IFP Bantu Pembelajaran Inklusif di SLB YPCC Banda Aceh
Interactive Flat Panel (IFP) kini digunakan di SLB YPCC Banda Aceh untuk membuat pembelajaran lebih inklusif dan interaktif bagi anak berkebutuhan khusus. Perangkat ini membantu guru menyajikan materi sesuai karakter belajar siswa, termasuk yang berpenglihatan terbatas dan tunanetra.
Manfaat IFP untuk siswa berkebutuhan khusus
Keberadaan Interactive Flat Panel mengubah dinamika kelas. Layar dapat menampilkan gambar yang diperbesar, memutar audio, dan menayangkan video yang memudahkan pemahaman siswa dengan kebutuhan visual dan auditori.
Bagi murid low vision, tampilan yang bisa diperbesar memudahkan menangkap materi. Sementara murid tunanetra mendapatkan akses lewat narasi audio dan kombinasi materi dengan huruf Braille.
Pengalaman guru di kelas
Guru Kelas Hambatan Penglihatan SLB YPCC Banda Aceh, Novi Widiastuti, menyatakan perubahan signifikan setelah penggunaan IFP. Pernyataan ini disampaikan dalam keterangan tertulis, dikutip Selasa, 30 Juni 2026.
"Interactive Flat Panel sangat membantu pembelajaran, terutama bagi murid tunanetra yang mengandalkan informasi melalui audiovisual."
Novi menjelaskan bahwa sebelumnya ia mengandalkan buku Braille, speaker, dan laptop. Kini, pilihan media lebih beragam sehingga pembelajaran menjadi lebih interaktif dan meningkatkan kepercayaan diri siswa.
"Saya bisa memperbesar huruf dan gambar untuk murid low vision, sementara murid tunanetra dapat belajar melalui narasi, audio, video, serta materi yang dipadukan dengan huruf Braille. Pembelajaran menjadi jauh lebih interaktif dan membuat murid lebih percaya diri mengakses materi."
Penggunaan untuk anak autisme
Manfaat IFP juga dirasakan di kelas anak autisme. Guru kelas IIIQ, Anggawinata, mengatakan kombinasi gambar, suara, dan animasi membantu meningkatkan fokus dan pemahaman anak yang sebelumnya sulit berkonsentrasi.
"Anak autisme lebih mudah belajar lewat gambar dan suara. Dulu ada murid yang sulit fokus dan sering tantrum, tetapi ketika saya memutar video pembelajaran di IFP, ia bisa duduk tenang hingga selesai dan fokus memperhatikan layar,"
Tantangan: pengawasan dan kesiapsiagaan guru
Meskipun memberi banyak manfaat, penggunaan teknologi ini tetap memerlukan pendampingan intensif. Anggawinata mengingatkan pentingnya pengawasan, terutama terhadap murid yang rentan tantrum.
"Guru harus selalu mendampingi ketika anak menggunakan IFP. Saat anak sedang tantrum, ada risiko mereka merusak layar tanpa disadari. Karena itu pengawasan yang intens dan kesiapsiagaan guru menjadi bagian penting. Sehingga pembelajaran tetap aman dan efektif,"
Harapan ke depan
Kedua guru berharap jumlah unit IFP ditambah di setiap kelas. Dengan lebih banyak perangkat, pembelajaran dapat dibuat lebih ramah bagi anak berkebutuhan khusus. Tujuannya, memperluas akses pendidikan inklusif yang menarik dan sesuai cara belajar tiap siswa.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Wapres Tinjau SD Inpres 76 Wairklau Pastikan Pendidikan Pascabencana
Wapres Gibran meninjau SD Inpres 76 Wairklau pada 20 Agustus 2026 untuk memastikan pendidikan anak tetap jad...
Kemenhub Galang Bantuan untuk Korban Gempa NTT, Distribusi via KM Tidar
Kemenhub menggalang bantuan ASN untuk korban gempa NTT (15-22 Agustus 2026) dan kirim lewat KM Tidar ke Flor...
Polri Raih Rekor MURI lewat Penanaman Bawang Putih Serentak
Polri raih rekor MURI lewat penanaman bawang putih serentak di 279,53 ha, melibatkan 59 Polres di 14 Polda,...
GMF Rampungkan Modernisasi Hercules C-130H A-1319
GMF menyelesaikan modernisasi Hercules C-130H A-1319, memperpanjang masa operasional hingga 20 tahun dan men...
Wapres Gibran Tinjau Gempa NTT, Libatkan Mahasiswa untuk Trauma Healing
Wapres Gibran bertolak ke NTT 20 Agustus 2026 untuk memantau penanganan gempa; mahasiswa dilibatkan dalam tr...
KAI Commuter Imbau Antisipasi Gangguan KRL Pasca Dua Insiden
KAI Commuter minta penumpang antisipasi gangguan KRL usai dua insiden yang menyebabkan keterlambatan pada 20...