Ekonomi

BI Luncurkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM 2026

Bagikan:
Gubernur BI Perry Warjiyo mengumumkan program kewirausahaan UMKM terpadu di Gedung BI Pusat Jakarta

Bank Indonesia (BI) meluncurkan Program Transformasi Kewirausahaan UMKM Terpadu Tahun 2026 pada Senin, 22 Juni 2026 di Gedung BI Pusat, Jakarta. Program ini bertujuan memperkuat kemandirian ekonomi melalui pelatihan, praktek lapangan, sertifikasi, dan akses permodalan bagi UMKM.

Tujuan dan konteks

Peluncuran ini menjadi respons BI terhadap ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global yang memengaruhi ketahanan ekonomi nasional. BI menilai penguatan UMKM penting untuk menjaga stabilitas dan memperkuat ekonomi kerakyatan.

"BI melakukan pelatihan kewirausahaan terpadu dan pendirian UMKM maju. Sekaligus menciptakan lapangan kerja dan memperkuat ekonomi kerakyatan,"

Gubernur BI juga menekankan perlunya kemandirian di tengah ancaman konflik dan gangguan perdagangan internasional.

Skema pelatihan dan sertifikasi

Program ini berbeda dari pembinaan sebelumnya. BI memilih model terpadu: pelatihan intensif, praktek di unit usaha mapan, lalu evaluasi dan sertifikasi.

Rangkaian pelatihan berdurasi 2–2,5 bulan, dilanjutkan praktek selama dua bulan. Setelah evaluasi, pelaku UMKM yang lolos mendapatkan sertifikat dan akses permodalan untuk mengembangkan usaha.

Empat jalur program

BI menyiapkan empat program khusus yang dapat diikuti UMKM, terdiri dari dua program konvensional dan dua untuk pesantren:

  • Program Cangkir Barista — pelatihan barista berstandar internasional untuk mendukung rantai nilai kopi dan pemberdayaan petani kopi. Target: 400 barista bersertifikat internasional.
  • Citra Nusantara — pengembangan produk wastra Indonesia melalui inovasi produk dan peningkatan kapasitas usaha. BI menargetkan 50 inovasi wastra baru dari 500 peserta pada 2026.
  • Air Berkah Indonesia — program pesantren untuk pengembangan produk air dalam kemasan, menargetkan 200 pesantren tahun ini.
  • Tani Berkah — pelatihan wirausaha bertema green farming dan hidroponik untuk pesantren, dengan modul praktek dan evaluasi yang sama.

Sasaran dan capaian awal

Indonesia memiliki sekitar 65 juta UMKM, mayoritas berskala kecil dan banyak digerakkan oleh perempuan. BI juga telah membina sekitar 3.000 UMKM lewat 46 kantor perwakilan di seluruh Indonesia, termasuk pemberdayaan di 1.500 pesantren.

Dampak dan sinergi

BI menyatakan program ini dilaksanakan secara nasional dan bersinergi dengan kementerian serta asosiasi pesantren agar dampak ekonomi terasa lebih luas. Pendekatan terpadu diharapkan mempercepat naik kelas UMKM dan membuka lapangan kerja.

"Selanjutnya UMKM tersebut bisa mendapatkan fasilitas permodalan untuk mulai menjalankan usahanya,"

Dengan kombinasi pelatihan, praktek, sertifikasi, dan akses modal, BI berharap program ini mendorong pertumbuhan usaha yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait