Orang Tua Diminta Cermat Atur Asupan Gula Anak
Lia Amalia meluncurkan Kecap Manis Bumbu Bunda pada acara Kids Nutrition Talks di Jakarta sebagai jawaban atas kegelisahan orang tua soal gula dan natrium dalam bahan pelengkap masakan anak. Produk ini diklaim memiliki indeks glikemik rendah (Low Glycemic Index) dan kandungan gula serta natrium lebih rendah dibandingkan produk sejenis. Peluncuran sekaligus membuka diskusi tentang bagaimana bahan sehari-hari juga berkontribusi pada total asupan gula anak.
Lahir dari pengalaman orang tua
Lia menuturkan perubahan pola makan anaknya sebagai titik awal pengembangan produk. Saat anaknya berusia sekitar 15 bulan, ia tiba-tiba menolak hampir semua makanan yang disajikan. Setelah mencoba berbagai cara, Lia menemukan sedikit tambahan kecap manis membuat sang anak mau makan lagi.
Kegembiraan itu disertai kekhawatiran akan kandungan gula dan natrium pada produk yang beredar. Dari situ muncul gagasan untuk membuat kecap manis yang tetap disukai anak namun lebih ramah nutrisi.
"Saya senang anak kembali mau makan, tetapi di sisi lain saya khawatir dengan kandungan gula dan natriumnya. Dari situ muncul pertanyaan sederhana, apakah mungkin membuat kecap manis yang tetap enak tetapi lebih ramah untuk anak?"
Peran bahan pelengkap dalam asupan gula anak
Acara Kids Nutrition Talks menekankan bahwa perhatian terhadap gula anak selama ini kerap terfokus pada minuman manis dan camilan. Padahal, bahan pelengkap yang dipakai setiap hari, seperti kecap atau bumbu jadi, juga menyumbang tambahan gula dan natrium yang signifikan.
Para ahli meminta orang tua untuk tidak hanya memerhatikan seberapa banyak anak makan, tetapi juga kualitas bahan yang digunakan dalam menu harian mereka.
Saran dokter dan uji kualitas produk
Dokter Spesialis Anak dr. Miza Afrizal mengingatkan bahwa konsumsi gula dan garam berlebih dalam jangka panjang dapat menambah beban kerja organ tubuh, termasuk hati dan ginjal. Ia menyarankan orang tua lebih jeli membaca label nutrisi saat memilih produk.
Dokter Spesialis Gizi Klinik dr. Diana Suganda menambahkan bahwa pola makan anak terbentuk sejak dini dan perlu kesabaran dalam memperkenalkan makanan baru.
"Anak sering kali membutuhkan berkali-kali paparan terhadap makanan baru sebelum akhirnya menerima rasa tersebut. Karena itu, orang tua perlu terus memperkenalkan variasi makanan sehat tanpa menyerah terlalu cepat,"
Produsen mengklaim proses pengembangan melibatkan tenaga ahli dan pengujian laboratorium untuk memastikan keamanan dan kualitas sebelum produk dipasarkan.
Implikasi bagi orang tua
Kehadiran produk dengan informasi nutrisi yang lebih terbuka dianggap sebagai nilai tambah bagi sebagian orang tua. Bagi mereka, produk semacam ini memudahkan pengambilan keputusan dalam memilih bahan masak sehari-hari yang lebih sehat untuk anak.
Pada akhirnya, keputusan kecil di dapur—seperti memilih kecap dengan kandungan gula dan natrium lebih rendah—dapat menjadi langkah awal membangun kebiasaan makan sehat yang berdampak dalam jangka panjang.
Berita Terkait
BPOM Upayakan Harga Obat Stabil Meski Biaya Produksi Naik
BPOM menyatakan kenaikan biaya bahan baku petrokimia tekan harga obat; pemerintah beri kemudahan agar kenaik...
BPOM Ambil Alih Pengawasan Whip Pink, Tangani Penyalahgunaan N2O
BPOM menyatakan pengawasan pasca pemasaran Whip Pink resmi jadi kewenangan mulai 1 Juli, disertai penindakan...
BPOM Dorong Kebangkitan Jamu Lewat Riset dan Hilirisasi
BPOM mendorong kebangkitan jamu nasional lewat sosialisasi, riset, dan hilirisasi, yang diluncurkan pada Kic...
Kurkumin dan Sambiloto Jadi Andalan Indonesia di Pasar Herbal Dunia
BPOM dan akademisi sebut kurkumin, temulawak, dan sambiloto berpotensi jadi andalan herbal Indonesia, namun...
BPOM Dorong Ketahanan Obat dan Ekonomi lewat Pekan Jamu 2026
BPOM lewat Pekan Jamu 2026 dorong ketahanan obat dan ekonomi dengan sosialisasi, riset, dan kolaborasi ABG u...
Work-Life Balance: Cara Menjaga Keseimbangan Sehari-hari
Pahami konsep work-life balance dan praktik mudah untuk membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan pribadi...