Ekonomi

Ekspor Udang Vaname Babel Capai Rp1,6 Triliun, Pengusaha Untung

Bagikan:
Petambak udang vaname di tambak Sungailiat, Bangka Belitung

Kepulauan Bangka Belitung mengekspor udang vaname sebanyak 15.628 ton senilai lebih dari Rp1,6 triliun pada periode Januari–Juni 2026, mendorong keuntungan bagi pelaku tambak di Sungailiat.

Data ekspor dan nilai

Badan Karantina Indonesia mencatat jumlah pengapalan udang tersebut pada semester I 2026. Nilai total ekspor mencapai lebih dari Rp1,6 triliun, menunjukkan peran penting komoditas ini bagi perekonomian lokal.

Kisah pengusaha lokal

Di Sungailiat, pengusaha tambak Eri mengatakan usaha udang vaname telah dijalankan selama belasan tahun dan membantu pendapatan keluarga.

Udah 15 tahun lebih usaha tambak udang vaname ini. Alhamdulillah, lumayan lah pendapatan buat keluarga

Kesaksian Eri mencerminkan peran tambak sebagai sumber mata pencaharian bagi masyarakat pesisir di Bangka Belitung. Permintaan ekspor yang tinggi menjadi faktor utama ketertarikan pada usaha ini.

Standar karantina dan pasar tujuan

Kepala Karantina Kepulauan Babel, Herwintarti, menyatakan semua pengiriman melewati pemeriksaan ketat untuk memastikan keamanan dan mutu produk.

Kami memastikan komoditas udang vaname yang diekspor bebas hama dan penyakit. Udang ini memenuhi standar mutu dan sesuai persyaratan kesehatan negara tujuan ekspor

Herwintarti juga mengatakan peningkatan ekspor sejalan dengan naiknya permintaan dari pasar internasional, khususnya Malaysia dan Australia. Kepatuhan pada persyaratan kesehatan hewan menjadi kunci membuka akses pasar tersebut.

Dampak dan prospek

Kenaikan volume dan nilai ekspor memberi sinyal positif bagi rantai nilai perikanan di daerah. Selain meningkatkan pendapatan pembudidaya, ekspor berpotensi mendorong layanan penunjang, seperti logistik dan fasilitas pengolahan.

Ke depan, keberlanjutan pertumbuhan ekspor akan bergantung pada konsistensi mutu, pengendalian penyakit, serta keberlanjutan praktik budidaya. Peningkatan kapasitas karantina dan kepatuhan terhadap regulasi negara tujuan turut menjadi faktor penentu.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait