Lokal

Banjir Tapsel Anjlokkan Ekonomi, 3.200 Ha Sawah Rusak

Bagikan:
Banjir dan longsor di Tapanuli Selatan merusak sawah dan infrastruktur, mempengaruhi ekonomi lokal

Tapanuli Selatan, Sumut – Rentetan banjir, banjir bandang, dan longsor yang melanda Kabupaten Tapanuli Selatan (Tapsel) sejak November 2025 telah menghantam ekonomi daerah. Pertumbuhan ekonomi yang semula di atas 5 persen turun menjadi sekitar 2,4 persen pada akhir 2025. Pada triwulan pertama 2026 pertumbuhan mulai pulih ke 3,9 persen, namun belum kembali ke level sebelum bencana.

Dampak besar pada pertanian dan PDRB

Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu menyatakan sektor pertanian adalah yang paling terpukul. Sektor ini menyumbang sekitar 44 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Tapsel, sehingga kerusakan pertanian langsung menekan perekonomian.

Lebih dari 3.200 hektare sawah terdampak bencana atau hampir 30 persen dari total luas sawah di Tapsel. Pasti kemudian produksi kami menurun dan dampaknya lagi ke perekonomian, koreksinya sangat dalam

Pertumbuhan ekonomi Tapsel selama tiga bulan terakhir 2025 tercatat sekitar 2,4 persen setelah bencana pada 25 November 2025. Gus Irawan menambahkan bahwa pada triwulan pertama 2026 angka itu naik menjadi 3,9 persen, namun masih jauh di bawah rata-rata sebelum bencana.

Di 2026, triwulan pertama kita sudah bisa menaikkan pertumbuhan 3,9 persen. Tapi itu pun tidak terlalu memuaskan karena masih jauh di bawah rata-rata kami sebelum terjadi bencana

Kajian bentang alam Batang Toru sebagai dasar pemulihan

Dalam forum diseminasi hasil studi yang digelar Kementerian Kehutanan melalui BBKSDA Sumut bersama Universitas Indonesia dan I-SER UI di Medan pada Selasa (11/8), para ahli menekankan bahwa pemulihan harus mempertimbangkan karakter alam. Prof. Jatna Supriatna menyoroti pentingnya memasukkan data geologi dan topografi dalam perencanaan.

Pembangunan itu harus betul-betul sesuai dengan karakteristik geologi dan topografi. Ini yang harus dipahami betul-betul

Kajian memanfaatkan penginderaan jauh, termasuk Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), untuk memetakan perubahan tutupan vegetasi dan area terdampak. Data ini jadi dasar penentuan kawasan yang perlu dipulihkan dan kawasan yang sebaiknya tidak dibuka untuk pembangunan.

Konservasi orangutan Tapanuli dan peran masyarakat

Selain isu bencana, panel juga mengingatkan pentingnya menjaga Batang Toru sebagai habitat orangutan Tapanuli yang memiliki karakteristik genetik berbeda. Tekanan pada habitat berasal dari perubahan tutupan lahan, pembangunan infrastruktur, serta potensi kebakaran.

Tidak mungkin kita bisa konservasi hanya eksis di kawasan konservasi yang ada. Kalau masyarakatnya lapar, ya nanti akan ada gangguan lagi

Kepala BBKSDA Sumatera Utara menekankan bahwa konservasi harus berbasis penelitian jangka panjang dan keterlibatan berbagai pihak: masyarakat, peneliti, LSM, perusahaan, dan pemerintah.

Peluang pemulihan yang berkelanjutan

Para ahli mendorong model pemulihan yang mengintegrasikan rehabilitasi lingkungan dan penciptaan sumber pendapatan baru. Pendekatan yang disebut transformasi dari bencana menjadi peluang mencakup diversifikasi mata pencaharian dan mekanisme pembiayaan hijau.

  • Pengembangan hasil hutan bukan kayu seperti kopi, karet, dan kakao
  • Kredit karbon dan jasa ekosistem
  • Ekowisata yang terkelola
  • Pendanaan konservasi melalui trust fund, green bonds, dan sukuk hijau

Dengan menjaga bentang alam Batang Toru sekaligus membuka alternatif ekonomi bagi masyarakat, pembangunan pascabencana diharapkan tidak hanya mengembalikan kondisi semula, tetapi membangun ketahanan yang lebih baik terhadap risiko alam.

Sarah Kurniawati
Penulis
Sarah Kurniawati

Reporter ekonomi yang mengulas pasar, investasi, UMKM, serta kebijakan fiskal dan moneter.

Berita Terkait