Ekonomi

Indonesia Eksportir Minyak Kelapa Terbesar Kedua, Pangsa 22%

Bagikan:
Ilustrasi minyak kelapa dan kelapa segar di pelabuhan untuk ekspor

Indonesia menempati posisi kedua sebagai eksportir minyak kelapa dunia pada 2025, dengan pangsa pasar sekitar 22%. Kajian sektor dari IEB Institute mencatat Filipina masih di puncak dengan pangsa 49%, diikuti Belanda 10%. Meski volume ekspor Januari–Desember 2025 turun sekitar 18%, nilai ekspor meningkat lebih dari 43% karena lonjakan harga akibat keterbatasan pasokan.

Data pangsa pasar dan peringkat

Menurut kajian IEB Institute, posisi Indonesia sebagai eksportir minyak kelapa baik dalam bentuk crude maupun produk yang dimurnikan cukup kuat. Distribusi pangsa pasar global pada 2025 menunjukkan dominasi Filipina, sementara Belanda berada di peringkat ketiga.

Kinerja ekspor 2025: volume turun, nilai naik

Periode Januari–Desember 2025 mencatat penurunan volume ekspor sekitar 18%. Namun, nilai ekspor naik lebih dari 43%, dipengaruhi oleh kenaikan harga global. IEB Institute mengaitkan lonjakan harga dengan terbatasnya pasokan bahan baku dan gangguan produksi domestik.

"Peningkatan nilai ekspor dipicu oleh lonjakan harga akibat terbatasnya pasokan bahan baku, dan pasokan domestik yang dipengaruhi oleh El Niño. Sehingga sebagian pabrik untuk sementara mengurangi kapasitas produksi, akibatnya tekanan harga minyak kelapa di pasar ekspor semakin meningkat,"

Pasar tujuan dan peluang ekspansi

Indonesia mengekspor minyak kelapa ke lebih dari 90 negara, sehingga risikonya tersebar dan tidak bergantung pada sedikit pasar. Pasar utama meliputi:

  • Belanda
  • Tiongkok
  • Filipina
  • Malaysia
  • Amerika Serikat

Selain pasar tradisional, ada peluang penetrasi lebih jauh ke negara-negara Eropa lainnya dan kawasan non-tradisional, seiring meningkatnya permintaan global terhadap produk alami.

"Permintaan global terhadap minyak kelapa murni terus meningkat seiring tren gaya hidup sehat. Selain trend penggunaan produk alami di sektor pangan, kosmetik, serta kesehatan,"

Tantangan pasokan dan strategi pemerintah

Sektor menghadapi tantangan utama pada ketahanan pasokan bahan baku. Faktor penyebab antara lain penuaan pohon kelapa, produktivitas pekebun kecil yang rendah, cuaca ekstrem, serta peningkatan ekspor kelapa bulat.

Untuk menangani masalah ini, IEB Institute dan pemerintah menyoroti dua strategi utama: peremajaan kebun (replanting) dan peningkatan hilirisasi industri pengolahan.

"Peremajaan kebun kelapa dan penguatan hilirisasi menjadi strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan industri minyak kelapa nasional,"

Pemerintah telah merealisasikan replanting seluas sekitar 44,9 ribu hektar pada 2024, dan menargetkan perluasan program hingga ratusan ribu hektar pada periode 2026–2027. Upaya ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan menjamin pasokan bagi industri pengolahan dalam negeri.

Prospek 2026

IEB Institute memproyeksikan nilai ekspor minyak kelapa tumbuh moderat sekitar 9% pada 2026. Pertumbuhan ini akan dipengaruhi pemulihan produksi kompetitor seperti Filipina dan penyesuaian harga bahan baku ke level normal. Untuk mempertahankan dan meningkatkan posisi pasar, perlu sinergi antara peremajaan kebun, hilirisasi, dan pengembangan pasar ekspor.

J
Penulis
John Doe

No bio yet 😊

Berita Terkait