Duduk Terlalu Lama Tingkatkan Risiko Obesitas dan Penyakit Jantung
Duduk terlalu lama kini menjadi kebiasaan umum dan berdampak langsung pada kesehatan. Kebiasaan ini terkait meningkatnya risiko obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, serta keluhan muskuloskeletal. Menurut dokter kebugaran dr. Michael Triangto, jeda aktivitas berkala penting untuk mengurangi efek buruk gaya hidup sedentari.
Risiko kesehatan akibat duduk panjang
Duduk dalam durasi lama menurunkan pembakaran kalori dan mengganggu pengolahan gula serta lemak oleh tubuh. Akibatnya, risiko penumpukan lemak dan obesitas naik jika kebiasaan ini berlangsung terus-menerus setiap hari.
Lebih jauh, pola sedentari juga dikaitkan dengan peningkatan penyakit metabolik seperti diabetes tipe 2. Penelitian menunjukkan bahwa minim gerak memperburuk profil metabolik, sehingga peluang terkena penyakit kronis meningkat seiring waktu.
Dampak pada jantung dan sirkulasi
Sirkulasi darah yang kurang optimal saat duduk terlalu lama memberi tekanan pada sistem kardiovaskular. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan gangguan pembuluh darah, khususnya bagi pekerja yang duduk berjam-jam tanpa istirahat.
Perubahan aliran darah juga memperbesar kemungkinan pembekuan dan masalah vaskular lain yang berdampak pada kesehatan jangka panjang.
Masalah muskuloskeletal dan fungsi otot
Duduk panjang sering memicu nyeri punggung, pegal leher, dan ketegangan bahu. Hal ini seringkali diperparah oleh posisi duduk yang tidak ergonomis.
Otot-otot punggung bawah, pinggul, dan kaki menjadi kaku jika jarang digerakkan. Kekakuan ini menurunkan fleksibilitas dan meningkatkan risiko cedera saat melakukan aktivitas sehari-hari.
Cara sederhana mengurangi dampak negatif
dr. Michael Triangto menekankan bahwa menjaga tubuh tetap aktif tidak harus berarti olahraga berat. Langkah kecil dan konsisten justru memiliki efek besar dalam jangka panjang.
“Usahakan berdiri atau berjalan ringan setiap 30 sampai 60 menit,”
Menurutnya, kebiasaan ini membantu melancarkan aliran darah dan mengurangi ketegangan otot. Selain itu, ia merekomendasikan peregangan ringan selama bekerja, terutama untuk leher, bahu, punggung, dan kaki.
Beberapa tindakan praktis yang bisa dilakukan di kantor atau rumah antara lain:
- Bangun dan berjalan ringan setiap 30–60 menit.
- Melakukan peregangan singkat selama 2–5 menit setiap jam.
- Mengatur meja kerja agar ergonomis untuk mengurangi tekanan pada punggung dan leher.
- Menggunakan pengingat atau aplikasi untuk jeda aktif selama bekerja.
Dengan mengubah kebiasaan duduk menjadi lebih aktif, risiko penyakit metabolik, kardiovaskular, dan muskuloskeletal dapat berkurang. Langkah pencegahan sederhana ini relevan bagi siapa saja yang bekerja atau belajar lama di depan layar.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Wamenkes: 650 Ribu Anak Zero-Dose Vaksin per Tahun, Ini Penyebabnya
Wamenkes Dante ungkap sekitar 650 ribu anak tiap tahun berstatus zero-dose; kendala geografis dan hoaks jadi...
Wamenkes: Cek Kesehatan Gratis Kunci Hadapi Obesitas dan NCD
Wamenkes ajak masyarakat rutin manfaatkan Cek Kesehatan Gratis untuk deteksi dini obesitas dan penyakit tida...
Wamenkes Ajak Manfaatkan Cek Kesehatan Gratis untuk Deteksi Diabetes
Wamenkes Dante Saksono mendorong masyarakat memanfaatkan Program Cek Kesehatan Gratis untuk mendeteksi diabe...
Kemenkes Perkuat Deteksi Dini untuk Cegah 'Silent Killer'
Kemenkes perkuat deteksi dini untuk cegah penyakit degeneratif yang berperan sebagai 'silent killer', kata W...
Komisi IX: 6.000 Bayi Meninggal karena Jantung Bawaan
Komisi IX soroti 6.000 kematian bayi per tahun akibat penyakit jantung bawaan; dorong pemerataan layanan, pe...
Menkes Akui CKG Belum Penuhi Ekspektasi, Fokus Perbaikan Layanan
Menkes mengakui CKG belum memenuhi ekspektasi; pemerintah akan menyederhanakan paket pemeriksaan dan memperk...