BSN Targetkan 20% Produk Ber-SNI pada 2029
Jakarta — Badan Standardisasi Nasional (BSN) menargetkan peningkatan produk ber-SNI menjadi 20 persen pada 2029 sebagai bagian dari arahan RPJMN 2025–2029. Pernyataan ini disampaikan oleh Pelaksana Tugas Kepala BSN, Donny Purnomo Januardhi Effyandono, dalam rapat bersama Komisi VII DPR RI di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin, 15 Juni 2026. Tujuannya untuk memperkuat daya saing industri dan mendukung agenda hilirisasi.
Target capaian dan angka kunci
BSN mendapat mandat untuk meningkatkan persentase produk bersertifikat SNI. Target nasional dirancang untuk naik signifikan dalam empat tahun mendatang. Selain target produk domestik, ada juga target khusus untuk produk ekspor.
- Persentase produk ber-SNI: dari 10% (2025) naik menjadi 20% (2029).
- Produk ekspor ber-SNI: dari 3,3% (2025) menjadi 4,6% (2029).
- Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027: produk ber-SNI diharapkan naik dari 18,8% menjadi 19%.
- Target ekspor ber-SNI pada 2027: meningkat dari 3,7% menjadi 4%.
Program prioritas BSN 2027
Untuk mencapai target tersebut, BSN memfokuskan anggaran dan program pada beberapa bidang inti. Agenda ini meliputi pengembangan standar, penerapan standar, akreditasi, dan penguatan SNI di lapangan.
Program diarahkan mendukung prioritas nasional seperti hilirisasi industri berbasis sumber daya alam, swasembada pangan, kemandirian energi, serta pengembangan ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Pengembangan standar akan mencakup sektor strategis berikut:
- Agro
- Kimia
- Kesehatan
- Penilaian kesesuaian
- Mekanika
- Energi
- Infrastruktur
- Teknologi informasi
Dampak yang diharapkan
Donny menekankan bahwa peningkatan penerapan SNI tidak hanya soal angka, tetapi juga kualitas produk nasional di pasar global. Langkah ini diharapkan memperkuat posisi produk Indonesia dan membuka akses pasar ekspor yang lebih baik.
"BSN diamanahkan untuk meningkatkan persentase produk ber-SNI. Dari baseline tahun 2025 sebesar 10 persen menjadi 20 persen pada tahun 2029,"
Lebih jauh, program ini sejalan dengan target pemerintah untuk mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 8 persen, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan produktivitas sumber daya manusia.
Prospek dan tantangan
Implementasi target membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan lembaga penilai kesesuaian. Penguatan kapasitas laboratorium, akses pembiayaan untuk sertifikasi, serta sosialisasi standar kepada pelaku usaha kecil menjadi kunci pelaksanaan.
Dengan langkah terukur dan dukungan pemangku kepentingan, peningkatan produk ber-SNI diharapkan mendorong daya saing jangka panjang dan memperkuat ekspor nasional.
Berita Terkait
Komnas HAM: Program MBG Belum Fokus pada Pemenuhan Gizi
Komnas HAM menilai Program MBG masih fokus pada kuantitas penerima, bukan pemenuhan gizi, serta menyoroti le...
Indonesia dan Jerman Sepakati Konflik Diselesaikan Lewat Perundingan
Prabowo dan Steinmeier sepakat konflik global diselesaikan lewat perundingan; kunjungan Jerman di Jakarta pe...
KemenEKRAF Usulkan Tambahan Anggaran Rp1,73 T untuk 2027
KemenEKRAF mengusulkan tambahan anggaran Rp1,73 triliun untuk 2027 guna menutup kesenjangan pagu indikatif d...
Profil Frank-Walter Steinmeier: Presiden Jerman yang Kunjungi Indonesia
Presiden Jerman Frank-Walter Steinmeier mengunjungi Indonesia pada 15 Juni 2026 untuk memperkuat kerja sama...
Indonesia dan Jerman Sepakat Perkuat Kerja Sama Strategis
Prabowo dan Steinmeier sepakat memperkuat kerja sama ekonomi, investasi, energi, pendidikan, dan ketenagaker...
Kemenag Ajak Masyarakat Maknai 1 Muharam dengan Kepedulian
Kemenag mengajak masyarakat memaknai 1 Muharam 1448 H dengan memperkuat kepedulian sosial dan memanfaatkan r...