Ekonomi

Calon Pembeli Saudi Tinjau Tekstil RI, Potensi Transaksi Rp8,26 Miliar

Bagikan:
Calon pembeli Arab Saudi meninjau pabrik tekstil di Indonesia untuk penilaian kualitas produk

Calon pembeli dari Arab Saudi, Al Nahar United Trading, meninjau sejumlah pabrik tekstil di Jakarta dan Bandung pada 3-6 Agustus 2026 untuk menjajaki pasokan bahan pembuatan abaya, kerudung, dan nikab. Kunjungan ini dilanjutkan setelah sesi business matching daring dan mencatat potensi transaksi senilai USD411,02 ribu atau sekitar Rp8,26 miliar.

Kunjungan langsung dan potensi transaksi

Perjalanan bisnis Al Nahar bertujuan menilai kualitas produk dan kapabilitas produksi perusahaan tekstil Indonesia secara langsung. Kegiatan kunjungan menjadi kelanjutan dari penjajakan daring yang difasilitasi oleh Kementerian Perdagangan dan ITPC Jeddah pada pertengahan Juli 2026.

Angka potensi transaksi yang muncul dari pertemuan daring menunjukkan adanya minat riil dari pasar Arab Saudi, sehingga pertemuan tatap muka dianggap penting untuk mengkonfirmasi kesiapan produsen Indonesia.

Respons pejabat perdagangan

Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengatakan kunjungan tersebut menunjukkan kepercayaan pasar terhadap manufaktur Indonesia dan memberi kesempatan calon pembeli memeriksa kualitas produk.

Kunjungan calon pembeli ke lokasi produksi merupakan tahapan penting untuk membangun kepercayaan pasar global terhadap produk-produk Indonesia. Kesempatan ini memungkinkan calon pembeli memahami kualitas produk ekspor Indonesia

Direktur Pengembangan Ekspor Produk Manufaktur Kemendag, Deden Muhammad Fajar Shiddiq, menilai langkah kunjungan adalah bukti efektivitas strategi business matching yang mengubah pertemuan daring menjadi penjajakan langsung.

Potensi transaksi daring pada 13 Juli 2026 lalu menunjukkan produk tekstil Indonesia memiliki daya saing kuat di Timur Tengah. Kemendag akan terus memperkuat kolaborasi dengan perwakilan perdagangan RI di luar negeri untuk membuka lebih banyak peluang ekspor

Kepala ITPC Jeddah, Bagas Haryotejo, menambahkan bahwa peninjauan lapangan penting untuk menilai proses produksi, pengendalian mutu, dan kemampuan pemenuhan pesanan ekspor secara berkelanjutan.

Kami optimis kerja sama ini akan terus berkembang dan membuka peluang transaksi lainnya

Tanggapan pembeli dan produsen

General Manager Al Nahar United Trading, Mohammed Thabit, mengapresiasi fasilitasi Kemendag selama proses penjajakan hingga kunjungan. Ia menyatakan kesan positif terhadap kualitas dan harga produk tekstil Indonesia.

Kami terkesan dengan kualitas produk tekstil Indonesia yang sangat baik serta harganya yang kompetitif. Kami berharap dapat terus menggunakan produk Indonesia dan membangun hubungan kerja sama jangka panjang dengan para mitra di Indonesia

Salah satu perusahaan yang dikunjungi, PT Inno Jaya Tekstil di Kabupaten Bandung Barat, juga menilai kunjungan memberi peluang menunjukkan standar produksi dan kemampuan memenuhi permintaan skala ekspor.

Melalui kunjungan ini, calon pembeli dapat melihat secara langsung proses produksi, standar kualitas, hingga kemampuan kami. Kami berharap, kerja sama ini dapat berkembang menjadi kemitraan jangka panjang

Data perdagangan nonmigas

Perdagangan nonmigas antara Indonesia dan Arab Saudi menunjukkan aliran dagang yang signifikan, baik pada semester pertama 2026 maupun sepanjang 2025.

Periode Total Perdagangan Nonmigas (USD) Ekspor Indonesia (USD) Impor dari Saudi (USD) Surplus (USD)
Jan–Jun 2026 1,680,000,000 1,020,000,000 665,100,000 -
2025 3,940,000,000 - - 1,820,000,000

Angka-angka ini menegaskan bahwa Arab Saudi menjadi pasar potensial bagi produk manufaktur Indonesia, termasuk tekstil, dan mendorong upaya promosi serta pendampingan ekspor lebih intensif.

Ke depan, pihak Kemendag dan perwakilan perdagangan berharap kunjungan serupa dapat berlanjut untuk mengubah minat awal menjadi kontrak pasokan jangka panjang yang memberi manfaat bagi industri tekstil nasional.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait