Desil dan Data: Memastikan Bantuan Tepat Sasaran
Persoalan desil kini menjadi sorotan dalam penyaluran bantuan pemerintah karena ketidaktepatan data berisiko membuat yang berhak tidak menerima dan yang tidak berhak tetap mendapat manfaat. Di tingkat pusat, DPR dan Bank Indonesia membahas masalah ini pada rapat Panja Banggar, Kamis (3/9/2026), sementara di Surabaya pemerintah kota memperkuat verifikasi faktual lewat Musyawarah Kelurahan pada Jumat (11/9/2026). Masalahnya sederhana: data harus menggambarkan kondisi riil warga agar subsidi tepat sasaran.
Apa itu desil dan masalah data kesejahteraan
Desil adalah pengelompokan berdasarkan kondisi ekonomi yang dipakai untuk menargetkan subsidi dan program sosial. Namun data seringkali tidak menangkap perubahan cepat dalam kehidupan keluarga, seperti kehilangan pekerjaan atau pengeluaran mendesak. Akibatnya muncul inclusion error dan exclusion error yang merugikan penerima manfaat dan negara.
“Yang berhak menerima tidak menerima, karena dia seharusnya posisi desil tiga, tiba-tiba desilnya sembilan,”
kata MH Said Abdullah saat rapat Panja Banggar, menggambarkan ketimpangan data dan realitas.
Upaya pemutakhiran data
Pemerintah terus memutakhirkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSN) dengan menggabungkan berbagai sumber: administrasi, sensus, pembaruan kementerian/lembaga, pemerintah daerah, dan verifikasi lapangan. Tujuannya agar anggaran subsidi benar-benar sampai kepada penerima yang berhak.
Namun pembaruan data bukan pekerjaan sekali jadi. Data harus dibuka untuk pemeriksaan publik dan mekanisme sanggahan agar perubahan kondisi warga bisa segera tercatat.
Peran masyarakat dan verifikasi faktual
Beberapa daerah memilih melibatkan masyarakat langsung dalam verifikasi. Di Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi meminta warga dan anak muda ikut menentukan penerima melalui Musyawarah Kelurahan (Muskel) agar keputusan tidak hanya didasarkan pada angka saja.
“Saya ingin melibatkan anak-anak muda untuk ikut menentukan siapa yang berhak menerima. Saya tidak lagi menentukan sendiri, dan saya tidak mau hanya melihat desil. Nanti yang paling menentukan adalah kesepakatan warga,”
ujar Eri saat kegiatan Muskel di Kelurahan Tegalsari.
Pendekatan ini menyatukan angka dan cerita, sistem dan realitas sosial. Tetangga dan komunitas sering kali lebih cepat melihat perubahan kondisi ekonomi warganya daripada catatan administratif.
Teknologi sebagai alat, bukan penghalang
Teknologi seperti biometrik dan sistem basis data bisa mempercepat identifikasi dan mengurangi kesalahan. Namun teknologi hanya efektif bila diimbangi mekanisme sanggahan, verifikasi objektif, dan keterlibatan warga agar bukan menjadi tembok yang menutup ruang bagi warga menjelaskan kondisi mereka.
Penutup: manusia di balik angka
Data, desil, dan verifikasi sama pentingnya, tetapi tujuan akhirnya harus jelas: memastikan bantuan sampai kepada manusia yang membutuhkan. Di balik setiap angka ada keluarga, lansia, dan pekerja yang hidupnya berubah-ubah; maka sistem harus responsif dan membuka pintu perbaikan setiap kali data belum mencerminkan kenyataan.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
Wawali Mojokerto: Jaminan Sosial Ketenagakerjaan adalah Hak Dasar
Wawali Mojokerto minta perusahaan memandang jaminan sosial ketenagakerjaan sebagai hak dasar pekerja, bukan...
Rapat Kerja Bamusi di Cianjur Perkuat Persaudaraan Kebangsaan
PP Bamusi menggelar rapat kerja di Cianjur 11 September 2026 untuk merumuskan program dan memperkuat ukhuwah...
Hasto: Bamusi harus jadi kekuatan Islam pembebasan
Hasto minta Bamusi jadi jembatan antara Islam, Pancasila, dan perjuangan kerakyatan untuk menolong kaum dhua...
Surabaya Perkuat Verifikasi Bansos Lewat Muskel dan Partisipasi Warga
Pemkot Surabaya perkuat verifikasi bansos lewat Muskel dengan keterlibatan warga dan pemuda untuk memastikan...
Pengembang Kelola Air Mandiri, DPRD Surabaya Usulkan SLF Wajib PDAM
DPRD Surabaya soroti pengembang seperti Citraland yang kelola air mandiri; usul masukkan kewajiban PDAM ke s...
Surabaya Minta Dana Gen Z Rp5 Juta per RW Dipakai untuk Usaha Produktif
Pemkot Surabaya minta anggaran Gen Z Rp5 juta per RW dipakai untuk usaha produktif agar memberi penghasilan...