Kemenkes Percepat Robotika Kesehatan untuk Rehabilitasi Stroke
Kementerian Kesehatan mempercepat pengembangan robotika kesehatan untuk memperkuat layanan rehabilitasi pasien stroke. Pengumuman itu disampaikan di Jakarta pada Jumat, 5 Juni 2026, sebagai bagian dari upaya menjawab peningkatan angka kematian dan disabilitas akibat stroke.
Alasan percepatan teknologi
Direktur Jenderal Sumber Daya Manusia Kesehatan (SDMK) Kemenkes, dr. Yuli Farianti, menilai teknologi robotik dapat meningkatkan efektivitas rehabilitasi jangka panjang bagi penyintas stroke. Ia menegaskan teknologi bukan untuk menggantikan tenaga kesehatan, melainkan memperkuat kapasitas layanan.
"Robot tidak hadir untuk menggantikan tenaga kesehatan. Sebaliknya, teknologi ini dirancang untuk memperkuat kapasitas dan mendukung kinerja tenaga kesehatan agar dapat memberikan pelayanan yang lebih efektif, presisi, dan berkelanjutan kepada pasien."
Data beban stroke dan kebutuhan rehabilitasi
Yuli menyebut stroke masih menjadi tantangan besar. Pada 2023 tercatat sekitar 3,9 juta penyintas, lebih dari 337 ribu kematian, dan berkontribusi terhadap 6,5 persen beban disabilitas global akibat stroke. Angka-angka itu mendorong Kemenkes untuk menempatkan rehabilitasi sebagai layanan yang esensial.
Permintaan layanan juga tercermin dari lonjakan klaim pembiayaan. Klaim terkait stroke naik dari Rp2,7 triliun menjadi Rp5,6 triliun dalam satu tahun terakhir, menunjukkan tekanan besar pada sistem pembiayaan kesehatan.
Rencana kebijakan dan kolaborasi
Untuk mempercepat adopsi, Kemenkes tengah membentuk Komite Nasional Robotika Kesehatan dan menyiapkan fondasi pusat pelatihan serta layanan. Langkah ini melibatkan kolaborasi antara perguruan tinggi, rumah sakit, dan industri teknologi.
Selain itu, kementerian sedang menyusun kerangka regulasi yang mendukung inovasi, termasuk pengembangan telesurgery berbasis robotik dan upaya memperkuat ekosistem teknologi medis dalam negeri.
"Masa depan neurorehabilitasi ditentukan kemajuan teknologi serta kekuatan kolaborasi melalui ilmu pengetahuan, inovasi, dan kemitraan. Dengan itu, lebih banyak masyarakat Indonesia dapat memulihkan fungsi, memperoleh kemandirian, serta membangun harapan baru,"
Dampak dan prospek
Penerapan robotika diharapkan mempercepat proses pemulihan, meningkatkan presisi intervensi rehabilitasi, serta mengurangi beban kerja tenaga kesehatan. Jika berhasil, inovasi ini dapat memperluas akses rehabilitasi berkualitas ke wilayah yang selama ini kekurangan layanan.
Ke depan, implementasi akan bergantung pada kesiapan regulasi, pelatihan tenaga kesehatan, dan kemitraan lintas sektor untuk memastikan teknologi aman, terjangkau, dan sesuai kebutuhan pasien.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Diabetes Tak Terdeteksi, Ancaman Diam bagi Masyarakat
Sekitar 73% penderita diabetes di Indonesia tidak menyadari kondisinya; 20 juta terjangkit dan angka diperki...
Pentingnya Sarapan Pagi: Manfaat untuk Energi dan Konsentrasi
Sarapan pagi memberi energi, meningkatkan konsentrasi, dan mendukung metabolisme. Pilih menu seimbang untuk...
PCOS Resmi Berganti Nama Jadi PMOS: Kenali Gejala dan Penyebab
PCOS resmi berubah nama menjadi PMOS (12 Mei 2026). Ketahui gejala, penyebab, dan langkah pencegahan seperti...
Cuaca Buruk: 27.308 Balita di Bekasi Terserang Batuk 2026
Dinas Kesehatan Bekasi mencatat 27.308 balita terserang batuk sepanjang 2026; cuaca buruk dan infeksi menjad...
Tren Gaya Hidup Sehat Meningkat: Alasan dan Aktivitas Populer
Gaya hidup sehat kian populer—didorong olahraga singkat, kelas kebugaran, dan pilihan makanan clean food yan...
Menkes Targetkan Penyerapan Anggaran Kemenkes di Atas 95%
Menkes Budi Gunadi menargetkan penyerapan anggaran Kemenkes di atas 95% dengan perbaikan tata kelola dan per...