IHSG Tertekan, BEI Ingatkan Investor Ambil Keputusan Rasional
Bursa Efek Indonesia (BEI) mengimbau investor untuk tetap rasional saat membuat keputusan investasi menjelang dan selama tekanan pada Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pernyataan ini disampaikan oleh Pejabat Sementara Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik, di Gedung BEI pada Kamis, 4 Juni 2026, menanggapi pelemahan IHSG hampir sepekan terakhir.
Respons BEI terhadap pelemahan IHSG
IHSG sempat turun hampir 5 persen pada Rabu, 3 Juni 2026, sebelum bergerak lebih stabil. Menyikapi kondisi itu, BEI menekankan pentingnya keputusan investasi yang mempertimbangkan profil risiko masing-masing investor dan fundamental perusahaan.
"Kami tentu tidak bosan-bosannya mengingatkan kepada investor untuk mengambil keputusan investasi secara rasional dan memperhatikan fundamental. Serta berinvestasi sesuai dengan profil risiko masing-masing investor,"
Fundamental pasar modal tetap sehat
Jeffrey menyatakan bahwa meski indeks bergerak melemah, fundamental pasar modal Indonesia tetap dalam kondisi baik. Hal ini didasarkan pada laporan keuangan emiten per akhir 2025 dan kinerja kuartal pertama 2026.
Menurut BEI, capaian ini terlihat dari beberapa indikator kinerja emiten.
- Pertumbuhan laba kolektif emiten lebih dari 21 persen per 2025.
- Untuk kelompok LQ45, pertumbuhan laba bersih mencapai hampir 29,9 persen.
- Pada kuartal pertama 2026, sekitar 80 persen perusahaan tercatat membukukan laba bersih.
Perbandingan historis dan arti bagi investor
BEI menyoroti bahwa angka 80 persen perusahaan yang mencatat laba bersih pada kuartal pertama 2026 merupakan persentase tertinggi dalam lima tahun terakhir. Pada 2020, hanya 63 persen perusahaan yang mencatat laba bersih, sedangkan periode 2021-2025 bergerak di kisaran 73-76 persen.
Jeffrey menegaskan bahwa faktor fundamental ini bisa menjadi landasan bagi investor dalam membuat keputusan, terutama saat pasar mengalami volatilitas.
Kebijakan dan klarifikasi informasi pasar
Untuk menjaga pasar tetap sehat, BEI juga menerapkan kebijakan yang mendukung kestabilan perdagangan, termasuk kebijakan buyback tanpa RUPS yang masih berlaku saat ini.
Selain itu, BEI meluruskan informasi yang beredar mengenai status Indonesia di indeks global. Jeffrey menyatakan adanya kabar yang menyebut pengumuman MSCI menempatkan Indonesia ke kategori frontier market adalah tidak benar.
"Informasi itu salah,"
Ia mengimbau investor untuk melakukan verifikasi silang terhadap informasi pasar sebelum mengambil keputusan, serta menegaskan langkah-langkah BEI agar Indonesia tetap berada pada kategori emerging market.
Dengan demikian, meski IHSG mengalami tekanan jangka pendek, BEI menilai fundamental emiten mendukung prospek pemulihan pasar asalkan investor membuat keputusan berdasarkan data yang akurat dan sesuai profil risiko.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Galaxy Watch Ultra2: Smartwatch Tangguh untuk Aktivitas Outdoor
Galaxy Watch Ultra2 hadir dengan ketahanan ekstrem dan analitik kesehatan berbasis AI, cocok untuk pelari tr...
NSIG Perkuat Jejaring Global Dorong Investasi Berkelanjutan di Sulut
NSIG perkuat jejaring global untuk menarik investasi berkelanjutan ke Sulawesi Utara lewat riset, B2B, dan b...
Chery Avante Buka Diler di Magelang, Harga di Bawah Rp300 Juta
Chery Avante membuka diler di Magelang (24 Juli 2026); harga di bawah Rp300 juta dan layanan penjualan serta...
Anggota Oriflame: Lebih dari Sekadar Menjual Produk
Younita, anggota Oriflame sejak 2020, menyebut keanggotaan soal mencoba produk, harga member gratis, dan par...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 per Gram - 25 Juli 2026
Harga emas Antam naik Rp7.000 per gram jadi Rp2.612.000 (25 Juli 2026); buyback juga naik. Simak rincian har...
Komisi VI Apresiasi Kinerja Positif Pelindo Semester I 2026
Komisi VI DPR mengapresiasi capaian positif Pelindo Semester I 2026 setelah kunjungan kerja di Surabaya; Pel...