Mengapa Arah Abu Anak Krakatau Berubah-ubah
Erupsi Gunung Anak Krakatau pada 8 September 2026 menghasilkan kolom abu setinggi 6–15 kilometer yang menyebar puluhan hingga ratusan kilometer. Ahli vulkanologi Danang Sri Hadmoko menjelaskan perubahan arah sebaran abu dipengaruhi oleh kekuatan erupsi dan pola angin saat itu.
Kekuatan erupsi dan tinggi kolom abu
Menurut Danang, magnitudo erupsi menentukan volume material dan ketinggian kolom abu. Semakin kuat erupsi, semakin banyak abu yang terangkat ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Ketinggian kolom ini lalu memengaruhi jarak dan durasi sebaran partikel vulkanik.
"Jadi ada beberapa faktor, yang pertama adalah magnitudo dari erupsi itu, kekuatan erupsi, simpelnya adalah kekuatan erupsi. Yang mana sangat menentukan volume abu yang dikeluarkan dan juga ketinggian, kemudian karena ketinggiannya."
Peran angin dan pergerakan radial
Selain kekuatan erupsi, arah dan kecepatan angin menentukan kemana abu bergerak. Danang menekankan bahwa pergerakan abu bersifat radial, sehingga dapat menyebar ke berbagai arah dengan persentase berbeda-beda.
"Faktor angin juga penting ketika terjadi erupsi. Pergerakannya itu kan radial. Pergerakannya ke segala arah, cuma persentase yang ke timur, ke barat, ke utara, ke selatan, dan seterusnya itu kan berbeda-beda."
Pergerakan ini dapat dipantau melalui citra satelit secara multitemporal, sehingga otoritas dapat memetakan arah dan cakupan sebaran abu secara berkala.
Sebaran menurut laporan BMKG
Data pengamatan menunjukkan ada beberapa lapisan kolom abu yang bergerak ke arah berbeda dan mencapai wilayah-wilayah jauh dari sumber erupsi. Berikut ringkasan sebaran berdasarkan ketinggian kolom:
| Tinggi kolom abu | Arah pergerakan | Wilayah terdampak |
|---|---|---|
| 6,09 km | Timur laut → Selatan | DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan perairan sekitarnya |
| 15 km | Barat daya → Barat laut | Banten, Lampung, Bengkulu, Selat Sunda bagian selatan, Samudra Hindia |
Dampak jangka panjang: pelajaran dari Kelud 2014
Studi pasca-letusan Gunung Kelud 2014 menunjukkan abu vulkanik dapat bertahan berbulan-bulan di atmosfer. Peneliti dari Laboratorium Fisika Atmosfer dan Antariksa (LASP), Universitas Colorado Boulder, mengamati partikel-partikel besar yang tetap melayang dalam lapisan atas atmosfer sebulan setelah letusan.
"Yang kami temukan dari letusan ini adalah abu vulkanik dapat bertahan dalam waktu lama. Mereka melihat beberapa partikel besar melayang di atmosfer sebulan setelah letusan, itu tampak seperti abu,"
Temuan tersebut mengingatkan bahwa sebaran abu tidak hanya berdampak jangka pendek pada kesehatan dan penerbangan, tetapi juga berpotensi memengaruhi kondisi atmosfer lebih lama.
Oleh karena itu, pemantauan satelit, prakiraan angin, dan peringatan dini tetap krusial untuk menginformasikan wilayah yang berisiko dan meminimalkan dampak, baik bagi transportasi udara maupun kesehatan masyarakat.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Mensos: Sanggahan Data Bansos Meningkat, Kanal Digital Dibuka
Mensos Saifullah Yusuf mengatakan sanggahan data penerima bansos meningkat 2026; pemerintah buka kanal digit...
BNPB: Tidak Ada Korban Jiwa Akibat Gempa Susulan di Flores
BNPB memastikan tidak ada korban jiwa tambahan akibat gempa susulan di Flores; tercatat 13.156 kejadian gemp...
BMKG: Air Laut Surut di Dekat Anak Krakatau Bukan Tanda Tsunami
BMKG memastikan air laut surut di dekat Anak Krakatau bukan bukti tsunami; pemantauan tide gauge dan seismik...
Anak Krakatau Erupsi Dua Kali dalam 26 Menit, PVMBG Catat Amplitudo
Anak Krakatau erupsi dua kali pada 8 Sep 2026 (05:08 & 05:34 WIB); PVMBG catat amplitudo 47 mm dan 44 mm, wa...
8 September: Hari Literasi, Pamong Praja, dan Terapi Fisik
Tanggal 8 September 2026 diperingati sebagai Hari Literasi Internasional, Hari Pamong Praja, dan Hari Terapi...
Yusril Tegaskan Hanya Narasumber Buku Islam ala Prabowo
Yusril menegaskan ia hanya narasumber dalam buku berjudul Islam ala Prabowo, tidak menulis atau menginisiasi...