Wamenkomdigi: Humas Wajib Jadi Penjernih Informasi Publik
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria, menegaskan bahwa humas harus berperan sebagai penjernih informasi untuk menjaga kepercayaan publik. Pernyataan itu disampaikan saat keterangan pers di Jakarta, Senin 13 Juli 2026, menyusul meningkatnya arus disinformasi, misinformasi, dan perkembangan Artificial Intelligence yang memengaruhi lanskap komunikasi.
Ancaman disinformasi di era post-truth
Nezar menilai teknologi komunikasi modern telah membawa dunia ke era post-truth, di mana batas antara fakta dan fiksi semakin kabur. Menurutnya, platform digital dan smartphone menjadikan berita cepat tersebar, tetapi kualitas kebenaran sering tergerus sentimen publik.
Akibatnya, masyarakat terus menerima disinformasi, misinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian melalui perangkat digital setiap hari. Wamenkomdigi mengingatkan bahwa ini bukan masalah lokal, melainkan salah satu risiko global.
Humas sebagai clearing house of information
Lebih jauh, Nezar mengatakan fungsi humas tidak cukup sekadar melaporkan capaian kinerja organisasi. Humas harus aktif menjadi clearing house of information yang memastikan informasi yang diterima publik benar dan dapat dipercaya.
Peran humas menjadi sangat penting ketika noise dalam lanskap komunikasi semakin besar. Karena itu, humas harus mampu menjadi clearing house of information yang memastikan publik memperoleh informasi yang benar dan dapat dipercaya.
Dia menekankan pentingnya peran profesi humas dalam menyaring informasi, menjelaskan konteks, dan meredam penyebaran konten yang menyesatkan.
Peran organisasi profesi dan langkah ke depan
Wamenkomdigi juga merujuk pada kajian World Economic Forum yang menempatkan disinformasi dan misinformasi sebagai salah satu global top risk. Karena itu, penanganan masalah ini dianggap lebih dari sekadar komunikasi publik biasa.
Nezar menilai organisasi profesi seperti PERHUMAS memiliki posisi strategis untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel. Dengan peran tersebut, humas diharapkan meningkatkan kualitas komunikasi publik dan memperkuat kepercayaan masyarakat.
Disinformasi bukan lagi persoalan komunikasi semata, tetapi sudah menjadi ancaman global. Karena itu, organisasi profesi seperti PERHUMAS memiliki posisi yang sangat strategis untuk membangun ekosistem informasi yang kredibel dan meningkatkan kualitas komunikasi publik.
Penegasan ini menempatkan humas di garis depan upaya melawan arus informasi keliru, sekaligus menuntut peningkatan kapasitas dan etika profesi. Ke depan, langkah nyata dari organisasi dan pemerintah akan menentukan efektivitas perlindungan informasi publik.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Siapkan Pusat Rehabilitasi untuk Warga Binaan Narkotika
Pemerintah siapkan pusat rehabilitasi dan reedukasi bagi warga binaan pengguna narkotika untuk atasi overkap...
BMKG Waspadai Hujan Lebat, Petir, Angin Kencang 5-8 Okt
BMKG keluarkan peringatan dini hujan lebat, petir, dan angin kencang pada 5-8 Oktober 2026; waspadai empat w...
Prabowo Pimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap
Presiden Prabowo memimpin Parade HUT ke-81 TNI di Mabes Cilangkap, 5 Oktober 2026; melibatkan 3.378 personel...
HUT TNI ke-81: DPR Dorong Modernisasi Hadapi Perang Modern
DPR mendesak modernisasi alutsista dan peningkatan pelatihan TNI menjelang HUT ke-81, seiring anggaran 2027...
Dua Induk Badak Sumatera Bunting di Way Kambas, Harapan Konservasi
Dua induk badak sumatera, Ratu dan Delilah, dinyatakan bunting di Suaka Rhino Sumatra Way Kambas; pemantauan...
Prabowo Minta Bakom Gunakan Bahasa Sederhana dan Dengarkan Rakyat
Presiden Prabowo minta Bakom gunakan bahasa sederhana, jelaskan alasan kebijakan, dan dengarkan masukan masy...