Fatmawati dan Bendera Pusaka: Warisan Merah Putih Indonesia
Fatmawati menjahit Sang Saka Merah Putih yang dikibarkan pada Proklamasi 17 Agustus 1945 di Jakarta. Peristiwa itu berlangsung di halaman rumah Soekarno, Jalan Pegangsaan Timur 56, dan menandai lahirnya simbol negara yang kini dikenal sebagai Bendera Pusaka. Bendera berukuran sekitar 2 x 3 meter ini dibuat awal Agustus 1945 dengan jahitan tangan karena keterbatasan peralatan.
Siapa Fatmawati
Fatmawati lahir 5 Februari 1923 di Bengkulu. Ia tumbuh dalam keluarga religius dan mendapat pendidikan yang menanamkan nilai disiplin dan pengabdian. Hubungan dengan Soekarno dimulai saat sang presiden menjalani pengasingan di Bengkulu pada 1938, dan keduanya menikah pada 1 Juni 1943.
Proses pembuatan bendera
Pembuatan bendera dilakukan pada awal Agustus 1945. Fatmawati menggunakan kain mori yang ada di rumah sebagai bahan utama. Seluruh penjahitan dilakukan dengan tangan, tanpa mesin, sebagai respons atas keterbatasan waktu dan peralatan saat itu.
Bendera itu saya jahit dengan tangan, sederhana saja. Tetapi dengan harapan besar bahwa suatu hari kelak bendera itu akan berkibar sebagai lambang bangsa merdeka.
Pengibaran pada 17 Agustus 1945
Pada pagi 17 Agustus 1945, hasil jahitan Fatmawati dikibarkan di halaman rumah Soekarno. Upacara berlangsung sederhana dan dihadiri tokoh pergerakan, pemuda, serta warga sekitar. Pengibaran dipercayakan kepada beberapa pihak yang mengerek bendera hanya beberapa saat sebelum upacara dimulai.
Ketika bendera itu diangkat, kami merasakan seluruh harapan dan perjuangan bangsa tertumpu pada kain merah putih itu.
Perawatan dan status Bendera Pusaka
Sejak saat itu, bendera yang dijahit Fatmawati dikenal sebagai Bendera Pusaka. Selama lebih dari dua dekade, bendera itu selalu dikibarkan setiap peringatan Hari Kemerdekaan. Menjelang akhir 1960-an, kondisi fisik bendera mulai rusak karena usia. Pemerintah kemudian mengganti dengan duplikat agar naskah asli tetap terjaga.
Saat ini Bendera Pusaka disimpan dan dirawat dengan metode konservasi khusus untuk menjaga keaslian dan nilai sejarahnya bagi generasi mendatang.
Warisan, penghargaan, dan ingatan publik
Selain perannya sebagai penjahit bendera, Fatmawati aktif dalam kegiatan sosial. Negara menganugerahkan Bintang Mahaputera Adipradana atas dedikasinya. Pada tahun 2000, ia ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 118/TK/2000.
Ibu selalu mengatakan setiap orang, sekecil apa pun perannya, dapat memberi arti bagi bangsa, itu yang diajarkannya lewat bendera yang dijahitnya.
Fatmawati wafat di Kuala Lumpur pada 14 Mei 1980 dan dimakamkan di TPU Karet Bivak, Jakarta. Namanya terus dikenang melalui fasilitas publik, termasuk nama bandar udara di Bengkulu. Kisahnya menjadi inspirasi bagi generasi muda tentang bagaimana karya sederhana bisa menjadi simbol lahirnya sebuah negara.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kemenbud Usulkan Tari Zapin ke UNESCO untuk Perkuat Pelestarian
Kementerian Kebudayaan mengusulkan Tari Zapin ke UNESCO (29 Sept 2026) untuk memperkuat pelestarian lintas g...
Korlantas Buka Layanan Blokir ETLE di Samsat Seluruh Indonesia
Korlantas membuka layanan pengurusan blokir ETLE langsung di Samsat mulai 30 September 2026 untuk memudahkan...
STNK Digital Resmi Berlaku, Pengendara Tak Perlu Bawa STNK Fisik
Korlantas luncurkan STNK Digital lewat aplikasi Digital Korlantas; dokumen elektronik ini setara hukum denga...
Basarnas Alihkan Pencarian Jurnalis ke Operasi SAR Rutin
Basarnas tetap melanjutkan pencarian lima jurnalis lewat operasi SAR rutin; pencarian berlangsung 24 jam ses...
Wamensos Dorong Pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan
Wamensos mendorong percepatan pembangunan Sekolah Rakyat di Pekalongan; Pemkab sediakan lahan 8,1 ha untuk m...
Menko Pangan Tawarkan Insentif Karbon untuk Investor Hijau
Menko Pangan Zulkifli Hasan tawarkan insentif pasar karbon untuk tarik investasi hijau di sektor pangan, sam...