Barantin Gandeng FAO Perkuat Karantina Berbasis Risiko
Badan Karantina Indonesia (Barantin) bekerja sama dengan Food and Agriculture Organization (FAO) untuk memperkuat sistem karantina berbasis manajemen risiko. Kerja sama ini diumumkan di Jakarta pada Selasa, 7 Juli 2026. Tujuannya meningkatkan keamanan hayati dan mempercepat layanan karantina nasional.
Tujuan dan target kerja sama
Kepala Barantin, Abdul Kadir Karding, mengatakan fokus utama adalah membangun sistem karantina terintegrasi yang mampu menghadapi ancaman hama dan penyakit. Peta hama dan penyakit yang terkoneksi antarwilayah menjadi salah satu target strategis.
"Kita ingin memperkuat sistem karantina terutama berbasis manajemen risiko. Kita harapkan ada peta hama penyakit yang terintegrasi dan terkoneksi dengan seluruh sistem,"
Peningkatan kapasitas dan biosekuriti
Karding menjelaskan program bersama FAO juga menyasar penguatan sumber daya manusia di bidang karantina. Selain itu, pemerintah ingin membangun sistem biosekuriti nasional yang lebih komprehensif.
Langkah ini meliputi pelatihan teknis, peningkatan kemampuan pengawasan, dan pengembangan sistem digital untuk pertukaran data antarinstansi.
Layanan karantina dan perdagangan
Barantin menekankan bahwa peningkatan pengawasan harus berjalan seimbang dengan perbaikan kualitas layanan. Karantina berperan penting dalam mendukung kelancaran ekspor dan impor komoditas pertanian dan peternakan.
"Ujungnya kita ingin penanganan karantina tidak ribet dan tidak berbelit-belit. Pelayanannya harus efisien, cepat, transparan, dan murah,"
Karding menambahkan bahwa kecepatan layanan tidak boleh mengorbankan aspek keamanan komoditas. Sistem yang kuat diharapkan turut meningkatkan daya saing ekspor nasional.
Dukungan FAO dan pendekatan lintas sektor
Perwakilan FAO untuk Indonesia dan Timor-Leste, Rajendra Aryal, menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan sistem karantina. Ia mengingatkan bahwa penyakit hewan dapat mengguncang keamanan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
"Penyakit hewan berdampak terhadap keamanan pangan dan kehidupan masyarakat. Sekarang menjadi waktu untuk memperkuat sistem yang lebih terintegrasi,"
Rajendra menekankan perlunya kolaborasi antar kementerian dan lembaga. Menurutnya, ancaman terhadap sektor pertanian dan peternakan memerlukan pendekatan lintas sektor dan dukungan teknologi digital.
Implikasi dan langkah ke depan
Kerja sama Barantin-FAO membuka jalan bagi modernisasi pengawasan karantina di Indonesia. Jika terimplementasi, sistem berbasis risiko dan digital dapat mempercepat proses ekspor-impor sekaligus menurunkan risiko masuknya hama penyakit.
Keberhasilan program ini akan bergantung pada koordinasi antarinstansi dan konsistensi peningkatan kapasitas SDM serta infrastruktur digital.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Pemerintah Setujui RUU Pelindungan Ketenagakerjaan Disahkan
Pemerintah menyetujui RUU Pelindungan Ketenagakerjaan disahkan menjadi undang-undang pada Rapat Paripurna DP...
BGN Uji Sistem Prasmanan MBG di Kelas, Makanan Disajikan Hangat
BGN uji coba penyajian MBG secara prasmanan di kelas sejak 5 Oktober 2026 untuk menjaga makanan hangat dan m...
Airlangga Sebut Keunggulan Maung MV3 Garuda Limousine
Airlangga nilai Maung MV3 Garuda Limousine nyaman dengan kursi reclining, interior mewah, dan teknologi seta...
Hari Cerebral Palsy Sedunia 2026: Tema 'Unique and United' dan Sejarahnya
Hari Cerebral Palsy Sedunia diperingati 6 Oktober 2026 dengan tema Unique and United untuk dorong inklusi da...
MenPPPA Dorong Perlindungan Perempuan dalam RUU Ketenagakerjaan
MenPPPA Arifah Fauzi dorong penguatan perlindungan perempuan dan anak dalam RUU Ketenagakerjaan untuk cegah...
Pendaftar TKA 2026 Naik Hampir 10%, Capai 4,2 Juta
Pendaftar TKA 2026 naik hampir 10% menjadi 4,2 juta; 3,86 juta menyelesaikan pendaftaran. Tes digelar 26 Okt...