DEN: Fundamental Ekonomi Indonesia Berbeda dari Krisis 1998
Dewan Ekonomi Nasional (DEN)
Kondisi makro dan pertumbuhan
Firman menyoroti pertumbuhan ekonomi kuartal pertama 2026 sebesar 5,61% sebagai salah satu bukti fundamental yang solid. Angka ini disebut sebagai salah satu tingkat pertumbuhan tertinggi di Asia pada periode tersebut. Selain itu, permintaan domestik dan posisi kas korporasi disebut cukup baik untuk menghadapi guncangan eksternal.
Ketahanan korporasi dan sistem perbankan
DEN mencatat neraca korporasi lebih sehat karena porsi utang dalam dolar yang kini lebih rendah dibanding 1998. Posisi kas perusahaan relatif tinggi sehingga kemampuan mitigasi terhadap ketidakpastian meningkat. Dari sisi perbankan, DEN menyebut modal perbankan berada pada level kuat.
"Kalau kita lihat posisi cash dari perusahaan juga dalam posisi yang tinggi. Jadi ketidakpastian yang terjadi mereka masih cukup bisa mitigasi," kata Mochammad Firman Hidayat.
Firman juga menegaskan rasio kecukupan modal bank berada di atas 25%. Angka ini dipaparkan sebagai indikator bahwa capital adequacy ratio perbankan memadai untuk menahan tekanan kredit dan likuiditas.
"Dari sisi perbankan, kita juga bisa lihat capital adequacy ratio dalam posisi di atas 25. Ini menunjukkan sistem perbankan kita cukup kuat," ujar Firman.
Risiko global dan implikasi
Meski fundamental dinilai kuat, DEN mengingatkan pemerintah agar tetap waspada terhadap gejolak global. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Iran diperkirakan memberi tekanan berkepanjangan pada harga energi dunia. Tekanan itu, menurut DEN, bisa menyebabkan pelemahan rupiah dan kenaikan biaya produksi serta distribusi.
"Dampak perang ini kenaikan energi global. Kemudian pelemahan rupiah ini bisa berdampak pada kenaikan biaya produksi dan distribusi," kata Firman.
DEN telah menyampaikan masukan kebijakan kepada Presiden terkait langkah mitigasi dan antisipasi risiko eksternal. Rekomendasi tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas makro dan daya beli masyarakat selama periode ketidakpastian global.
Ke depan, fokus kebijakan diarahkan pada penguatan cadangan devisa, pengendalian inflasi, dan langkah fiskal yang mendukung pemulihan berkelanjutan tanpa mengorbankan kestabilan sistem keuangan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pelanggan Disabilitas KAI Naik 200,41% pada Semester I 2026
KAI melaporkan 2.953 pelanggan disabilitas memanfaatkan tarif reduksi 20% pada Jan–Jun 2026, naik 200,41% di...
Jadwal Kapal Roro Sabang-Banda Aceh 27 Juli 2026
Jadwal Kapal Roro Banda Aceh–Sabang 27 Juli 2026: KMP BRR dan KMP Aceh Hebat 2 beroperasi, perjalanan sekita...
Harga Emas Hari Ini Turun, Investor Diminta Cermati
Harga emas domestik turun tipis pada 21 Juli 2026; Antam dan Pegadaian mencatat koreksi, sementara permintaa...
Al Azhar Memorial Garden: Pendampingan Keluarga untuk Pemakaman Islami
AMG menegaskan layanan pemakaman berpedoman syariat Islam dan pendampingan 24 jam bagi keluarga berduka saat...
Tips Memulai Bisnis Oriflame untuk Pemula: Cara Praktis dan Fleksibel
Younita Christian Berek berbagi tips memulai bisnis Oriflame: pahami produk, promosikan fleksibel, dan jaga...
Kepercayaan Pelanggan Jadi Modal Utama dalam Bisnis Oriflame
Pelayanan baik, komunikasi terbuka, dan pengalaman pribadi jadi modal utama membangun kepercayaan pelanggan...