Harga Emas Diprediksi Naik Jika AS-Iran Sepakati Perdamaian
Harga emas diperkirakan kembali menguat pada bulan Juni 2026 jika Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman perdamaian. Prediksi itu disampaikan oleh Analis Pasar Uang Ibrahim Assuibi pada 15 Juni 2026, menjelang rencana penandatanganan yang akan digelar di Swiss pada 19 Juni 2026.
Inti prediksi dan pemicu kenaikan
Ibrahim mengatakan kesepakatan damai dan dibukanya kembali Selat Hormuz dapat menekan harga minyak dan melemahkan dolar AS. Kondisi itu mendorong investor beralih ke emas sebagai aset aman, sehingga harga berpotensi naik.
Penjanjian damai antara AS dan Iran dan dibukanya kembali Selat Hormuz akan membuat harga emas kembali berkilau. Perkiraannya bulan ini harga emas menuju USD4.875 per troi ons.
- Ibrahim Assuibi, Analis Pasar Uang (15 Juni 2026)
Harga saat ini dan proyeksi teknikal
Berdasarkan laman harga-emas.org, harga emas dunia tercatat di level USD4.308,98 per troi ons. Harga emas Antam di pasar domestik berada pada posisi Rp2.729.000 per gram.
Ibrahim memproyeksikan level support dan resistansi untuk pergerakan pekan depan:
- Support emas dunia: USD4.058 - USD3.929 per troi ons
- Support emas domestik: Rp2.610.000 - Rp2.500.000 per gram
- Resistansi emas dunia jika menguat: USD4.394 - USD4.571 per troi ons
- Resistansi emas Antam: Rp2.740.000 - Rp2.880.000 per gram
Faktor makro yang memengaruhi
Selain geopolitik, keputusan kebijakan moneter bank sentral besar juga jadi penentu. Bank Sentral Eropa, Bank of England, dan Bank of Japan dijadwalkan memutuskan tingkat suku bunga minggu depan. Ibrahim memperkirakan bank-bank sentral tersebut cenderung menaikkan suku bunga mengingat inflasi yang masih tinggi akibat kenaikan harga minyak.
Di AS, data inflasi menunjukkan kenaikan signifikan pada Mei 2026 untuk indeks harga konsumen dan indeks harga produsen. Kondisi ini meningkatkan kemungkinan The Fed mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga, yang biasanya menekan harga emas.
Prospek dan skenario
Ibrahim menegaskan ada dua skenario utama: jika nota kesepahaman AS-Iran ditandatangani dan harga minyak terus turun, The Fed memiliki peluang lebih besar untuk menurunkan suku bunga, yang akan mendukung kenaikan emas. Sebaliknya, jika geopolitik tetap tegang dan suku bunga naik, tekanan pada harga emas masih mungkin berlanjut.
Pergerakan harga emas pekan ini akan mengikuti dinamika kombinasi geopolitik dan kebijakan moneter global.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Desa Bugisan Kembangkan Wisata Budaya, Pendapatan Naik 56%
Desa Bugisan, Klaten, tingkatkan pendapatan wisata 56,3% jadi Rp767 juta lewat pengembangan seni, UMKM, dan...
DSI Dinilai Efektif Tekan Under Invoicing, Cakupan Diperluas
DSI dinilai efektif menekan under invoicing pada ekspor; pengawasan kini mencakup batu bara, sawit, dan ferr...
Promo Whoosh HUT ke-81: Tiket Mulai Rp8.800, Diskon hingga Rp200.000
KCIC tawarkan tiket Whoosh mulai Rp8.800 (7-17 Agustus 2026) dan potongan hingga Rp200.000 lewat Traveloka;...
CRESTA: Hunian Tepi Danau dengan Cicilan Mulai Rp3 Juta-an
Damai Putra Group luncurkan CRESTA, hunian tepi danau di Kota Harapan Indah dengan cicilan mulai Rp3 juta-an...
Harga Emas Antam Naik Rp11.000, Jadi Rp2,675 Juta/gram
Harga emas Antam naik Rp11.000 per gram pada 15 Agustus 2026, menjadi Rp2.675.000/gram; berikut daftar harga...
OJK Tegaskan Demutualisasi BEI Tak Kurangi Pengawasan
OJK menegaskan demutualisasi BEI tidak mengurangi kewenangan pengawasan dan RPOJK ditargetkan efektif kuarta...