Polda Aceh Pecat Briptu MZ: PTDH atas Dugaan Perampokan Tapaktuan
Tapaktuan — Polda Aceh resmi menjatuhkan sanksi Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH) kepada Briptu MZ, anggota Polres Aceh Selatan, terkait dugaan perampokan Toko Emas Amin Setia di Kecamatan Tapaktuan pada 18 Juli 2026. Putusan etik dibacakan dalam Sidang Komisi Kode Etik Profesi Polri (KKEP) di Ruang Sidang Bidpropam Polda Aceh, Selasa (28/7).
Sidang Etik dan putusan
Sidang etik dimulai pada Jumat (24/7) dan berlangsung beberapa hari. Rangkaian persidangan meliputi pembacaan persangkaan, pemeriksaan saksi, pemeriksaan terduga pelanggar, pemeriksaan barang bukti, hingga pembacaan tuntutan pada Senin (27/7).
Majelis KKEP menyatakan Briptu MZ terbukti melakukan perbuatan tercela yang mencoreng nama institusi Polri, sehingga dijatuhkan sanksi administratif berupa PTDH.
“Komisi Kode Etik Polri menjatuhkan sanksi etik berupa pernyataan bahwa pelanggar telah melakukan perbuatan tercela dan sanksi administratif berupa Pemberhentian Tidak Dengan Hormat (PTDH),”
Bukti dan proses penyidikan
Polda Aceh menyatakan penetapan Briptu MZ sebagai tersangka didasarkan pada pengumpulan sejumlah alat bukti. Tim penyidik menelaah keterangan saksi, rekaman kamera pengawas (CCTV), barang bukti di lokasi, serta pengakuan tersangka.
Dalam laporan awal disebutkan tersangka diduga menggunakan senjata api organik milik Polri saat melakukan aksi.
- Keterangan saksi di lokasi kejadian
- Rekaman CCTV yang merekam peristiwa
- Barang bukti fisik yang ditemukan di TKP
- Pengakuan tersangka kepada penyidik
Proses penyidikan pidana masih berjalan dan ditangani oleh Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Aceh.
Pertimbangan etika dan aturan
Dalam pertimbangan, Komisi Kode Etik menilai tindakan Briptu MZ dilakukan secara sadar, sengaja, dan terencana. Perbuatan itu dinyatakan melanggar Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2003 tentang pemberhentian anggota Polri juncto Peraturan Kepolisian Nomor 7 Tahun 2022 tentang Kode Etik Profesi dan Komisi Kode Etik Polri.
Majelis menilai tindakan tersebut mencoreng citra institusi, menurunkan kepercayaan publik, merugikan korban, dan menimbulkan keresahan masyarakat.
Reaksi Polda Aceh dan langkah ke depan
Usai putusan, Briptu MZ menyatakan menerima hasil sidang dan tidak mengajukan banding. Polda Aceh menegaskan keputusan ini sebagai bukti ketegasan terhadap pelanggaran berat oleh anggota.
“Polda Aceh tidak akan mentoleransi setiap bentuk pelanggaran hukum maupun penyalahgunaan kewenangan yang dilakukan oleh anggota. Penegakan hukum yang tegas terhadap anggota yang melakukan pelanggaran merupakan bagian dari komitmen kami untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri,”
Polda Aceh menegaskan proses kode etik berjalan paralel dengan proses pidana. Penanganan kasus ini akan menentukan langkah hukum selanjutnya dan menjadi perhatian publik di Aceh Selatan.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Turunkan Bunga PNM Mekar menjadi 8% Flat per Tahun
Pemerintah menargetkan suku bunga PNM Mekar diturunkan menjadi 8% flat per tahun, didukung subsidi Rp2,6 tri...
Golkar Labura Terima SK Kepengurusan 2025–2030, Fokus Konsolidasi
DPD Golkar Labuhanbatu Utara menerima SK kepengurusan 2025–2030 dan menargetkan konsolidasi serta regenerasi...
Razia di Rutan Banda Aceh, Senjata Tajam dan Benda Terlarang Ditemukan
Razia gabungan di Rutan Kelas IIB Banda Aceh menemukan senjata tajam dan barang terlarang, namun tidak menem...
Wali Kota: Sabang Potensial Jadi Gerbang Ekonomi dan Hub Maritim
Wali Kota Sabang hadir di seminar IKAL Aceh dan sebut Sabang berpotensi jadi hub maritim serta butuh kepasti...
Reses DPRK Subulussalam: Warga Keluhkan Lampu Jalan, Usulkan BLK Kecamatan
Warga Penanggalan keluhkan lampu jalan padam, usulkan BLK kecamatan, air bersih, dan penambahan kursi DPRK p...
Tuntutan 3 Tahun untuk Dua PSK Terkait Pemerasan ASN BPN di Medan
Dua PSK, Fajar dan Junia, dituntut tiga tahun penjara atas pemerasan terhadap ASN BPN Nias, Apriaman Lase, y...