Harga Telur Turun, Peternak Minta Penyerapan Produksi Maksimal
Harga telur ayam di tingkat peternak terus menurun dalam dua bulan terakhir, memicu tekanan biaya produksi. Kondisi ini terjadi di berbagai provinsi, termasuk Jawa Timur dan Jawa Barat, sehingga peternak meminta penyerapan produksi yang lebih maksimal agar harga stabil.
Data harga dan kondisi lapangan
Di lapangan, harga telur peternak tercatat berada di kisaran Rp21 ribuan/kg di Jawa Timur dan Rp22.500/kg di Jawa Barat. Angka ini masih berada di bawah acuan harga pemerintah dan jauh lebih rendah dibanding harga di tingkat konsumen.
Penurunan harga terjadi sejak dua bulan terakhir. Peternak melaporkan pasokan yang melimpah sementara permintaan belum setara, sehingga harga terus tertekan.
Penyebab turunnya harga
Salah satu penyebab utama adalah ketidakseimbangan antara suplai dan permintaan. Selanjutnya, kenaikan biaya pakan turut menekan margin peternak, terutama kelompok UMKM yang paling rentan.
Kenaikan pakan terjadi karena sebagian besar bahan baku masih bergantung pada impor dan terpengaruh nilai tukar. Dampaknya, biaya produksi naik meski harga jual telur turun.
Harga pakan naik karena pengaruh dolar dan biaya impor. Peternak UMKM menjadi yang paling terdampak,
Upaya dan rekomendasi peternak
Peternak telah melakukan beberapa langkah untuk menekan biaya dan menyesuaikan pasokan. Langkah tersebut mencakup pengurangan populasi indukan tua dan peningkatan penjualan langsung ke konsumen untuk menaikkan margin.
- Pengurangan indukan berusia tua untuk menekan biaya produksi.
- Menjual langsung ke konsumen untuk memperoleh margin lebih baik.
- Mendorong penyerapan produksi oleh program pemerintah dan bantuan sosial berbasis telur.
Kalau SPPG langsung membeli ke produsen, harga bisa lebih stabil. Saat ini banyak yang masih membeli melalui trader,
Peran program pemerintah dan prospek
Peternak menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) berpotensi membantu stabilisasi harga bila penyerapan dilakukan langsung ke produsen. Namun, realisasi pembelian sesuai harga acuan belum optimal meski ada pertemuan antara peternak dan pemerintah.
Kami berharap produksi peternak bisa terserap lebih banyak. Dengan begitu usaha peternak tetap berjalan dan masyarakat juga terbantu,
Pemerintah saat ini memberi bantuan berupa subsidi jagung yang membantu menekan biaya pakan. Meski demikian, langkah ini belum menyelesaikan persoalan penurunan harga di tingkat peternak.
Untuk menahan tekanan harga, peternak berharap penyerapan oleh program pemerintah diperluas dan bantuan sosial berbasis telur digalakkan. Konsistensi pelaksanaan regulasi dan realisasi pembelian menjadi kunci agar harga kembali stabil.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Beasiswa BPDDI 2026 Dibuka, Dosen Berkesempatan Kuliah S3 Gratis
Kemdiktisaintek membuka Beasiswa BPDDI 2026 untuk dosen perguruan tinggi, menyediakan dana hidup, transporta...
15 Siswa Sekolah Rakyat Tampil di JFC 2026 dengan Karya Daur Ulang
15 siswa Sekolah Rakyat Jember tampil di JFC 2026 (24–26 Juli) memamerkan kostum daur ulang dan mengasah kre...
Uskup Asia Puji Masjid Istiqlal sebagai Simbol Persaudaraan
Kardinal dan uskup FABC menutup Sidang Pleno ke-12 dengan mengunjungi Masjid Istiqlal, simbol persaudaraan l...
Delegasi FABC Kagumi Masjid Istiqlal: Simbol Persaudaraan
Penutupan FABC ke-12 berakhir dengan kunjungan 154 delegasi ke Masjid Istiqlal, menegaskan persaudaraan dan...
Menlu Sugiono Dorong Revitalisasi ARF untuk Hadapi Tantangan Keamanan
Menlu Sugiono mendorong revitalisasi ARF agar lebih responsif terhadap tantangan keamanan kawasan dan menged...
MUI Dorong Zakat Jadi Pengurang Pajak Langsung
MUI mengusulkan zakat diakui sebagai tax credit (pengurang pajak langsung) untuk mencegah beban ganda dan me...