Ketua IDAI: Cakupan Imunisasi Rendah Picu Kembalinya Penyakit Anak
Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Piprim Basarah Yanuarso, menyoroti rendahnya cakupan imunisasi anak yang memicu munculnya kembali penyakit yang seharusnya dapat dicegah. Pernyataan disampaikan di Jakarta Selatan pada Minggu, 14 Juni 2026, ketika ia mengingatkan perlunya edukasi lebih kuat dan kerja sama lintas pihak.
Cakupan imunisasi masih jauh dari target
Piprim mengatakan capaian kesehatan anak Indonesia meningkat dibanding beberapa dekade lalu, tetapi belum signifikan jika dibandingkan negara tetangga. Menurutnya, rendahnya cakupan imunisasi menjadi salah satu penyebab kembalinya penyakit infeksi pada anak.
Penyakit yang kembali muncul
Beberapa penyakit yang telah kembali dilaporkan di masyarakat antara lain:
- Difteri
- Pertusis (batuk rejan)
- Polio
- Campak
"Misalkan angka kematian bayi masih tinggi, angka kematian balita. Jadi kita masih menghadapi penyakit infeksi, munculnya lagi berbagai penyakit yang sebetulnya bisa dicegah dengan imunisasi,"
Penyebab turunnya cakupan vaksinasi
Piprim menunjuk beberapa faktor yang memengaruhi rendahnya cakupan imunisasi. Salah satunya adalah keraguan sebagian orang tua terhadap vaksinasi yang membuat mereka ragu memberikan imunisasi pada anak. Ia menilai keraguan ini harus diatasi melalui informasi yang jelas dan konsisten.
"Ini bermunculan kembali karena cakupan imunisasi yang sangat rendah. Karena juga akibat banyak orang tua yang galau terhadap imunisasi,"
Tantangan gizi ganda pada anak
Selain penyakit infeksi, Piprim juga mengingatkan masalah gizi yang masih membayangi anak Indonesia. Ia menyebutkan masalah:
- Stunting dan gizi kurang
- Gizi buruk
- Obesitas dan penyakit metabolik akibat pola makan tidak sehat dan kurang aktivitas fisik
"Belum lagi nanti ada di sisi yang sebelah sananya adalah obesitas dan berbagai penyakit metabolik. Akibat kelebihan makan, kurang gerak, gaya hidup yang tidak sehat,"
Langkah IDAI dan upaya ke depan
Piprim menegaskan IDAI akan terus mengintensifkan edukasi dan pelayanan kesehatan anak. Ia menyerukan kerjasama pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat untuk meningkatkan cakupan imunisasi dan memperbaiki status gizi anak.
Perbaikan cakupan imunisasi dan penanganan gizi ganda dianggap krusial untuk menurunkan angka kematian bayi dan balita serta mencegah kembalinya penyakit yang dapat dicegah dengan vaksinasi.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Perdami: Operasi Katarak Kunci Atasi Penyebab Kebutaan di Indonesia
Perdami: katarak masih penyebab utama kebutaan; operasi katarak bisa pulihkan penglihatan dan didukung Noor...
Perwakilan Dokter: PIDI Harus Lindungi Peserta dan Pasien
Perwakilan Dokter Internship minta PIDI jadi proses pembelajaran aman; Kemenkes diminta kawal implementasi K...
Kemenkes Perkuat Komunikasi Program Internship Dokter Indonesia
Kemenkes minta perkuat komunikasi dan koordinasi dalam Program Internship Dokter Indonesia sambil evaluasi r...
Kemenkes: Kasus Katarak RI 600.000, Operasi Diperluas
Kemenkes mencatat sekitar 600.000 kasus katarak terdeteksi; pemerintah perluas operasi gratis dan deteksi di...
Esa Unggul Gandeng FKUI Perkuat Pendidikan Kedokteran
Esa Unggul dan FKUI menandatangani PKS pengampuan pada 7 Agustus 2026 untuk memperkuat mutu pendidikan kedok...
Dubes UEA Pastikan Operasi Katarak Gratis Diperluas di Indonesia
Dubes UEA pastikan program operasi katarak gratis akan diperluas di Indonesia sebagai bagian dari komitmen k...