Diet Yoyo Ganggu Metabolisme, Ketahui Risikonya
Diet yoyo atau weight cycling adalah pola turun lalu naik berat badan berulang dalam waktu singkat. Pola ini sering muncul karena diet ekstrem dan pembatasan kalori tidak realistis. Akibatnya, tubuh memasuki mode penghematan energi sehingga laju metabolisme basal menurun.
Apa itu diet yoyo?
Diet yoyo terjadi ketika penurunan berat badan diikuti kenaikan kembali dalam periode singkat, lalu siklus diulang. Banyak orang melakukan langkah drastis untuk menurunkan berat badan cepat, namun gagal mempertahankannya.
Dampak pada metabolisme
Penurunan kalori yang tajam membuat tubuh menganggapnya sebagai krisis energi. Tubuh kemudian memperlambat pembakaran kalori untuk menjaga cadangan energi lebih lama.
- Perlambatan metabolisme basal: Setelah siklus diet, laju metabolisme tetap lebih rendah sehingga penurunan berat badan berikutnya makin sulit.
- Sensitivitas terhadap pengurangan kalori: Tubuh jadi lebih responsif terhadap pembatasan makanan, mengaktifkan mekanisme pertahanan yang mempermudah penyimpanan lemak.
Gangguan hormon lapar-kenyang
Fluktuasi berat badan ekstrem berdampak pada hormon yang mengatur nafsu makan. Ketidakseimbangan hormon ini mengubah sinyal lapar dan kenyang yang normal.
- Leptin menurun: Saat berat badan turun drastis, kadar leptin turun sehingga tubuh merasa lebih lapar meski asupan cukup.
- Grelin meningkat: Setelah penurunan berat, grelin cenderung naik dan memperkuat rasa lapar, memicu kembalinya nafsu makan berlebih.
Kehilangan massa otot
Salah satu konsekuensi diet yoyo adalah berkurangnya massa otot selain lemak. Saat berat badan naik kembali, tubuh lebih mudah menambah lemak dibanding otot.
Jika siklus ini terus diulang, massa otot dapat menurun dari waktu ke waktu. Akibatnya tubuh menjadi lemah dan kurang bertenaga.
Mengapa penting diwaspadai
Diet yoyo bukan hanya masalah estetika. Dampak jangka panjangnya meliputi metabolisme yang terganggu, perubahan hormon pengatur nafsu makan, dan penurunan massa otot. Semua efek ini membuat pengelolaan berat badan sehat menjadi lebih sulit.
Penulis: Sarah Maulida Alli
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Sentralisasi Pengadaan Alkes Hemat Rp10,25 Triliun, Kemenkes Ungkap
Kemenkes menyebut sentralisasi pengadaan alkes memangkas pengeluaran Rp10,25 triliun atau 52% dari estimasi...
Menkes: Bangun Laboratorium Kesehatan di Seluruh Kabupaten/Kota
Pemerintah akan membangun dan merenovasi laboratorium kesehatan di seluruh kabupaten/kota untuk memperkuat s...
Puskesmas Jemput Bola CKG: 700 Siswa Diperiksa di Bekasi
Puskesmas Duren Jaya jemput bola Cek Kesehatan Gratis di SD Santa Maria Monica, Bekasi; 700 siswa diperiksa,...
CKG Jaktim Temukan Anemia dan Hipertensi pada Pelajar
CKG Jakarta Timur menemukan banyak pelajar mengalami tekanan darah tinggi dan anemia pada periode Januari–Ju...
Pemanasan dan Pendinginan: Kunci Olahraga Lebih Aman
Pemanasan dan pendinginan membantu tubuh beradaptasi sebelum dan setelah olahraga, menurunkan risiko cedera...
Jangan Abaikan Nyeri Sendi Berulang, Bisa Jadi Autoimun
Nyeri sendi berulang bisa jadi tanda autoimun seperti RA; waspadai pembengkakan, kekakuan pagi hari, dan seg...