Waspada Awan Cumulonimbus, 3 Wilayah Berpotensi Tinggi
BMKG memprakirakan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 8–14 September 2026. Tiga kawasan perairan di bagian barat diprediksi berstatus Frequent (FRQ), yang berarti cakupan spasial awan Cb dapat melebihi 75 persen dan berpotensi mempengaruhi aktivitas penerbangan serta kondisi cuaca setempat.
Wilayah dengan potensi tinggi (FRQ)
BMKG menunjuk tiga lokasi di perairan Indonesia bagian barat sebagai area berpotensi tinggi. Ketiga lokasi itu adalah Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Mentawai, Samudra Hindia sebelah barat Kepulauan Nias, serta Selat Malaka bagian utara. Di wilayah-wilayah ini, kemungkinan pembentukan awan Cb berskala luas lebih besar dibandingkan daerah lain.
Wilayah kategori Occasional (OCNL)
Selain FRQ, BMKG juga mengidentifikasi beberapa wilayah yang diprakirakan mengalami pertumbuhan awan Cb dalam kategori Occasional (OCNL). Kategori OCNL menunjukkan cakupan spasial maksimum awan Cb pada kisaran 50 hingga 75 persen.
Kategori ini menunjukkan cakupan spasial maksimum awan Cb berada pada kisaran 50 hingga 75 persen.
Di Pulau Sumatra, potensi OCNL diprakirakan terjadi di Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Di Kalimantan, wilayah yang dimonitor meliputi Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Di kawasan Papua, prediksi OCNL meliputi Papua, Papua Barat, Papua Barat Daya, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah.
Perairan yang berisiko
Beberapa perairan juga masuk kategori OCNL. Kawasan tersebut adalah:
- Laut Sulawesi bagian barat
- Samudra Hindia barat Aceh
- Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
- Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
- Samudra Pasifik utara Papua
- Samudra Pasifik utara Papua Barat Daya
- Selat Malaka bagian tengah
- Selat Malaka bagian utara
Mengapa informasi ini penting
BMKG menjelaskan bahwa pemantauan pertumbuhan awan Cb merupakan bagian dari produk prakiraan cuaca penerbangan. Informasi ini dibuat menggunakan model cuaca numerik untuk memberikan gambaran kemungkinan sebaran awan Cb di wilayah Indonesia selama tujuh hari ke depan.
Prakiraan bersifat dinamis dan dapat berubah seiring perkembangan kondisi atmosfer. Karena itu, BMKG mengimbau masyarakat, khususnya yang berada di wilayah berstatus FRQ dan OCNL, untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca dari instansi terkait.
Klasifikasi cakupan awan Cb
- Isolated (ISOL): cakupan awan Cb kurang dari 50 persen
- Occasional (OCNL): cakupan 50–75 persen
- Frequent (FRQ): cakupan lebih dari 75 persen
Warga dan pelaku penerbangan di wilayah terdampak disarankan menyiapkan mitigasi sederhana dan mengikuti arahan otoritas setempat jika kondisi cuaca memburuk.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mengapa Arah Abu Anak Krakatau Berubah-ubah
Ahli menjelaskan arah abu Anak Krakatau berubah karena kekuatan erupsi dan pola angin radial; kolom abu 6–15...
Respons Cepat Pemerintah, Realisasi Bantuan di NTT Perlu Dipercepat
Pemerintah pusat cepat merespons bencana NTT dan alokasikan Rp200 miliar, namun percepatan realisasi di daer...
Abu Anak Krakatau Bergerak ke Samudra Hindia, BMKG Peringatkan
BMKG: abu Anak Krakatau terdeteksi hingga 6.000 kaki dan bergerak ke Samudra Hindia, masyarakat diminta pant...
Prabowo Larang Semua Pembakaran Lahan, Termasuk Atas Nama Kearifan Lokal
Presiden Prabowo menginstruksikan penghentian seluruh pembakaran hutan dan lahan, termasuk praktik atas nama...
Mensos: Sanggahan Data Bansos Meningkat, Kanal Digital Dibuka
Mensos Saifullah Yusuf mengatakan sanggahan data penerima bansos meningkat 2026; pemerintah buka kanal digit...
BNPB: Tidak Ada Korban Jiwa Akibat Gempa Susulan di Flores
BNPB memastikan tidak ada korban jiwa tambahan akibat gempa susulan di Flores; tercatat 13.156 kejadian gemp...