Nasional

BMKG: El Nino Menguat, Waspada Kekeringan dan Karhutla

Bagikan:
Ilustrasi kebakaran hutan dan peta pengaruh El Nino di Indonesia

BMKG memperingatkan dampak El Nino yang menguat berpotensi memicu kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan pada periode 31 Juli-6 Agustus 2026 di Indonesia. Peringatan dikeluarkan setelah pemantauan menunjukkan peningkatan titik panas dan indeks iklim yang tinggi.

Situasi terkini

BMKG melaporkan musim kemarau mulai tampak memperkuat. Kondisi ini terlihat dari peningkatan titik panas dan tanda-tanda kekeringan di beberapa wilayah.

Berdasarkan pemantauan per 29 Juli 2026 tercatat 1.729 titik panas dengan tingkat kepercayaan sedang. Selain itu, terdapat 117 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi.

  • Papua dan Maluku: 85 titik panas
  • Kalimantan: 25 titik panas
  • Sulawesi: 4 titik panas
  • Nusa Tenggara: 3 titik panas

Sinyal iklim dan penyebab

Secara global, kondisi iklim masih didominasi oleh El Nino kuat. Nilai indeks Niño 3.4 tercatat +2,26, sedangkan Southern Oscillation Index (SOI) mencapai -28,2.

Fenomena atmosfer lain turut berperan, antara lain Madden-Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby, gelombang Kelvin, dan bibit Siklon Tropis 94W. Faktor-faktor ini masih memungkinkan terbentuknya awan hujan lokal meski dominasi curah hujan rendah berlangsung.

Prakiraan cuaca 31 Juli–6 Agustus 2026

BMKG memprakirakan pada 31 Juli–3 Agustus 2026 sebagian besar wilayah akan berawan hingga hujan ringan. Namun, potensi hujan lebat hingga sangat lebat berstatus peringatan dini siaga masih mungkin terjadi di Aceh, Sumatra Barat, dan Bengkulu.

Pada 4–6 Agustus 2026 kondisi cerah berawan hingga hujan ringan diperkirakan masih dominan. Potensi hujan sedang diperkirakan terjadi di Aceh, Sumatra Barat, Kalimantan Utara, Papua Pegunungan, dan Papua.

Risiko dan imbauan

Dengan dominasi curah hujan rendah di sekitar 91,43 persen wilayah pada dasarian I Agustus 2026, risiko kekeringan dan kebakaran hutan meningkat. Risiko ini memerlukan kewaspadaan dari masyarakat dan instansi terkait.

"Selain itu, terdapat 117 titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi, sebagian besar berada di Papua dan Maluku sebanyak 85 titik. Disusul Kalimantan 25 titik, Sulawesi empat titik, serta Nusa Tenggara tiga titik," kata Prakirawan BMKG Yuni Maharani.

Transisi musim kering yang dipicu El Nino menuntut penguatan patroli karhutla, pengelolaan sumber air, dan langkah pencegahan di daerah rawan. Masyarakat diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas pembakaran terbuka.

Pemantauan kondisi cuaca dan titik panas akan terus dilakukan untuk memberi peringatan dini dan meminimalkan dampak terhadap lingkungan serta masyarakat.

Andika Nugraha
Penulis
Andika Nugraha

Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.

Berita Terkait