalah meningkatkan produktivitas tanpa menambah luas lahan. Pendekatan peremajaan dan hilirisasi dianggap kunci untuk menjaga pertumbuhan berkelanjutan.

Yaitu bagaimana meningkatkan produktivitas sawit tanpa perlu menambah lahan.

Dengan struktur ekspor yang bergeser ke produk hilir dan program dukungan ke pekebun rakyat, pemerintah berharap nilai tambah dan penyerapan tenaga kerja sektor sawit terus meningkat. Ke depan, fokus akan tetap pada peningkatan produktivitas dan keberlanjutan industri sawit nasional.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait