Ekonomi

Rupiah Menguat Tipis ke Rp17.923 di Tengah Dinamika Geopolitik

Bagikan:
Grafik pergerakan nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS

Jakarta, 6 Agustus 2026 — Nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis, tercatat naik 0,06 persen atau 10 poin ke posisi Rp17.923 per dolar AS. Penguatan ini terjadi di tengah dinamika geopolitik di Timur Tengah yang memengaruhi sentimen pasar global.

Pengaruh Kesepakatan Iran-Oman

Pergerakan rupiah sebagian didorong oleh membaiknya sentimen setelah adanya pernyataan kesepakatan antara Iran dan Oman terkait pengelolaan Selat Hormuz. Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi menyebut pernyataan itu membantu meredakan ketidakpastian pasar.

"Sentimen pasar membaik setelah Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan dengan Oman untuk mengelola bersama Selat Hormuz,"

Meski begitu, Ibrahim mengingatkan pelaku pasar tetap hati-hati. Kesepakatan tersebut tidak serta-merta membuka kembali jalur laut secara penuh karena masih ada isu teknis yang belum tuntas, seperti biaya kargo, inspeksi, dan pengaturan keamanan.

Harga Minyak dan Ekspektasi Kebijakan The Fed

Berita positif soal Selat Hormuz turut menurunkan kekhawatiran terhadap pasokan minyak. Penurunan harga minyak dunia membuat tekanan pada dolar AS sedikit mereda dan mengubah ekspektasi pasar terhadap langkah suku bunga The Fed.

"Turunnya harga minyak dunia membuat investor tidak terlalu berekspektasi the Fed akan makin memperketat kebijakan moneternya,"

Impaknya terlihat pada probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September, yang turun menjadi sekitar 55 persen dari sebelumnya 67 persen dalam dua hari terakhir.

Fokus Pelaku Pasar: Data Tenaga Kerja AS dan Kalender Lokal

Pelaku pasar masih menantikan data tenaga kerja AS yang lebih komprehensif. Sinyal awal dari Automatic Data Processing (ADP) menunjukkan perekrutan melambat pada Juli. Kini perhatian bergeser ke data tenaga kerja non-pertanian (NFP) yang akan dirilis hari Jumat.

Sementara itu di dalam negeri, investor menunggu hasil penilaian dua penyedia indeks global soal reformasi pasar modal Indonesia. Jadwalnya sebagai berikut:

  • FTSE Russell: penilaian diperkirakan keluar sekitar pertengahan Agustus.
  • MSCI: hasil penilaian dijadwalkan pada Oktober.

Penilaian dari kedua lembaga ini bakal menentukan arus modal dan persepsi investor terhadap pasar saham domestik dalam jangka menengah.

Prospek dan Implikasi

Meskipun rupiah menguat tipis hari ini, beberapa faktor masih dapat menimbulkan volatilitas. Pertama, kelanjutan negosiasi soal pengelolaan Selat Hormuz dan respons pihak-pihak terkait. Kedua, data tenaga kerja AS yang akan mengarahkan ekspektasi kebijakan moneter global. Ketiga, keputusan penyedia indeks global yang dapat memengaruhi aliran investasi ke Indonesia.

"Arah kebijakan penyedia indeks global masih sulit diprediksi. Sehingga masih akan membayangi pergerakan pasar saham di Indonesia,"

Pelaku pasar diperkirakan akan tetap mengutamakan kehati-hatian sambil memantau perkembangan geopolitik dan kalender ekonomi mendatang.

Farhan Azhar
Penulis
Farhan Azhar

Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.

Berita Terkait