Kasus Hipertensi dan Diabetes di Kabupaten Tangerang Melonjak
Jumlah warga Kabupaten Tangerang yang menderita hipertensi dan diabetes meningkat tajam. Data Dinas Kesehatan setempat mencatat ratusan ribu pasien yang mendapat layanan akibat dua penyakit tidak menular itu pada 2025, dan angka masih tinggi pada 2026.
Data kasus: angka 2025 dan 2026
Berdasarkan laporan aplikasi Sehat Indonesiaku (ASIK) tahun 2025, tercatat 262.798 penyandang hipertensi dan 95.149 penyandang diabetes melitus yang berobat ke puskesmas di Kabupaten Tangerang. Hingga Juni 2026, Dinas Kesehatan melaporkan 93.924 pasien hipertensi dan 35.745 pasien diabetes yang sudah ditangani.
Penyebab peningkatan kasus
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang, Hendra Tarmizi, menyebut kenaikan kasus penyakit tidak menular (PTM) dipengaruhi beberapa faktor. Selain faktor keturunan, pola hidup tidak sehat menjadi pendorong utama.
Diabetes melitus dan hipertensi merupakan penyakit prioritas yang menjadi salah satu standar pelayanan minimal bidang kesehatan
Menurut laporan, penyebab yang sering ditemukan meliputi aktivitas fisik yang minim, pola makan tidak seimbang, dan rendahnya kesadaran masyarakat untuk melakukan pemeriksaan kesehatan berkala.
Wilayah dengan kasus terbanyak
Laporan Standar Pelayanan Minimal (SPM) menunjukkan sebaran kasus PTM tertinggi berada di Kecamatan Kelapa Dua, Pasar Kemis, dan Cikupa. Pemetaan ini menjadi dasar penentuan intervensi kesehatan di tingkat kecamatan dan puskesmas.
Strategi pencegahan dan penanganan
Dinas Kesehatan Kabupaten Tangerang memperkuat program pencegahan dan penanganan melalui sejumlah langkah:
- Edukasi kesehatan masyarakat secara rutin;
- Deteksi dini melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG);
- Pelayanan terpadu PTM di puskesmas lewat Integrasi Layanan Primer (ILP);
- Penempatan dokter spesialis penyakit dalam di beberapa puskesmas untuk memudahkan akses layanan.
Kami juga menjalankan program paliatif bagi pasien PTM kronis seperti kanker, stroke dan pasien cuci darah. Agar kualitas hidup mereka tetap terjaga.
Dampak kenaikan harga obat
Kenaikan harga obat menjadi tantangan tambahan. Pemerintah daerah mengantisipasi dampak melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dengan beberapa langkah kebijakan layanan obat.
Direktur RSUD Tigaraksa, Muhammad Faridzi Fikri, mengatakan pihak rumah sakit sudah menyiapkan stok cadangan obat. Namun Dinas Kesehatan berencana mengurangi jumlah obat yang diberikan per kali kunjungan untuk mengelola persediaan.
Kalau melihat nilai dolar saat ini, kemungkinan kenaikannya sekitar 15 sampai 20 persen. Tapi kami belum menerima harga pastinya.
Penutup: tantangan dan prospek
Kabupaten Tangerang menghadapi tantangan ganda: meningkatnya kasus PTM dan tekanan biaya obat. Penguatan deteksi dini, edukasi gaya hidup sehat, dan pengelolaan obat menjadi kunci menahan tren kenaikan kasus. Langkah-langkah yang sedang dijalankan akan menentukan seberapa cepat angka hipertensi dan diabetes dapat ditekan ke depan.
Berita Terkait
Kemenkes Ajak Warga Beraktivitas Fisik Rutin sejak Muda
Kemenkes mendorong masyarakat rutin beraktivitas fisik sejak muda untuk menjaga kebugaran dan kemandirian sa...
Mafindo: Klaim Daftar Efek Samping Vaksin Covid-19 Tidak Benar
Mafindo menegaskan klaim daftar efek samping serius vaksin Covid-19 yang viral tidak benar dan mengimbau pub...
Kemenkes Perluas Puskesmas Ramah Lansia di Indonesia
Kemenkes memperluas puskesmas ramah lansia, dengan 8.000 fasilitas telah beradaptasi untuk pemeriksaan kompr...
Kemenkes: Mulai Jaga Kesehatan Sejak Usia 45 Tahun
Kemenkes mengimbau masyarakat mulai menjaga kesehatan sejak usia 45 tahun untuk mencegah hipertensi dan mene...
Kemenkes Perkuat Layanan Ramah Lansia, 87% Puskesmas Telah Transformasi
Kemenkes memperkuat layanan dan ekosistem ramah lansia; sekitar 87% puskesmas sudah menjadi puskesmas santun...
Wamenkes Dante: Lansia Aset Berharga, Bukan Beban
Wamenkes Dante menegaskan lansia adalah aset bangsa; perlu layanan kesehatan ramah dan perawatan jangka panj...