DPRD Jatim: Anjloknya Harga Telur Ancaman bagi Peternak
Surabaya, 5 Juni 2026 — Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Ony Setiawan meminta pemerintah segera melindungi peternak ayam petelur yang tertekan oleh anjloknya harga telur.
Permintaan itu disampaikan saat Bimbingan Teknis Fraksi PDI Perjuangan se-Indonesia di Bali, setelah data menunjukkan harga telur di tingkat peternak turun menjadi Rp21.000–Rp23.000 per kilogram.
Harga di bawah biaya produksi
Ony menilai penurunan harga terjadi sementara biaya produksi dan pakan tetap tinggi. Menurutnya, harga jual saat ini tidak mampu menutup biaya pokok produksi yang diperkirakan mencapai sekitar Rp23.000 per kilogram.
Akibatnya, sebagian peternak terpaksa menjual di bawah biaya produksi dan menanggung kerugian operasional.
"Biaya pakan masih tinggi, sementara daya serap pasar dan daya beli masyarakat menurun,"
kata Ony di sela kegiatan Bimtek, Jumat (5/6/2026).
Penyebab: pasokan berlebih dan pakan impor
Menurut Ony, salah satu penyebab utama anjloknya harga adalah over supply atau melimpahnya pasokan telur di pasar. Produksi tinggi tidak diimbangi peningkatan konsumsi sehingga harga terus turun di tingkat peternak.
Selain itu, ketergantungan pada bahan baku impor turut memperburuk kondisi. Fluktuasi harga komoditas global membuat biaya pakan sulit turun meski harga telur melemah.
"Kedelai kita hampir 90 persen masih impor. Ini berdampak pada biaya pakan yang tetap tinggi meskipun harga telur turun,"
ujarnya.
Langkah yang diminta
Ony mendesak pemerintah pusat dan daerah untuk segera mengambil langkah konkret. Ia menekankan perlunya kebijakan stabilisasi harga dan perluasan serapan pasar agar surplus produksi tidak terus menekan harga di tingkat peternak.
- Memperkuat kebijakan stabilisasi harga dan mekanisme intervensi pasar.
- Mengoptimalkan program pemerintah yang membutuhkan pasokan protein hewani agar menyerap produksi telur domestik.
- Mendorong substitusi bahan baku pakan lokal untuk mengurangi ketergantungan impor kedelai.
Konteks ketahanan pangan
Ony mengingatkan bahwa peternak rakyat adalah bagian penting dari sistem ketahanan pangan nasional. Jika usaha peternak terus tertekan, pasokan protein hewani domestik berisiko terganggu.
Ia berharap kebijakan yang hadir dapat menjaga keseimbangan antara produksi, harga, dan keberlanjutan usaha peternak rakyat, sehingga mereka memiliki kepastian usaha di tengah tantangan ekonomi saat ini.
Untuk informasi terkait, ada tautan terkait yang memuat kegiatan dan pernyataan lebih lanjut.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Ribuan Warga Sukorejo Gelar Kirab Budaya dan Haul Eyang Singonoyo
Ribuan warga Sukorejo menggelar Kirab Budaya dan Haul Eyang Singonoyo pada 25 Juli 2026, menampilkan tumpeng...
Musran Serentak PDI Nganjuk Tetapkan Kuota 40% Perempuan & Pemuda
DPC PDI Perjuangan Nganjuk gelar Musran serentak 25–26 Juli 2026; kepengurusan ranting wajib 40% perempuan d...
Suko Widodo: PDI Perjuangan Harus Jadi Kompas Generasi Muda
Suko Widodo minta PDI Perjuangan bentuk sekolah politik yang ajarkan working ideology agar nasionalisme jadi...
Suko Widodo: PDI Perjuangan Jadi Kompas bagi Generasi Muda
Suko Widodo minta PDI Perjuangan jadi kompas generasi muda lewat sekolah politik yang mengajarkan working id...
Bantuan Alat Produktif untuk KTH di Blitar Dongkrak Nilai Tambah
Dua KTH di Blitar menerima Alat Ekonomi Produktif untuk meningkatkan nilai tambah pertanian dan kesejahteraa...
Rocky Gerung: Burnout Generasi Muda Butuh Marhaenisme
Rocky Gerung menyebut kegelisahan politik anak muda bukan apatisme melainkan "burnout society", dan mengusul...