Apem Jatinom Laris Saat Grebeg Saparan, UMKM Raup Omzet 2–3 Kali Lipat
Grebeg Saparan Yaa Qowiyyu di Jatinom, Klaten, pada akhir Juli 2026 meningkatkan omzet pedagang kue apem lokal hingga dua sampai tiga kali lipat. Perayaan budaya ini dimanfaatkan pedagang tetap dan dadakan untuk menjual apem, sementara panitia membagikan ribuan kue kepada warga dan perantau.
Lonjakan penjualan apem
Pedagang apem di kawasan Jatinom melaporkan kenaikan penjualan signifikan saat puncak tradisi. Kue apem yang biasa menjadi sajian ziarah kini juga laku keras untuk dibawa pulang oleh perantau yang kembali berkunjung.
Salah satu penjual, Tri Handayani, menyebutkan peningkatan penjualan dalam dua hari pelaksanaan acara.
"Alhamdulillah, ada peningkatan penjualan. Selama dua hari kemarin bisa menjual 12 kilogram sampai 18 kilogram. Kalau hari biasa paling hanya 3 kilogram, dan kalau pas ramai sekitar 7 kilogram," ujar Tri, Jumat 31 Juli 2026.
Data penjualan itu menunjukkan kenaikan hingga 2–3 kali lipat dibanding hari biasa. Kenaikan ini tidak hanya dirasakan penjual tetap, tetapi juga pedagang musiman yang membuka lapak saat acara.
Asal donasi dan distribusi apem
Puncak prosesi tradisi Grebeg Saparan Yaa Qowiyyu diisi dengan pembagian kue apem kepada masyarakat. Panitia mencatat pembagian mencapai 60 ribu buah apem dari sumbangan warga.
Menariknya, donasi apem tidak hanya berasal dari warga lokal. Para perantau yang tinggal di berbagai daerah di Indonesia bahkan luar negeri ikut mengirimkan sumbangan.
- Asal donasi: Soloraya, Kalimantan, Bangka Belitung, hingga Brunei Darussalam.
- Fungsi distribusi: untuk warga umum, tamu ziarah, dan peserta prosesi.
Dampak ekonomi dan sosial pada UMKM
Organisasi pelestari tradisi menilai perayaan ini memberi dampak berganda. Selain meningkatkan pendapatan UMKM, acara juga memperkuat ikatan sosial antarwarga.
"Adanya Grebeg Saparan Yaa Qowiyyu dapat meningkatkan perekonomian masyarakat melalui UMKM, sekaligus memperkuat tali kerukunan dan kebersamaan warga," kata KRT Mohammad Daryanto Rekso Hastonodipuro.
Momentum bulan Saparan dan Ruwah kerap dimanfaatkan perantau untuk pulang kampung. Kunjungan ziarah ke makam Ki Ageng Gribig turut mendorong permintaan apem sebagai oleh-oleh dan sajian tradisi.
Prospek ke depan
Dengan tingginya permintaan saat ritual, pelaku UMKM setempat berpeluang meningkatkan produksi dan menjajaki pasar lebih luas. Dukungan logistik dan promosi yang lebih terorganisir dapat membuat keuntungan ekonomi dari tradisi ini lebih berkelanjutan.
Perpaduan nilai budaya dan peluang usaha menjadi modal agar tradisi tetap lestari sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat Jatinom.
Analis bisnis yang mengulas perkembangan industri, korporasi, dan peluang investasi.
Berita Terkait
Bunga Utang Capai Rp394,1 T, APBN Agustus 2026 Defisit
Pembayaran bunga utang mencapai Rp394,1 triliun hingga Agustus 2026, membuat APBN tercatat defisit Rp240,1 t...
Pembiayaan Utang Capai Rp506 T hingga Agustus 2026
Realisasi pembiayaan utang neto Rp506 triliun hingga 31 Agustus 2026, setara 60,8% dari target APBN 2026; SB...
IHSG Melemah 0,33% ke 6.441,15 pada Penutupan Jumat
IHSG turun 0,33% ke 6.441,15 pada penutupan Jumat; volume 32,6 miliar saham dan nilai transaksi Rp19,2 trili...
Penerbitan SBN 2026 Tetap Sesuai Rencana, Defisit APBN 2,85%
Kemenkeu: penerbitan SBN hingga akhir 2026 on track untuk penuhi pembiayaan dan jaga outlook defisit APBN 2,...
Sharp Indonesia Raih Dua Penghargaan PR Pilihan Jurnalis 2026
Sharp Indonesia dan Andry Adi Utomo meraih dua penghargaan Journalists’ Choice di Indonesia PR of the Year 2...
AXA dirikan AXA Sharia Life untuk perluas proteksi syariah
AXA mendirikan AXA Sharia Life Insurance dan mendapat izin OJK untuk memperkuat layanan asuransi syariah di...