DPRD Minta Tahan Diri soal Rencana Batalyon TP di Silo
Wakil Ketua DPRD Jember Widarto meminta semua pihak menahan diri dan mengutamakan dialog terkait rencana pembangunan Markas Batalyon Teritorial Pembangunan (TP) di Kecamatan Silo. Pernyataan itu disampaikan saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) DPRD, Rabu, 17 Juni 2026, yang menghadirkan perwakilan petani, mahasiswa, Kodim 0824 Jember, Perhutani, dan BPN.
Inti pertemuan dan langkah DPRD
RDP digelar untuk menampung aspirasi dari berbagai pihak dan mencari jalan penyelesaian bersama. Widarto menegaskan DPRD akan mendokumentasikan semua masukan dalam risalah resmi. Dokumen itu akan diteruskan ke pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan keputusan akhir.
"Kami memastikan seluruh aspirasi yang berkembang dalam forum ini dicatat dan diteruskan kepada pemerintah pusat sebagai bahan pertimbangan pengambilan keputusan,"
Aspirasi petani dan mahasiswa
Ratusan petani kawasan hutan bersama mahasiswa sempat melakukan aksi penolakan di Gedung DPRD. Mereka khawatir pembangunan markas batalyon akan mengurangi lahan garapan yang menjadi sumber penghidupan.
"Kami dari mahasiswa dan petani menolak Batalyon TP karena akan menggusur lahan pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat Desa Silo dan keluarganya,"
Ketua Gapoktan Tani Jaya Silo, Masis, menyampaikan bahwa petani telah mengelola kawasan hutan dengan KHDPK sejak 2019 berdasarkan izin kementerian terkait. Lahan sekitar 1.700 hektare itu menopang hidup 974 kepala keluarga. Informasi terakhir menyebut sekitar 55 hektare lahan garapan termasuk dalam rencana lokasi pembangunan, sehingga memicu protes.
"Kami berharap pembangunan batalyon dipindahkan ke lokasi lain yang tidak menimbulkan konflik,"
Status lokasi dan respons Kodim
Komandan Kodim 0824 Jember, Letkol Infanteri Rifqi Muhammad Syuhada, mengatakan lokasi di Kecamatan Silo merupakan salah satu dari tiga alternatif yang diajukan Perhutani kepada Kementerian Pertahanan. Namun, lokasi itu ternyata masih dimanfaatkan masyarakat sebagai lahan garapan.
"Sejak 23 Mei kami mendapat evaluasi. Untuk Jember sementara dihentikan, belum bisa membangun Batalyon TP karena masih ada persoalan yang belum terselesaikan,"
Dengan adanya temuan tersebut, rencana pembangunan di Jember masuk status evaluasi dan belum dilanjutkan sementara waktu.
Harapan DPRD dan prospek penyelesaian
DPRD Jember meminta semua pihak menjaga kondusivitas dan mengedepankan dialog. Widarto mengajak desa, petani, dan TNI untuk saling menahan diri karena hubungan kekeluargaan antarwarga masih terjaga. Forum diharapkan mendorong proses pengambilan keputusan yang transparan dan mempertimbangkan seluruh aspek di lapangan agar konflik bisa diminimalkan.
Keputusan akhir akan bergantung pada hasil evaluasi pemerintah pusat setelah mempertimbangkan risalah DPRD dan aspirasi masyarakat setempat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Tiga Pilar Cup Ngawi Dongkrak UMKM dan Dukung Persinga
Turnamen Tiga Pilar Cup Ngawi menarik penonton, memasuki babak delapan besar, dan menggerakkan UMKM serta du...
Surabaya Abaikan Desil sebagai Acuan Bansos, Verifikasi Dilakukan Langsung
Pemkot dan DPRD Surabaya sepakat desil tak lagi jadi patokan bansos; verifikasi dilakukan lewat forum RT ter...
Puan Atur Pertemuan Prabowo–Megawati Bersama PDIP dan Gerindra
Puan Maharani akan mengatur pertemuan lanjutan antara Prabowo dan Megawati bersama PDIP dan Gerindra usai ku...
Sumenep Gelar Turnamen Sepak Bola Antar-SD 1 Oktober 2026
Pemkab Sumenep menggelar turnamen sepak bola antar-SD pada 1 Oktober 2026 untuk memetakan talenta lokal dan...
Surabaya Tetapkan Prioritas RAPBD 2027: Pendidikan, Kesehatan, Rutilahu
Pemkot Surabaya prioritaskan pendidikan, kesehatan, dan Rutilahu dalam RAPBD 2027 senilai Rp12,825 triliun u...
Prabowo Datangi Rumah Megawati untuk Takziah Guruh
Presiden Prabowo mendatangi kediaman Megawati pada 28/9/2026 untuk menyampaikan takziah atas wafatnya Guruh,...