Argentina Balikkan Keadaan, Tundukkan Inggris 2-1 di Semifinal
Argentina mengalahkan Inggris 2-1 pada pertandingan semifinal Piala Dunia setelah membalikkan keadaan lewat gol Enzo Fernández dan Lautaro Martínez. Inggris sempat unggul 1-0, tetapi tekanan Argentina di babak kedua membalik hasil dan memastikan tiket final.
Babak kedua berubah menjadi pengepungan
Usai kebobolan lebih dulu, Argentina meningkatkan intensitas serangan. Bola lebih sering beredar di sekitar kotak penalti Inggris dan setiap serangan direspon dengan gelombang serangan berikutnya. Dari sisi kiri, kanan, dan tengah, tim asuhan Lionel Scaloni menekan tanpa henti.
Para pemain seperti Lionel Messi, Alexis Mac Allister, dan Enzo Fernández menjadi pengendali ritme. Messi terus mencari celah, sementara Mac Allister dan Enzo menjaga denyut permainan sehingga Inggris kesulitan keluar dari tekanan.
Momen penentu
Inggris sempat bertahan berharap perpanjangan waktu, namun Argentina membalikkan keadaan pada menit-menit akhir. Enzo Fernández menyamakan skor pada menit ke-85, membuka peluang lebih lebar bagi serangan lanjutan. Momentum itu kemudian berlanjut.
Pada menit ke-92, Messi melihat ruang yang tidak nampak bagi banyak orang dan mengirim umpan yang diselesaikan oleh Lautaro Martínez. Gol itu menjadi penentu — tidak ada perpanjangan waktu atau adu penalti; peluit akhir berbunyi menutup kemenangan 2-1 bagi Argentina.
Taktik, kedewasaan, dan regenerasi
Kemenangan ini menonjolkan kedewasaan taktik Argentina. Mereka tidak panik saat tertinggal atau mengubah permainan menjadi serampangan. Sebaliknya, mereka memperkuat tekanan, mempercepat sirkulasi bola, dan memaksa lawan mundur semakin dalam.
Scaloni berhasil membangun tim yang masih memanfaatkan kehebatan Messi, tetapi tidak bergantung sepenuhnya padanya. Sosok-sosok seperti Enzo Fernández, Mac Allister, Julián Álvarez, dan Lautaro menunjukkan bahwa generasi baru berjalan bersama legenda, bukan di belakangnya.
Rivalitas dan konteks sejarah
Pertandingan ini juga berlapis makna karena hubungan sejarah antara kedua negara. Di antara mereka pernah ada Perang Malvinas, luka pada 1982, serta momen-momen sepak bola yang menyisakan perdebatan panjang seperti insiden Maradona pada 1986. Sejarah tersebut menambah intensitas persaingan setiap kali kedua tim bertemu.
Kemenangan datang kepada mereka yang tidak kehilangan kepala ketika tertinggal.
Arah ke final
Dengan hasil ini, Argentina melaju ke final untuk menghadapi Spanyol. Lionel Messi, yang kini berusia 39 tahun, kemungkinan besar akan mengakhiri kiprahnya di Piala Dunia pada momen ini. Malam itu memperlihatkan bahwa kemenangan bisa lahir dari ketenangan, tekanan yang konsisten, dan kerja tim yang matang.
Jurnalis politik dengan fokus pada dinamika partai, kebijakan publik, dan agenda pemerintahan.
Berita Terkait
DPRD Dorong Ekowisata Kota Batu untuk Manfaat Lokal dan Lingkungan
Saifudin Zuhri mendorong ekowisata berbasis desa di Kota Batu agar manfaat ekonomi menyebar tanpa merusak li...
PDI Perjuangan Surabaya Terapkan Regenerasi Ranting Secara Bottom-up
PDI Perjuangan Surabaya gelar regenerasi ranting bottom-up, melibatkan minimal empat kader Gen Z dalam tiap...
DPRD Jember Mendesak Solusi Pasca Kebakaran TPA Pakusari
DPRD Jember mendesak Pemkab percepat PLTSa, kerja sama RDF, dan langkah darurat setelah kebakaran TPA Pakusa...
DPRD Minta Pemda Trenggalek Tingkatkan PAD Secara Kreatif 2027
DPRD Trenggalek minta peningkatan PAD kreatif tanpa membebani warga, sambil memperbaiki tata kelola dan pend...
Ngawi Gelar Gerakan Pangan Murah untuk Kendalikan Inflasi
Pemkab Ngawi menggelar Gerakan Pangan Murah di Alun-alun Merdeka pada 15 Juli 2026 untuk menstabilkan harga...
PDI Perjuangan Magetan Gelar Musran dan Musanran Mulai 14 Juli 2026
PDI Perjuangan Magetan mulai gelar Musran dan Musanran 14 Juli 2026 untuk memperkuat struktur hingga tingkat...