Akhir Pekan, Rupiah Menguat ke Rp17.897 per Dolar
Rupiah ditutup menguat pada akhir perdagangan Jumat, 7 Agustus 2026, keluar dari tekanan dolar AS setelah bergerak stabil sepanjang hari. Nilai tukar tercatat naik 0,15% atau 26 poin ke posisi Rp17.897 per dolar AS, didorong sentimen geopolitik dan data domestik.
Pengaruh ketegangan geopolitik
Penguatan rupiah datang meski kondisi global masih bergejolak. Ketegangan di kawasan Teluk, termasuk klaim kontrol jalur pelayaran strategis, memperlihatkan dinamika yang membuat pasar berhati-hati.
Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengamati dinamika tersebut dan menilai perkembangan politik regional memberi arah pada pergerakan mata uang negara berkembang.
"Trump mengklaim tetap memegang kendali Selat Hormuz. Sedangkan Iran dan Oman hampir mencapai kesepakatan atas pengendalian di Selat Hormuz,"
Ibrahim menambahkan, beberapa aksi militer dan klaim tanggung jawab kelompok bersenjata juga "memicu kekhawatiran konflik akan meluas ke seluruh kawasan." Sentimen ini sejatinya mendorong permintaan aset safe haven, tetapi pergerakan rupiah menunjukkan resistensi terhadap tekanan eksternal.
Ekspektasi kebijakan moneter AS
Selain faktor geopolitik, pasar kini fokus pada prospek suku bunga The Fed. Laporan beredar yang menyatakan pejabat bank sentral AS mempertimbangkan kenaikan suku bunga jika inflasi tetap tinggi turut memengaruhi ekspektasi pasar.
"Data ini dapat menjadi ujian besar berikutnya bagi ekspektasi terkait prospek kebijakan Federal Reserve,"
Investor menantikan rilis data Non-Farm Payrolls AS yang dianggap akan memberikan sinyal lebih jelas tentang arah kebijakan moneter global.
Cadangan devisa dan kondisi domestik
Dari sisi domestik, Ibrahim mencatat posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Juli 2026 masih memadai. Cadangan tercatat sebesar USD145,3 miliar, turun tipis dari posisi pada bulan sebelumnya sebesar USD145,6 miliar.
Meski menurun, level cadangan devisa tersebut masih berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. Posisi itu setara dengan pembiayaan sekitar 5,5 bulan impor atau 5,3 bulan jika termasuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Bank Indonesia menilai cadangan devisa akhir Juli mampu mendukung ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi serta sistem keuangan.
Ke depan, pergerakan rupiah akan dipengaruhi kombinasi perkembangan geopolitik, data tenaga kerja AS, dan kondisi neraca eksternal domestik. Pelaku pasar diperkirakan tetap waspada terhadap berita global yang dapat memicu fluktuasi jangka pendek.
Koresponden internasional yang mengikuti perkembangan geopolitik dan isu global terkini.
Berita Terkait
Indonesia Perluas Sinergi BRICS untuk Pacu Transformasi Manufaktur
Indonesia perluas sinergi industri BRICS untuk percepat transformasi manufaktur lewat investasi, inovasi, da...
Kemenperin Percepat Industri Hijau untuk Pacu Ekonomi Sirkular
Kemenperin mempercepat transformasi industri hijau untuk mendukung ekonomi sirkular dan mencapai target Net...
Pengguna Whoosh Hemat Rp1,5 Juta dengan FWC JaBan Gold
KCIC luncurkan FWC JaBan Gold: kartu langganan Rp2 juta untuk 10 perjalanan, hemat hingga Rp1,5 juta dibandi...
Menaker: Kesenjangan Kompetensi Lulusan Harus Segera Diatasi
Menaker Yassierli minta penguatan pendidikan STEM dan kolaborasi untuk atasi mismatch kompetensi lulusan den...
Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi USD145,3 Miliar Juli 2026
Cadangan devisa turun ke USD145,3 miliar per akhir Juli 2026 akibat penerbitan global bond dan intervensi st...
OJK: Efek Berbasis Keberlanjutan Rp85,15 T per Juni 2026
OJK mencatat efek berbasis keberlanjutan mencapai Rp85,15 triliun hingga Juni 2026; aset reksa dana ESG Rp8,...