APINDO: Penerapan AI Harus Berorientasi People-Center
Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) menegaskan penerapan kecerdasan buatan (AI) di dunia kerja Indonesia harus mengedepankan pendekatan people center. Pernyataan ini disampaikan pada Rabu, 29 Juli 2026, dengan tujuan memastikan teknologi menjadi alat pendukung pekerja, bukan pengganti. APINDO menekankan keterlibatan pekerja dan pengenalan bertahap untuk mencegah resistensi dan memudahkan adaptasi.
Pendekatan people-center menurut APINDO
Wakil Ketua APINDO Bidang Ketenagakerjaan, Bob Azam, menyoroti pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat transformasi teknologi. Ia memperingatkan risiko apabila penerapan AI dilakukan tanpa melibatkan kesiapan pekerja.
AI diharapkan menjadi alat pendukung bagi pekerja, bukan menggantikan sepenuhnya peran manusia dalam dunia kerja. Penerapan AI tanpa melibatkan kesiapan pekerja dinilai dapat memunculkan resistensi.
Menurut Bob Azam, memastikan pekerja ikut dalam proses transformasi adalah langkah krusial agar penerapan AI berjalan lancar dan produktif.
Model pelatihan: reskilling, upskilling, dan short course
APINDO mendorong program peningkatan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan industri. Reskilling dan upskilling disebut sebagai elemen utama untuk menjaga daya saing tenaga kerja di tengah perubahan pola kerja.
Organisasi itu juga menilai pelatihan formal berdurasi panjang tidak lagi cukup. Diperlukan model pelatihan yang lebih fleksibel, seperti short course atau pelatihan singkat, agar keterampilan baru cepat terimplementasi di lapangan.
Pembiayaan transformasi keterampilan
APINDO mengingatkan bahwa pengembangan SDM digital membutuhkan investasi lebih besar dibandingkan pola pelatihan konvensional. Kebutuhan pembiayaan ini menjadi perhatian penting dalam perencanaan transformasi.
Oleh karena itu, dukungan pendanaan dari berbagai pihak dinilai perlu untuk mempercepat proses reskilling dan upskilling serta memastikan program pelatihan dapat diakses luas.
Implikasi dan langkah ke depan
Secara ringkas, APINDO menekankan bahwa penerapan AI yang sukses bergantung pada strategi manusia-sentris, pelatihan yang adaptif, dan pembiayaan yang memadai. Tanpa ketiga elemen ini, potensi resistensi dan kesenjangan keterampilan akan meningkat.
Ke depan, kolaborasi antara pengusaha, pemerintah, dan penyedia pelatihan diperlukan untuk menyusun program yang tepat sasaran. Dengan pendekatan bertahap dan keterlibatan aktif pekerja, AI dapat berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan produktivitas sekaligus mempertahankan peran manusia di dunia kerja.
Redaktur Nasional yang fokus meliput isu pemerintahan, hukum, dan perkembangan sosial di Indonesia.
Berita Terkait
Kongres Kebudayaan Nusantara 2026 Digelar 8 Agustus di Malang
HPK menggelar Kongres Kebudayaan Nusantara 8 Agustus 2026 di Malang untuk merumuskan arah pemajuan kebudayaa...
KPPU: AI Harus Perluas Manfaat Informasi tanpa Menggerus Media
Ketua KPPU: AI harus memperluas manfaat informasi tanpa menggerus keberlanjutan media; kerja sama KPPU–KTP2J...
Faura Ghaisan Lulus IPDN, Teruskan Cita-cita Ayah
Faura Ghaisan, purna praja asal Lampung, lulus IPDN dan melanjutkan cita-cita ayahnya usai pelantikan 29 Jul...
Anak Buruh Bangunan Aji Bayu Jadi Lulusan Terbaik IPDN
Aji Bayu Ramadhan, putra buruh bangunan asal NTT, dinobatkan lulusan terbaik IPDN Angkatan XXXIII 2026 denga...
Menekraf: Kolaborasi Perkuat Ekosistem Ekonomi Kreatif Digital
Menkeraf dorong kolaborasi dengan platform digital untuk perkuat ekosistem ekonomi kreatif digital dan perlu...
Doa Ibu Antarkan Faza Albana, Purna Praja IPDN Asal Aceh
Doa dan dukungan ibu Chamisah membantu Faza Albana menuntaskan pendidikan IPDN; momen haru terjadi saat Faza...